Home / Headline / Jembatan Darurat Asal Jadi, Tidak Perhatikan Keselamatan

Jembatan Darurat Asal Jadi, Tidak Perhatikan Keselamatan

Inderalaya, BP–Miris, jembatan darurat yang dibangun pemborong bukannya membuat warga nyaman melintasinya, malah khawatir, takut ambruk.

Hal ini diabaikan kontraktor yang mengerjakan proyek rehab jembatan Desa Tanjung Dayang, Kecamatan Inderalaya Selatan, Kabupaten Ogan Ilir (OI) yang menghubungkan Desa Tanjung Daya Utara dan Desa Tanjung Dayang Selatan, Kecamatan Indralaya Selatan yang nilainya berkisar Rp2,8 miliar.

Pantauan BeritaPagi, jembatan darurat yang panjangnya lebih kurang 40 meter dan lebar lebih kurang 1,5 meter ini hanya bertiang kayu racuk yang sangat kecil sekali ukurannya, dan menggunakan lantai plat besi eks jembatan lama.

Baca:  Sepi, Anggota Dewan OI Tak Hadiri Sidang Istimewa IV

Kekecewaan warga sangat mendalam dikarenakan jembatan ini merupakan urat nadi akses pelintasan warga untuk melakukan aktivitas sehari-sehari, bahkan jembatan ini merupakan akses menuju perkebunan karet.

Warga desa setempat, Bambang, mengatakan mata pencarian warga Desa Tanjung Dayang Utara dan Desa Tanjung Dayang Selatan selain pandai besi, juga berkebun karet. Setiap dua minggu sekali mereka melakukan penjualan hasil kebun karet yang mencapai ratusan ton, tentunya dengan pembuatan jembatan darurat yang tak nyaman ini sangat merugikan masyarakat, apalagi tidak bisa di lalui mobil.

“Tidak masuk akal, kan nilai proyek mereka itu cukup besar, masak bikin jembatan ala kadar seperti ini. jembatan daruratnya abal abal kita khawatir saat melintas ambruk,” keluh Bambang.

Baca:  Sopir Ponton Pasir, Tabrak Tiang Jembatan

Hal seirama disampaikan Taufik, warga Tanjung Dayang Selatan. Ia mengatakan, masyarakat di sini rata-rata bertani karet, otomatis hasil tersebut mau dijual ke luar. “Kalau macam ini, bagaimana mau keluar, jangankan roda empat, roda dua saja tidak bisa keluar masuk. Apalagi, hasil bumi macam karet ini harus dibawa dengan truk,” ujarnya kemarin

Akibatnya terpaksa sebagian petani tidak menjual hasil buminya untuk sementara waktu, dan sebagian diangkut dengan perahu untuk menyeberangkannya. “Ini mengeluarkan biaya lagi. Harga karet sudah jatuh ditambah, ongkos yang besar. Intinya petani karet di Tanjung Dayang Selatan saat ini sedang menjerit,”jelasnya.

Baca:  Pejabat PMD OI Tertangkap Terima Suap Dana Desa

Terpisah, Kades Tanjung Dayang Selatan Hadian Burdani mengaku bahwa jembatan darurat yang dibangun tersebut disoal warga. “Intinya warga minta bangunkan jembatan darurat yang cukup layaklah, biar hasil bumi warga bisa dijual. saya juga heran proyek miliaran, tapi buat jembatan daruratnya begini. sangat miris,” katanya.

Sementara itu Kadis PUPR Hari Muhsin Abdullah belum bisa dikonfirmasi. #hen

x

Jangan Lewatkan

Alex Noerdin Melaunching Program S2C

Palembang, BP—Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin resmi melaunching program Sumsel Smart and Care (S2C). S2C merupakan inovasi proyek perubahan ...