Home / Budaya / Kisah Keraton Kuto Gawang yang Kini Jadi Pabrik PT Pusri

Kisah Keraton Kuto Gawang yang Kini Jadi Pabrik PT Pusri

Sketsa Keraton Kuto Gawang yang kini menjadi pabrik pupuk PT Pusri.

 

Palembang, BP–Banyak masyarakat tidak mengetahui, kalau di kota Palembang selain ada Benteng Kuto Besak (BKB),  jauh sebelumnya juga terdapat keraton yang indah dan sangat kuat.

Adalah keraton pertama Kerajaan Palembang yang didirikan oleh Ki Gede ing Suro (berkuasa 1552-1573). Terletak di Palembang Lamo 1 ilir –sekarang komplek dan pabrik Pusri– lokasinya menghadap Sungai Musi di antara tiga anak sungai, yaitu Sungai Buah, Sungai Rengas, dan Sungai Linta.

Selain sebagai istana raja, bangunan ini berfungsi pula sebagai kuto (pagar dinding tinggi), pusat pemerintahan, dan benteng pertahanan. Berbentuk empat persegi dengan ukuran luas: panjang = 1.100 m, lebar = 1.100 m, dan tinggi = 7,25 m. Terbuat dari bahan kayu tembesu dan unglen, balok-balok berukuran 30×30 cm.

Menurut pengamat sejarah kota Palembang, Kms H Andi Syarifuddin, pintu utama keraton ini melalui Sungai Rengas.

Baca:  Temukan Kembali Sejarah Keris Palembang yang Hilang

“Di bagian halaman depan terdapat lapangan luas yang dipagar. Bagian muka terdapat tiga buluarti/bastion (anjungan menara jaga), buluarti tengah terbuat dari batu. Terdapat juga pintu-pintu lain di samping kanan, kiri, dan belakang. Di dalam keraton terdapat istana raja, masjid, dan menaranya,” kata Andi, Sabtu (23/9).

Sedang di sebelah belakang, terletak tempat kaum wanita (gedung bercorak leter U). Di pinggir bangunan ini terdapat rumah penjara. Dan di bagian belakang keraton terdapat komplek ungkonan makam raja-raja, pasar Candi Laras, serta kambang Sari Saka Puteri Inderamaya.

Selain itu, menurutnya, dilengkapi pula dengan beberapa kubu pertahanan penopang yang berlapis, seperti:
– Sebelah timur, terdapat Pulau Kembara dan benteng Manguntama.
– Sebelah ilir, Bagus Kuning dan benteng Martapura.
– Muara Plaju, benteng Tambakbaya.
– Sungai Musi ditutup dengan cerucup kayu tiga lapis dan rantai.

Baca:  Sejarah Keris Palembang

“Benteng Kuto Gawang ini pernah diuji dalam berbagai pertempuran, di antaranya: perang melawan Banten (1596, 1606), dan perang melawan VOC Belanda (1659). Peperangan tahun 1659 mengakibatkan Keraton Kuto Gawang hangus terbakar, dan raja terakhir di era keraton ini yaitu Pangeran Sido ing Rejek harus mengungsi ke Saka Tiga, Indralaya,” katanya.

Senada dikemukakan pengamat sejarah kota Palembang, Rd Moh Ikhsan, salah satu raja Palembang era Kerajaan Palembang yang memimpin Keraton Kuto Gawang adalah seorang raja Palembang yang alim, wara’, dan tawadhu’ yang bergelar Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, setelah wafatnya disebut Pangeran Sido ing Rejek.

Pangeran Sido Ing Rejek, menurutnya, layak diusulkan menjadi pahlawan nasional asal Sumatera Selatan.
Menurutnya, Pangeran Sido Ing Rejek dengan gagah berani melawan pemerintah Kolonial Belanda pada 1659, hingga harus menderita karena Keraton Kuto Gawang di Palembang dibumihanguskan oleh Belanda dan VOC.

Baca:  Ratib Samman, Amalan Resmi Kesultanan Palembang

“Mungkin satu-satunya keraton di Nusantara yaitu Keraton Kuto Gawang yang mengalami nasib tragis dihancurluluhlantakkan kompeni Belanda. Bahkan kemudian harus mundur ke dusun Sakatiga Indralaya. Akhir yang menyedihkan, beliau pun mangkat di dusun tersebut,” katanya.

Pangeran Sido Ing Rejek adalah Raja Palembang ke-XI yang menggantikan ayahnya yaitu Pangeran Sido Ing Pasarean pada tahun 1653-1659 M.

Ikhsan sepakat kalau Palembang, terutama Sumatera Selatan, memiliki banyak pahlawan dari berbagai masa yang layak diangkat menjadi pahlawan nasional sehingga peran pemeritah daerah, DPRD setempat, dan ahli waris menjadi penting untuk pengusulan nama-nama pahlawan tersebut ke tingkat provinsi untuk selanjutnya diusulkan ke pusat.

“Hingga kini dari Sumatera Selatan baru ada dua pahlawan yang menjadi pahlawan nasional, yaitu Sultan SMB II dan dr AK Gani, padahal Sumsel banyak memiliki pahlawan dari tiap masa yang layak menjadi pahlawan nasional,” katanya. #osk

 

x

Jangan Lewatkan

Kebijakan Setengah Hati, Teknologi Rumah Kayu Terpinggirkan

Jakarta, BP–Arsitek Senior dan pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, sudah saatnya teknologi kayu mendapat tempat dalam lansekap ...