Home / Headline / Permasalahan ‘Stunting’ Mengancam Anak Bangsa

Permasalahan ‘Stunting’ Mengancam Anak Bangsa

STUNTING: Leadher IMA World M Ridwan Hasan saat memberikan materi pada orientasi jurnalis keterpaduan dan peran media Gerakan Kampanye Gizi Nasional (GKN) di Swarna Dwipa Palembang, Selasa (03/10). Foto: BP/SUGIARTO

Palembang, BP– Tak bisa dipungkiri bahwa berdasarkan data dari IMA World Health bahwa hampir 9 juta atau lebih dari 1/3 balita Indonesia mengalami stunting atau kondisi dimana balita tumbuh lebih pendek dari standar tingga pada seumurnya.

Baca:  Cegah Stanting Libatkan Tokoh Agama dan Masyarakat

Persoalan ini lah yang mengemuka dalam workshop orientasi jurnalis keterpaduan dan peran media Gerakan Kampanye Gizi Nasional (GKN) yang dilaksanakan oleh Forum Kajian Jurnalisme Sumatera Selatan (FKJS)  di Swarna Dwipa Palembang, Selasa (03/10).

Pasalnya, jika ini dibiarkan terus menerus maka stunting akan berdampak pada kecerdasan dewasa kelak sehingga mengganggu prestasi dan bahkan sampai mengganggu produktivitas pendapatan melalui profesi masing-masing.

Baca:  Pemred di Palembang Ikut Gathering Gerakan Kampanye Gizi Nasional

Hadir sebagai nara sumber M Ridwan Hasan, Leadher dari IMA World Health, Feri dari perwakilan Dinas Kesehatan Sumsel dan Imam Handoko selaku konsultan media.

“Ini adalah salah satu masalah yang mengancam bangsa, karena kondisi stunting akan berdampak pada saat mereka dewasa baik secara produktifitas pendapatan maupun lemahnya kesehatan,” ujar M Ridwan Hasan.

Lanjut dia, kondisi stunting yang menahun biasanya menyerang organ vital mulai dari otak, jantung dan juga pancreas. Banyak penilitian bahwa IQ anak yang stunting akan lebih rendah dari pada bayi yang awalnya tumbuh standar.

Baca:  Fenomena Stanting di Pulau Lebar Daun

Sebagai referensi bahwa para ahli meneliti bahwa jalan hidup dari bayi sampai dewasa ditemukan bahwa pendapatan orang yang bayinya mengalami stunting 20 persen lebih kecil dari pada yang bayinya tumbuh standar.

“Akibat lain adalah daya tahan tubuhnya sakit atau lemah seperti jantung, obesitas, tekanan darah tinggi dan ini menjadi beban ekonomi negara. Akibatnya BPJS kita terus meningkat hingga Rp7 triliun,”pungkasnya. #sug

 

x

Jangan Lewatkan

Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Peninggalan Belanda di Kota Palembang

Oleh : Farida Wargadalem (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)   PENDAHULUAN Palembang adalah salah satu kota ...