Home / Budaya / Perbaikan Makam Tak Disetujui

Perbaikan Makam Tak Disetujui

Salah satu makam bersejarah di Palembang.

Palembang, BP — Keinginan untuk memperbaiki makam-makam bersejarah belum dapat terwujud. Pasalnya, dana perbaikan makam yang diajukan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) sebesar Rp150 juta tidak disetujui.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sudirman Tegoeh mengatakan, BPBD-P telah disetujui DPRD Kota Palembang beberapa waktu lalu kecuali Anggaran Belanja Tambahan (ABT) yang diajukan oleh Dinas Kebudayaan Kota Palembang untuk perbaikan makam bersejarah.

“Kita sudah mengajukan, tidak besar nilainya hanya Rp150 juta, tetapi tidak setujui, kemungkinan menurut penilaian Bappeda dan tim anggaran perbaikan makam ini dianggap tidak prioritas,” katanya, Senin (2/10).

Baca:  Tari Mapak Plembang Darussalam, Jadi Tari Sambut Kota Palembang

Perbaikan makam yang direncanakan terlebih dahulu ini diutamakan tiga makam yang berkaitan langsung dengan berdirinya Palembang Darussalam. “Rencananya itu tiga makam di 2017 yang ingin kita perbaiki, yakni Pembayun, Madi Angsoko, dan Kironggo Wiro Santiko. Ketiganya sangat berkaitan dengan Palembang Darussalam,” jelasnya.

Ia mengatakan, karena tidak mendapat dana dari ABT, maka pihaknya meminta kesediaan pihak ketiga untuk berpartisipasi. Sebab, hal ini untuk selain untuk menunjang Asian Games juga agar para peziarah merasa nyaman. “Ya jadi sampai sekarang belum ada perbaikan makam, dana itu jadi kesulitan kita,” terangnya.

Baca:  Kisah Hj Anna Kumari yang Terus Lestarikan Tradisi Rebu Kasan di Kota Palembang

Beberapa waktu lalu, pihaknya sudah menginvetarisir 15 makam yang didominasi oleh makam para tokoh Kesultanan Palembang Darussalam. Diantaranya Makam Pangeran Keramajaya, Mandi Angsoko, Kawah Tengkurep, Ratu Sinuhun, Bagus Kuning, Pembayun, Ario Dhamar, Ki Gede Ingsuro, Cinde Welan, dan makam Mandi Alit di Charitas.

“Menjaga kelestarian para leluhur kita di masa dulu memang merupakan tugas pemerintah diantaranya melakukan revitalisasi, tetapi masyarakat pun harus punya peran dalam menjaganya,” katanya.

Baca:  Kisah Kolam Pemandian Putri Sultan Palembang Dalam BKB Yang Ditimbun Belanda

Beberapa waktu lalu Walikota Palembang Harnojoyo mengatakan, sebagai identitas Kota Palembang makam-makam bersejarah ini perlu diperhatikan dan itu semua menjadi tanggung jawab bukan hanya pemerintah tapi juga dibutuhkan peran serta dari masyarakat. Jangan sampai makam-makam ini dibiarkan begitu saja tanpa adanya perhatian dan perawatan dari pemerintah.

“Kalau dibiarkan begitu saja, lama-lama Palembang tidak akan punya sejarah karena identitas yang menunjukkan sejarah Palembang sudah hilang,” katanya. #pit

x

Jangan Lewatkan

Berkibarnya Bendera Rod, Wit, En Blau Di Bastion Kuto Besak

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode (1803-1813, 1818-1821), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Muhammad ...