Home / Budaya / Kepahlawanan Pangeran Sido ing Rejek Perlu Diangkat Kepermukaan

Kepahlawanan Pangeran Sido ing Rejek Perlu Diangkat Kepermukaan

BP/DUDY OSKANDAR
Dalam memperingati 1 Muharram 1439 H sejumlah ulama, tokoh pemuda dan sejarawan kota Palembang serta masyarakat kota Palembang , Kamis (21/9) mengunjungi makam Raja Palembang yang alim, wara’, dan tawadhu’ yang bergelar Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, setelah wafatnya disebut Pangeran Sido ing Rejek.

# Layak Diangkat Menjadi Pahlawan Nasional

Palembang, BP
Dalam memperingati 1 Muharram 1439 H sejumlah ulama, tokoh pemuda dan sejarawan kota Palembang serta masyarakat kota Palembang , Kamis (21/9) mengunjungi makam Raja Palembang yang alim, wara’, dan tawadhu’ yang bergelar Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, setelah wafatnya disebut Pangeran Sido ing Rejek.
Makam tersebut terletak di Desa Sakatiga, Kabupaten Ogan Ilir (OI) dimana makam Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, setelah wafatnya disebut Pangeran Sido ing Rejek berdampingan dengan istrinya dan diluar terdapat makam pengikutnya.

Menurut ulama kota Palembang yang juga sejarawan kota Palembang Kms H. Andi Syarifuddin yang ikut dalam ziarah tersebut menjelaskan, Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI (1652-1659) setelah wafatnya disebut Pangeran Sido ing Rejek merupakan seorang Raja Palembang yang alim, wara’, dan tawadhu’ ini bergelar Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, setelah wafatnya disebut Pangeran Sido ing Rejek (1652-1659).
“Ia menggantikan ayahnya menjadi Raja Palembang. Ayahnya bernama Ratu Jamaluddin Mangkurat V Pangeran Sido ing Pesarean bin Pangeran Manca Negara Cirebon bin Pangeran Adipati Sumedang bin Pangeran Wiro Kesumo Cirebon bin Sunan Giri,” katanya.

BP/DUDY OSKANDAR
Dalam memperingati 1 Muharram 1439 H sejumlah ulama, tokoh pemuda dan sejarawan kota Palembang serta masyarakat kota Palembang , Kamis (21/9) mengunjungi makam Raja Palembang yang alim, wara’, dan tawadhu’ yang bergelar Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, setelah wafatnya disebut Pangeran Sido ing Rejek.

Menurutnya, ibunya bernama Masayu Adi Wijaya Ratu Mas Mangkurat bt Kemas Panji Wira Singa bin Ki. Tumenggung Banyu bin Ki. Gede ing Mempelam bin Ki. Gede ing Sungi Surabaya.
Putera sulung dari 13 bersaudara.
Ia mendapat pendidikan di lingkungan kraton Kuto Gawang. Gurunya waktu itu antara lain: Sayid Mustofa Assegaf, Syarif Ismail Jamalullail, Kms. M. Asyik bin Kms. Ahmad, dll.
“Beliau setidaknya mempunyai 2 orang isteri, yaitu Ratu Sepuh bt Kms. Rangga Titah Jiwa, dan Ratu Anom bt Pangeran Sido ing Puro. Dari pernikahan ini memperoleh 11 putra putri,” katanya.
Dalam tahun 1659, terjadilah perang Palembang melawan VOC Belanda. Akibatnya istana kraton Kuto Gawang hangus terbakar. Ratu Jamaluddin Sedo ing Rejek berikut rakyatnya mengundurkan diri ke daerah pedalaman, dan mendirikan kuto pertahanan baru yg diberi nama Indra Laya, yg selanjutnya dijadikan tempat kedudukan Raja Palembang.
“Mereka tinggal dan menetap di Saka Tiga, Pedamaran, Tanjung Batu, Pondok, dll. Secara turun temurun menjadi penduduk setempat.
Sedang tampuk pimpinan di Palembang diserahkan kepada adiknya Pangeran Ario Kusumo Abdurrahim Kemas Hindi yg kemudian menjadi Sultan Abdurrahman Candi Walang,” katanya.
Pangeran Sido ing Rejek wafat dan dimakamkan di dusun Saka Tiga, Indra Laya (OI) Sumsel. Sampai sekarang makamnya masih dapat kita ziarahi dan telah menjadi situs cagar budaya yg dilindungi oleh UU.
“ Jadi sejak zaman beliau sudah ada gelar sultan , bukan hanya zaman Candi Walang saja, apalagi menurut naskah kuno gelar Sultan dimulai dari Candi Angsoko, Sultan Jalamudin mangkurat I dan seterusnya,” katanya.
Hal senada dikemukakan dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) yang juga pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan
Mengatakan, kalau kunjungan mereka ini dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1 Muharam.
Menurutnya kunjungan ke makam Pangeran Sido ing Rejek sudah lama direncanakan dan baru bisa terealisasi saat ini dan tujuan ziarah ini juga untuk mengingat aspek penyebaran Islam atau napak tilas penyebaran Islam di Palembang.
“Beliau ini (Pangeran Sidoing Rejek ternyata saya baru tahu sudah masuk masa sultan , saya lihat makamnya disini seni ukirnya bernilai tinggi dan kemuliaan tentunya ini bangsawan besar,” katanya.
Apalagi dalam sejarah menurutnya, dalam sejarah Palembang kepahlawanan beliau (Pangeran Sidoing Rejek ) perlu diangkat, dan Pengeran Sidoing Rejek bisa diajukan sebagai pahlawan nasional selanjutnya.
Pengorbanan beliau menurutnya, sangat besar apalagi Istana Kuto Gawang miliknya di bakar habis oleh VOC sampai Pangeran Sidoing Rejek meninggalkan Palembang .
Selain itu masyarakat sekitar menurutnya, tidak tahu siapa makam ini.
”Apalagi tanda makam ini didepan saat masuk tidak ada,” katanya sembari akan terus melakukan upaya penyadaran masyarakat akan meninggalan sejarah .
Dan mengusulkan, agar bahan yang ada dapat dibuatkan buku panduan mengenai Pengeran Sidoing Rejek ini sehingga yang melayat tahu siapa Pangeran Sidoing Rejek .
Selain itu makam Buyut Gedeng di Palembang yang berada di belakang gereja harus juga menurutnya, di pikirkan agar bisa diselamatkan karena berada di belakang gereja.
Disamping dia menyayangkan, makam Pangeran Sidoing Rejek yang di cat padahal makam itu adalah cagar budaya yang seharusnya di jaga keasliannya.
Sedangkan penjaga makam Pangeran Sidoing Rejek, Azwar mengatakan, kalau masyarakat sekitar banyak tidak tahu makam tersebut.

BP/DUDY OSKANDAR
Dalam memperingati 1 Muharram 1439 H sejumlah ulama, tokoh pemuda dan sejarawan kota Palembang serta masyarakat kota Palembang , Kamis (21/9) mengunjungi makam Raja Palembang yang alim, wara’, dan tawadhu’ yang bergelar Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, setelah wafatnya disebut Pangeran Sido ing Rejek.

“ Dulu tidak ada gubahnya , makamnya ini dulu pakai dinding papan, seperti gubuk lalu ada polisi di Boombaru sering ziarah kesini, dibelikan batu dia kasih duit bae, seng dikasih pak Sidik, beberapa tahu sultan Iskandar bantu buat atapnya bentuk limas , dulu tidak ada plapon sekarang ada plapon ,” katanya.
Sedangkan Kepala dinas Pariwisata dan Kebudayaan OI, Drs. Ishak Idrus yang ikut hadir dalam ziarah tersebut memastikan, kalau komplek makam Pangeran Sidoing Rejek diusahakan masuk dalam APBD Perubahan Kabupaten OI 2017.
“Kalau tidak sempat kita masukkan di APBD 2018, rehab ini mendesak dan harus segera kita realisasikan , untuk mengenang kepahlawanan Pangeran Sidoing Rejek,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

‘Selamatkan Tradisi Sastra Tutur di Sumsel’

Palembang, BP–Tradisi sastra tutur, yang merupakan tradisi masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel ) sudah banyak yang hilang sehingga kedepan perlu diselamatkan, ...