Home / Headline / Kiprah Seniman Anna Kumari Di Malam 54 Tahun Sanggar Anna Kumari Berkarya

Kiprah Seniman Anna Kumari Di Malam 54 Tahun Sanggar Anna Kumari Berkarya

Palembang, BP

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana acara Malam 54 Tahun Sanggar Anna Kumari Berkarya dalam Kemilau Budaya

Provinsi Sumatera Selatan merupakan provinsi yang kaya akan ragam seni budaya seperti tari, musik dan teater tradisional. Misalnya saja, dari beberapa sanggar seni yang ada di Sumsel seperti Sanggar Anna Kumari yang merupakan salah satu sanggar seni yang komit terhadap pelestarian seni budaya Palembang. Terbukti dengan kiprahnya dalam pelestarian seni budaya Palembang sudah 54 tahun lamanya.
Sehingga di gelar acara Malam 54 Tahun Sanggar Anna Kumari Berkarya dalam Kemilau Budaya Palembang Sumatera Selatan 2017 di Griya Agung, Sabtu (23/9).

Turut hadir Ketua TP PKK Sumsel Hj Eliza Alex Noerdin dan para undangan.

Anna Kumari mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sumsel Alex Noerdin dan juga Hj Eliza Alex Noerdin yang sudah mendedikasi kegiatan ini.
Di samping itu, Anna juga menyampikan terima kasih kepada para alumni Sanggar Anna Kumari dari berbagai daerah seperti Bengkulu, Pagaralam, Bekasi, Bandung, Surakarta dan Semarang.
“Saya tidak menyangka mereka akan datang, saya sangat merasa terharu dan bangga atas kehadiran mereka yang begitu sangat mencintai sanggar tari ini. Dan saya akan selalu berjuang mengembangkan dan melestarikan seni budaya Palembang,” katanya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel Nasrun Umar merasa kagum atas kiprah seniman Anna Kumari. Sepanjang 54 tahun terakhir sudah banyak karya-karya yang dihasilkan dalam pengkayaan seni di Sumsel khususnya di Palembang. Bahkan dirinya berharap Sanggar Anna Kumari dapat ikut menjaga kelestarian budaya Sumsel, mengembangkan dan mentransfernya kepada generasi muda.
“Kami harap Sanggar Anna Kumari mampu menggali dan mengembangkan potensi seni budaya yang ada, tidak hanya di Palembang tetapi juga di Sumsel guna menunjang program pemerintah di bidang pengembangan budaya,”ujarnya saat membuka acara tersebut.
Lebih jauh kata Nasrun tidak lama lagi Provinsi Sumsel akan menghelat pesta olahraga terbesar di Asia yaitu Asian Games 2018. Dalam ajang ini tentu juga pariwisata dan seni budaya harus ikut bersiap. Adanya Sanggar Anna Kumari yang telah siap dengan SDM dan produk seninya tentu akan sangat menunjang pelaksanaan Asian Games tersebut.

Anna Kumari

“Pemprov Sumsel sangat gembira di selenggarakanya kegiatan 54 tahun Sanggar Anna Kumari berkarya yang bertajuk Kemilau Budaya Palembang 2017. Mudah-mudahan kegiatan ini mampu menginspirasi sanggar seni lainnya bagi pengembangan berkesenian dan pelestarian kebudayaan di Sumsel,” kata Nasrun.
Selain itu, pada malam 54 tahun Sanggar Anna Kumari ini, berbagai hiburan tari dan seni ditampilkan seperti tari zapin tradisional, lagu rindu palembang, peragaan busana palembang sumsel modifikasi, tari selendang mayang, lagu tiga malam oleh Anna Kumari dan puisi musikal oleh Yos Ilyas.
Selain itu Anna Kumari memberikan penghargaan diantaranya kepada Pemprov Sumsel , Ketua TP PKK Sumsel Hj Eliza Alex Noerdin dan Pemkot Palembang.
Anna Kumari sendiri lahir di Palembang, 10 November 1945. Dilahirkan dari keluarga yang memegang teguh tradisi, ia tumbuh sebagai anak yang secara alamiah mencintai kesenian. Saat kecil, ia kerap diajak orang tuanya menghadiri pesta pernikahan adat Palembang. Di sela-sela kunjungan itu, ia kadang menyelinap ke kamar pengantin untuk mengagumi riasan mempelai perempuan dan kain songket yang digunakan. Siapa sangka, tindakan jahil itu justru mendorongnya melestarikan seni dan kebudayaan Palembang.

Persentuhannya dengan seni secara profesional terjadi ketika dia tinggal di Jakarta bersama orangtuanya pada awal 1960-an. Uniknya, kesenian yang ditekuninya secara professional bukanlah kesenian khas Palembang. Tahun 1962, ia yang kala itu berusia 17 tahun mengikuti seleksi penari di Istana Kepresidenan. Setelah menjalani sejumlah tes, ia terpilih untuk membawakan tari Bali.

Digembleng oleh dua pelatih, Nyoman Suwarning dan I Wayan Linggih, kemampuan menarinya tumbuh dengan pesat. Putri pasangan AR Amantjik Rozak dan Masnatjik itu pernah tampil menari dalam sejumlah acara kenegaraan, seperti pembukaan pesta olahraga internasional Ganefo yang digagas Bung Karno pada 1963 di Jakarta. Saat kembali ke Palembang, ia tetap menekuni dunia tari dan akhirnya diminta menjadi pemimpin grup kesenian Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Sriwijaya yang beranggotakan sekitar 30 orang.

Pada tahun 1966, ia diminta menciptakan sebuah tarian untuk menyambut tamu oleh Kodam IV/Sriwijaya. Kala itu, tari Gending Sriwijaya yang merupakan tari penyambut tamu di Palembang dilarang dimainkan karena alasan politik. Oleh karena itu, ia diberi tugas membuat tarian baru untuk dipentaskan dalam upacara penyambutan Panglima Kodam IV/Sriwijaya yang baru. Tari karyanya itu dinamai tari ‘Tepak Keraton’. Jika Gending Sriwijaya menceritakan kegemilangan Kerajaan Sriwijaya, Tepak Keraton mengisahkan kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam.

Kini tari ‘Tepak Keraton’ sama populernya dengan Gending Sriwijaya dan kerap dimainkan di berbagai acara penyambutan tamu agung. Setelah menciptakan tarian itu, ia terus membuat sejumlah tarian tradisional untuk berbagai keperluan. Sampai sekarang, ada sekitar 50 tarian yang ia buat, beberapa di antaranya dimainkan secara massal di berbagai acara.

Selain tari, ia juga pernah terlibat dalam berbagai bidang seni lain, seperti musik, drama, dan puisi. Kakak kandung aktor Anwar Fuadi ini, pernah menjadi penyanyi di sejumlah orkes Melayu. Setelah menikah dengan Hakki Alian pada tahun 1974, ia tetap aktif menyanyi dan menari. Atas peran aktifnya di bidang seni, ia pernah mendapatkan penghargaan di bidang seni dari Pemerintah Singapura pada tahun 1991, penghargaan seni dari Gubernur Sumatera Selatan pada tahun 2001.

Selain menggemari berbagai jenis kesenian, ia juga tergila-gila pada songket. Nenek dan ibunya mewariskan puluhan songket, beberapa diantaranya berusia 75-250 tahun. Dia juga memiliki songket bungo cino, jando beraes, nago besaung, bungo pacik, dan sebagainya. Menurutnya, tiap motif songket itu berbeda-beda pemakaiannya. Motif jando beraes, misalnya dipakai oleh pengantin perempuan yang sudah pernah nikah sebelumnya. Untuk menghindari rayap, songket-songket tersebut disimpan didalam wadah plastik yang ditaburi merica. Kecintaan pada songket itu pula yang membuatnya mengumpulkan remaja perempuan putus sekolah untuk belajar membuat songket. Kegiatan yang bermula sejak 1978 itu membuatnya diberi penghargaan Upakarti oleh Presiden Soeharto pada 1993.

Kini mantan bintang Radio Republik Indonesia (RRI) ini, dikenal sebagai penari, koreografer, sekaligus pemimpin sanggar tari terkemuka di Palembang. Meski usianya tidak lagi muda, akan tetapi aktivitasnya tak pernah surut. Rumah sekaligus sanggar tarinya di Kelurahan 14 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang, tak henti didatangi tamu.

Tahun 2013, ia mendapatkan bantuan dana dari Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kementrian Pendidikan dan kebudayaan. Dengan bantuan itu, ia merenovasi rumah dan sanggar tarinya, dan mendirikan Rumah Budaya Nusantara Dayang Merindu. Rumah budaya itu menjadi semacam museum bagi aneka songket miliknya, juga tempat pelatihan membuat songket. Pada usianya yang beranjak senja, ia tampak tak lelah mencintai dan menghidupkan aneka kesenian dan tradisi Palembang. #Osk/berbagai sumber

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Berebut Penumpang, Sopir Bus Kota Dihabisi Rekan Seprofesi

Palembang, BP–Diduga persoalan berebut penumpang, Febri (42) sopir bus kota jurusan Kertapati-KM 12 tewas dikeroyok sesama sopir di depan Hotel ...