Home / Headline / Umat Islam dan Budha Sumsel Kutuk Kekerasan Terhadap Etnis Rohingnya

Umat Islam dan Budha Sumsel Kutuk Kekerasan Terhadap Etnis Rohingnya

Perwakilan umat Islam dan Budha dan ormas Islam, tokoh ulama seluruh Sumsel usai menggelar rapat menyikapi nasib etnis Rohingya di ruang rapat kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumsel di Jalan Jenderal Sudirman depan SMAN 3 Palembang, Senin (4/9).

Palembang, BP–Umat Islam dan Budha yang ada di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang tergabung dalam Gerakan Ummat Islam Sumatera Selatan Peduli Rohingya mengutuk dan mendesak penghentian kekerasan terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar seiring terjadinya eskalasi ketegangan di wilayah tersebut.
Hal ini dikemukakan perwakilan umat Islam dan Budha dan ormas Islam, tokoh ulama seluruh Sumsel saat menggelar rapat menyikapi nasib etnis Rohingya di ruang rapat kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumsel di Jalan Jenderal Sudirman depan SMAN 3 Palembang, Senin (4/9).
Turut hadir tokoh Islam dan Budha di Sumsel diantaranya Ayik Farid, Drs. H. Umar Said, Habib Mahdi, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Sumsel Indra Lili
Selain itu,  mereka menuntut pemerintah pusat harus bersikap tegas terhadap persoalan Myanmar sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 45 alinea IV , Tolak Kontingen Myanmar untuk ikut Asian Games 2018 selama mereka tidak menghentikan genosida di Rohingya dan menutupp kedutaan besar Myanmar di Indonesia dan tarik Dubes Indonesia di Myanmar.
Rencananya, sikap kecaman juga diwujudkan dengan menggelar aksi dan tabligh akbar serta pengalangan dana dengan tema gerakan umat Islam di Sumsel peduli Rohinya.
Aksi pengalangan dana dan tabligh akbar akan berlangsung pada pada 9 september mendatang yang akan dipusatkan di Bentng Kuto Besak (BKB. “Target masa yang akan datang nanti sekitar 5 ribu masa,” kata Branch Manager Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ardianysah usai pertemuan.
Ia mengundang  seluruh elemen masyarakat, lintas agama, pemerintah, pejabat, pengusaha, parpol, donatur dan lainnya, sehingga semakin banyak masyarakat yang hadir secara langsung dalam tabligh akbar nanti. Ditargetkan, pengalangan dan yang akan didonasikan kepada umat muslim Rohingnya Rp 5 miliar, sebelum dilakukan aksi damai tersebut, pihaknya akan melakukan pengalangan dana melalui door to door, infag dari masjid, maupun lembaga lainnya.
“Dengan ini maka akan banyak memberikan bantuannya untuk Rohingnya, baik itu berupa uang maupun beras yang sangat berarti bagi Rohingnya,” katanya.
Seluruh penghimpunan dana dijadikan satu pintu via ACT baik datang secara langsung maupun via transfer bank, nomor rekening BNI Syariah dengan nomor 66 0000 5505 atau melalui bank mandiri 127 000 781 6612.
Pihakanya, meminta pemerintah pusat harus bersikap tegas terhadap persoalan Myanmar sesuai dengan amanat UUD, serta tolak kontigen Myanmar untuk menjadi peserta Asian Games selama mereka tidak menghentikan genosida di Rohingnya.
“Yang ketiga tutup kedutaan besar Myanmar di Indonesia dan tarik dubes Indonesia di Myanmar, yang pasti kami sangat mengecam dan mengutuk keras apa yang dilakukan oleh Militer, pemerintah selama ini kepada etnis Rohingnya,” katanya

Baca:  Walikota Palembang Prihatin Dengan Nasib Warga Rohingya

Ketua Forum Umat Islam Sumsel, Usman Said mengatakan,  gerakan ini menjadi gerakan wajib karena muslim itu satu bangunan, muslim itu satu tubuh.
“Derita Rohingnya adalah derita umat Islam , maka gerakan ini murn panggilan syariat menolong saudara kita Rohingnya disamping gerakan ini juga gerakan gerakan kemanusiaan juga ,” katanya.
Untuk itu menurutnya,  pemerintah Indonesia harus menjadi inisiator bagaimana perdamaian di Myanmar melalui Dubes RI di Myanmar.
Menurutnya,  seharusnya Myanmar menghargai dan melindungi warga Rohingnya yang sudah lama tinggal di Myanmar namun sebaliknya.
“ Sebagaimana Indonesia menghargai dan menghormati menjaga etnis lain sehingga aman tinggal di Indonesia,” katanya.
Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Sumsel Indra Lili mengemukakan hal serupa , dia mengatakan pihaknya menyayangkan kekerasan yang terjadi terhadap warga Rohingnya di Myanmar.
Menurutnya,  kekerasan yang terjadi di Myanmar akibat pemerintahan dan bukan konflik agama.
“Orang kita sudah kesana untuk melihat kondisi sana dan hari ini kita berkumpul sini untuk menyikapi permasalahan ini,” katanya.
Sebelumnya ribuan orang meninggalkan rumahnya di negara bagian Rakhine, Myanmar, karena memburuknya kekerasan dalam dua hari belakangan ini. Penduduk sipil Muslim Rohingnya mengungsi dengan melintasi perbatasan ke Bangladesh namun penjaga perbatasan mengusir sebagian dari mereka kembali ke wilayah Myanmar.
Kekerasan marak dan berlanjut hingga Sabtu 26 Agustus 2017 setelah para pejuang Rohingya menyerang sekitar 30 kantor polisi pada Jumat sehari sebelumnya. Motif penyerangan diduga sebagai respon atas intimidasi aparat Myanmar terhadap etnis Rohingya di sejumlah tempat.
Umat Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara di Myanmar -yang mayoritas penduduknya beragama Budha- dan sering menjadi korban kekerasan aparat keamanan maupun kelompok militan Budha.
Sebelum kekerasan terbaru ini, puluhan ribu warga Rohingya sudah mengungsi ke Bangladesh karena mengaku menjadi korban penganiayaan.
Rakhin yang merupakan negara bagian termiskin di Myanmar- menjadi tempat tinggal dari lebih dari satu juta orang Rohingya yang beragama Islam.#osk

Baca:  Umat Buddha Sumsel Kecam Kekerasan Terhadap Muslim Rohingya

 

x

Jangan Lewatkan

Pembangunan IT di Muba Salip Sumsel

Palembang, BP–Beberapa terobosan pembangunan Informasi dan Teknologi (IT) digital di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mendapat pengakuan dari sejumlah pihak, tidak ...