Home / Headline / Pasang Surut Wayang Orang Sam Khau Bun Gei Siah

Pasang Surut Wayang Orang Sam Khau Bun Gei Siah

 

BP/IST
Penampilan Wayang orang Yayasan Tridharma
Sam Khau Bun Gei Siah

UASANA sebuah kelenteng mendadak ramai. Suara musik menghentak lengkap dengan dialog beberapa orang , di bagian dalam terdapat panggung. Beberapa orang yang mengenakan pakaian khas kekaisaran berdiri diatas panggung.

Mereka terlibat dialog berbahasa Tionghoa sesekali tepuk riuh penonton pun terdengar. Lakon dari grup wayang Sam Khau Bun Gie Siah pimpinan Hasan Solihin atau akrab disapa ko Acit ini menampilkan cerita tentang tujuh Jenderal. Cerita itu mengajarkan manusia pentingkan mengembangkan nilai-nilai persahabatan, kasih sayang atau Welas asih kepada sesama dengan berbungkus nilai kejujuran serta saling hormat-menghormati.

Itulah Wayang orang Yayasan Tridharma Sam Khau Bun Gei Siah
, yang sejak didirikan 58 tahun silam perkembangan Wayang orang Yayasan Tridharma Sam Khau Bun Gei Siah di Kota Palembang mengalami pasang surut.
Bahkan kesenian asli dari daerah Hokkian, Tiongkok ini sempat mengalami mati suri sebanyak tiga kali sebelum kembali sampai sekarang terutama di masa orde baru.
“Dulu, beberapa tokoh Tionghoa yang ada di Palembang butuh kesenian yang asli dari tanah leluhur. lalu para tokoh ini sepakat membentuk Wayang Orang Yayasan Tridharma Sam Khau Bun Gei Siah di tahun 1958 silam,” kata Acit, ketua keenam dari Wayang Orang Yayasan Tridharma Sam Khau Bun Gei Siah., Minggu (10/9).
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. ketika Indonesia meledak Pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965, perlahan namun pasti kesenian ini mulai mati. Terlebih lagi, banyak pendiri dan tokoh tadi yang enggan meneruskan kesenian tersebut.

Baca:  Selamatkan Wayang Palembang

“Zaman pak Cuan Ho sebagai ketua pertama kali, kesenian ini sempat populer di masyarakat, tapi di tahun 1965 mati,” kata pria berkacamata ini.
Setelah kurang lebih lima tahun tidak ada aktivitas maka di tahun 1970 an, tokoh pemuda bernama Boki yang juga menjadi ketua kedua tersebut, kembali menghidupkan lagi tradisi kesenian ini.
Bahkan 20 orang pemain di era awal berdiri kembali bergabung. Dan selama tahun 1970 an ini, ketika jabatan Boki ini berakhir, digantikan Asni juga pada tahun 1970 an.
“Kalau dulu mau tampil, sesama umat Tridharma sumbangan. baik itu untuk keperluan latihan pemain ataupun akomodasi dan transportasi pemain selama dan sesudah pentas. Dulu itu, intinya untuk hiburan sekaligus ibadah. dan tidak ada promosi, kalaupun ada paling lewat mulut ke mulut saja,” katanya.
Namun demikian, permasalahan yang dihadapi saat ini, lebih pada keperluan dana selama latihan. pasalnya, untuk setiap latihan, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 1juta.
Sedangkan sumbangan yang masuk dari Kelenteng Dewi Kwan Im sebesar Rp 2 juta, Kelenteng Gie Hap Bio juga Rp 2 juta serta sumbangan dari donatur tetap yang berjumlah 10 orang, kalau digabung setiap bulan rata-rata mendapatkan Rp 7,5 juta.
“Setiap latihan pasti saya nombok. Tapi saya anggap ibadah sekaligus melestarikan seni asli Tionghoa,” katanya.
Pada tahun 1980-1982, kondisinya tidak jauh berbeda pada tahun 1965. Dimana, setelah banyak pemain yang sudah tua dan minimnya regenerasi pemain, menyebabkan kesenian ini secara perlahan meredup dan hilang sinarnya.
Setelah itu, tahun-tahun berikutnya hingga tahun 1998, semua aktifitas dilarang oleh pemerintah. “Saat itu, semua kesenian yang berbau etnis Tionghoa dilarang termasuk wayang orang ini. Jadi, mau tidak mau, mati dengan sendirinya,” katanya.
Setelah sempat mati suri selama tiga periode, pada tahun 2000, kesenian ini kembali dihidupkan dengan menunjuk Bitek sebagai ketua. Dari sini, perkembangan dan sinar dari kesenian ini kembali terang. dan setelah menjabat sekitar lima tahun, posisinya digantikan May Ya ditahun 2005. Dari sini, terjadi regenerasi pemain dari pemain senior, mulai banyak diikuti generasi muda.
Bahkan sekarang, jumlah anggota pemain dari wayang ini ada 60 orang. Sedangkan yang berusia lanjut, lebih banyak mengambil peranan sebagai guru atau peran orangtua saat latihan dan pentas.
“Sampai sekarang, anggota yang seminggu tiga kali latihan ini mencapai 60 orang, jauh lebih banyak dari awal berdiri dulu yang tidak lebih dari 20 orang,” katanya.
Untuk latihan, diakuinya akan semakin intens atau sering ketika ada permintaan untuk tampil. bahkan latihan bisa dilakukan setiap hari. Belum lagi, bila ada pemain yang lupa dengan dialog yang dibawakan, bisa diulang-ulang latihannya. “Saya sendiri suara sempat habis. Untungnya pas saat tampil suara sudah kembali. sehingga bisa tampil maksimal,” tegasnya. Sedangkan peralatan dan keperluan latihan atau tampil, sejauh ini tidak ada masalah yang berarti. dan ketika memang ada alat yang dibutuhkan kurang, dirinya tidak segan-segan untuk memesan langsung dari Tiongkok. “Ketika harus tampil memerankan si Pat Kay, saya harus memesan topeng wajah yang mirip babi langsung ke Tiongkok,” katanya..
Walaupun demikian, peran yang paling sulit dipenuhi saat ada permintaan tampil, yakni cerita perang.
Selain jumlah pemain yang terbatas, banyak karakter yang harus ditampilkan. Mulai dari prajurit, keluarga prajurit, masyarakat dan jenderal perang.
Terkadang setiap cerita perang bisa membutuhkan 100 pemain. “Keterbatasan pemain yang menyebabkan kita kadang menolak bila ada cerita perang. Tapi kalau soal cerita, saya memiliki 200 judul cerita yang bisa ditampilkan dan dimainkan. mulai romansa percintaan, keluarga, kerajaan, hingga sejarah masa lalu. Dan yang paling jauh, kami tampil di Medan,” katanya.
Meski beragam cerita yang dibawakan, inti utama dari cerita ini mengajarkan anak-anak atau generasi muda untuk menghargai sejarahnya, mengasihi sesama dan makhluk hidup serta menjaga keharmonisan di masyarakat. #Dudy Oskandar

Baca:  Re-Aktualisasi “Wayang Palembang” Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Karakter

 

 

 

 

x

Jangan Lewatkan

Dodi: Hanya 2 Penghargaan dari Pemprov, Selebihnya dari Pemerintah Pusat dan Dunia Internasional

Palembang, BP—Sindiran Herman Deru yang kerap menyebut prestasi Dodi Reza Alex karena banyak menerima penghargaan yang diberikan oleh Gubernur Sumatera ...