Home / Headline / Deteksi Hot Spot, Tim Pengendalian Karhutla Tingkatkan Patroli Udara

Deteksi Hot Spot, Tim Pengendalian Karhutla Tingkatkan Patroli Udara

BP/IST
Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Penanggulangan Bencana, H Yulizar Dinoto didampingi Plt Kepala BPBD Sumsel Iriansyah di rapat koordinasi dan evaluasi pengendalian karhutla di posko BPBD Sumsel, Rabu (20/9).

Palembang , BP

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) melalui tim pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), akan meningkatkan patroli udara mendeteksi titik hotspot kebakaran lahan dan hutan di Sumsel.
“Kondisi sekarang kita tetap mempertahankan agar hotspot tidak bertambah dan jadi asap. Sekarang kondusif, dimana BMKG memperkirakan pada Bulan Oktober ada perubahan dari panas ke hujan,” kata Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Penanggulangan Bencana, H Yulizar Dinoto didampingi Plt Kepala BPBD Sumsel Iriansyah, disela-sela rapat koordinasi dan evaluasi pengendalian karhutla di posko BPBD Sumsel, Rabu (20/9).
Menurut Yulizar, pihaknya tidak ingin “kecolongan” terjadi kebakaran lahan dan hutan di Sumsel yang cukup besar, diperubahan musim ini.
Sehingga, mulai dari Satgas darat tetap maksimal, posko maksimal, kekurangan alat ditambah, satgas udara maksimal, dan patroli ditingkatkan.
“Kewaspadaan juga harua maksimal, jangan hari- hari terakhir ada kebakaran. Untuk patroli udara akan kita tingkatkan tensinya hingga 2 kali lipat. Dimana selama ini pagi dan siang, nanti sore juga akan dilakukan, jika ada titik api maka akan dipadamkan melalui water boombing,” jelasnya.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan kembali berlangsung di Sumatera Selatan dipicu oleh puncak musim kemarau pada 11-18 September 2017 di Ogan Ilir dan Muaraenim.
Kali ini, kebakaran tidak hanya di lahan gambut tapi telah merembet ke tanah mineral di Muara Belida, Muaraenim, yang diperkirakan telah menhanguskan lahan seluas 150 hektare.
Yulizar mengatakan, dari 344 titik api yang berhasil dipantau oleh BPBD Sumsel, 70 persen lahan yang terbakar merupakan lahan daerah mineral.
“Sekarang bukan gambut lagi yang terbakar, ini malahan lahan mineral, lahan pertanian. Ini pasti buka lahan.
Kita tidak lagi bicara jumlah desa rawan karhutla. Tetapi bagaimana untuk mempertahankan jangan sampai hotspot bertambah menjadi bencana kabut asap.
“Menurut BMKG awal Oktober peralihan kemarau ke penghujan. Intinya Satgas Darat tetap maksimal, Satgas Udara tetap maksimal. Patroli ditingkatkan,” katanya.
Menurutnya, kewaspadaan harus maksimal. Hari-hari menyongsong musim hujan.
Penyuluhan sektor pertanian maksimal. Buka lahan jangan bakar lahan. Posko gambut maksimal.
“Selama ini baru tiga kali patroli. Pagi siang malam. Ini ditambah sore. Saya tidak ada yang marah, tapi stressing. Jangan sampai dia lengah,” katanya.
Sedangkan Mayor Inf Andik Siswanto Sub Satgas Darat Penanggulangan Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) Sumsel mengatakan, pihaknya optimistis mobil Fin Komodo yang nantinya digunakan Mobile Night Rescue bakal efektif menaklukkan medan yang ekstrem.
“Saya sudah usulkan Mobile Night Rescue ke BNPB. Sebagai Satgas kita berusaha sebaik mungkin melengkapi sarana prasarana.
Begitu ada hotspot bisa langsung cepat. Bisa melalui medan berat (ekstrem) seperti offroad di lumpur,” katanya.
Dikatakan Andi, Mobile Night Rescue merupakam salah satu konsep TNI untuk penanggulangan Karhutla.
Sebelumnya konsep yang dibikin TNI seperti BIOS 44, Foam Nusantata.
“Untuk Mobile Night Rescue isinya satu regu 10 personel terlatih. Bukan untuk mengatasi yang kebakaran besar. Menggunakan foam nusantara menggunakan baju anti api. Biaya Rp 447 juta per unit. Mobil fin komodo untuk Damkar sudah ada perlengkapannya. Minimal ini satu dan tipe yang biasa 1,” kata Andi yang juga Kasi Ops Korem 044/Gapo.#osk

Baca:  Titik 'Hotspot' di Sumsel Mulai Terpantau

 

x

Jangan Lewatkan

Bawaslu Sumsel Belum Terima Laporan

Palembang, BP Hingga saat ini Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) belum menerima laporan pelanggaran kampanye, atau pelanggaran ...