Home / Headline / 101 Tahun Pempek Produk Niaga

101 Tahun Pempek Produk Niaga Oleh: Rd. Muhammad Ikhsan (Dosen Universitas Sriwijaya)

Rd Muhammad Ikhsan

Pustaka kuliner nusantara sesungguhnya sangat kaya, eksistensinya telah memberikan sumbangsih secara langsung atau tak langsung pada identitas dan kebudayaan nasional Indonesia. Salah satu kuliner nusantara yang masuk kategori populer adalah pempek Palembang. Setelah melalui serangkaian tahapan penentuan secara prosedural, Pempek telah berhasil ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tanggal 17 Oktober 2014.

Pempek dan variannya seperti tekwan, model, laksan dan celimpungan adalah tegas makanan asli khas Palembang. Tulisan ini tiada lain berkaitan dengan moment seratus satu tahun sebutan atau penamaan masyarakat pada makanan asli dan khas kota Palembang. Mengapa di sini dengan tanpa ragu disebutkan angka 101 tahun? Tentu saja karena referensi yang dipercaya menegaskan seperti itu. Selain ada pula sumber lain yang berusaha menjelaskan asal muasal pempek, namun rujukan yang digunakan penulis dianggap sebagai sumber yang kuat dan akurat.

Sumber literatur dimaksud adalah buku karya RHM. Akib. Terutama dilihat dari aspek track record penulisnya. RHM. Akib adalah putra asli Palembang, pernah menjabat Wethouder Loco Burgemeester Stads Gemeente Palembang. Ayahandanya sendiri seorang demang terkemuka yang menjadi pangrehpraja bumiputera untuk distrik Seberang Ilir Palembang. Ada sekian buku yang ditulis beliau seperti Sejarah Malaju Palembang diterbitkan tahun 1929 oleh penerbit Drukkery Economy Bandung. Di tahun 1956 ditulisnya pula buku berjudul Perajaan 50 Tahun Berdirinya Kotapradja Palembang.

Peranan RHM. Akib yang signifikan sebagai peneliti pada tahun 1972 saat proses penentuan hari jadi kota Palembang. Ada juga buku lain. Termasuk pula buku yang menjadi salah satu rujukan penting pada saat pengukuhan Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai pahlawan nasional di tahun 1984. Buku yang dimaksud dalam konteks tulisan ini adalah buku RHM. Akib dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Palembang Adat Istiadat Perkawinan di Palembang, diterbitkan tahun 1975. Penulisan buku tersebut dibantu oleh A. Chaliq Muchtar dan Kemas M. Siddiq Umary.

Dari hasil searching di Google, buku tersebut, di samping buku RHM. Akib yang lain menunjukkan buku-buku itu telah menjadi bibliografi koleksi fisik dan didigitalisasi perpustakaan universitas ternama di Indonesia serta manca negara. Tulis saja seperti perpustakaan UI, USU, UNEJ, UPI, UNPAD dan lainnya. Dari perpustakaan di negeri jiran yang sangat intens pada budaya Melayu yakni Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Teknologi Malaysia. Bahkan buku-buku tersebut dikoleksi digital library oleh University of California dan Michigan University, juga perpustakaan perguruan tinggi di negeri Belanda.

Buku ini sejatinya menguraikan tentang adat istiadat perkawinan Palembang, namun di bagian tulisan tentang makanan dan minuman asli Palembang dituliskanlah oleh beliau tentang makanan satu ini. Agar bisa difahami secara utuh, tanpa editing pada ejaan bahasa Indonesia, tanda baca dan gaya tuturnya, berikut dituliskan kembali bagian dari uraian RHM. Akib dan kawan-kawan pada halaman 74 -76 dari buku di atas:
“Kelesan kerupuk, kelesan lenjer, kelesan telor, kelesan senggol, kelempang, kerupuk, model tekwan, lenggang, celimpungan, laksan dan lain sebagainya.

Perlu diberi penjelasan bahwa di Palembang sendiri nama makanan kelesan itu sudah dikelirukan dengan nama Empek-empek sebab apa?

jenis pempek

Pada umumnya bahwa bangsa Tionghoa ini adalah suatu bangsa yang bolehlah dikatakan orang dagang dan dalam semua urusan dijadikannya object dagang. Mereka melihatnya selalu dari sudut Commercieel atau cari duit. Kalau di zaman yang lalu makanan2 tersebut ada sifat dan kegunaannya tertentu didalam rumah adat sebagai tujuan adat, maka sesudah tahun 1859 makanan-makanan itu telah mulai bersifat dagang atau Commersieel, oleh karena mulai adanya rumah makan dan minum, warung senggol dan lain sebagainya, yang penjualannya kebanyakan adalah orang Tionghoa. Sampai sekarang makanan2 tersebut selalu tersedia di toko2 di kota-kota pada Restourant2 dan Kedai2 besar seperti toko Europa dllnya di Jakarta yang dilakukan oleh orang Tionghoa.

Kebutuhan dizaman tahun 1916-an di Kampong Keraton sekarang masuk bilangan Kampong Mesjid Agung dan Mesjid Lama ada pedagang orang Tionghoa yang tiap2 hari membawa jualannya. Jualannya sangat laris sekali karena yang dijual adalah makanan asli, dan dibikin secara teliti dan baik sekali. Makanan ini padanya disebut “KELESAN” dan menurut corak dan cara memasaknya disebut Kelesan Kerupuk, Kelesan Lenggang, Kelesan Senggol. Sebab apa dinamakan Kelesan, karena makanan ini dikeles artinya tahan disimpan lama. Seperti juga sekarang ini kita jumpai di Jakarta AYAM KELESAN, yaitu ayam yang dikeles.

Kemudian si Empek, yang berjualan Kelesan itu tadi dipanggil oleh anak2 muda yang selalu keliaran ditempat tersebut itu dengan kata2 : Pek, empek, mampir sini. Oleh karena si empek ini selalu menjadi sasaran, maka sebab itu pulalah makanan yang dijual si Empek lantas berganti nama dengan Pek Empek. Dikalangan tertentu di Palembang sekarang masih tetap makanan itu dinamakan kelesan.”

Sejauh pengetahuan penulis mengenai tokoh penyusun utama buku ini yang mengalami langsung masa awal perniagaan pempek atau kelesan. Tempat tinggal sang penulis di kampung Kepandean atau jalan Kapten Cek Syech sekarang sangat dekat dengan posisi tempat si Apek berjualan. Tidak sampai setengah kilometer jaraknya, termasuk jika ditempuh jalan kaki saat kendaraan masih teramat sangat sedikit. Tempat si Apek berjualan di sekitar pertemuan jalan Masjid Lama dengan Bundaran Air Mancur di tepi pangkal jalan Jenderal Sudirman sekarang.

Tempat mana terbilang kawasan titik nol kilometer Palembang. Belum lagi beliau setiap hari selalu berlalulalang melewati kawasan tersebut. Ditambah kapasitas kemampuan dan keterpelajaran, catatan beliau ini bisa diyakini sepenuhnya, bahwa seperti itulah awal penamaan pempek atas produk asli khas wong Pelembang yang bernama kelesan tersebut.

50 Tahun Kemudian
Hingga tahun 1956 komersialisasi pempek ini belum begitu rupa, bisa dikatakan belum ada tempat penjualannya berupa toko. Penjualan pempek masih bersifat sederhana seperti di rumah-rumah dan warung-warung atau oleh pedagang keliling yang menjajakan dagangannya dengan membawa rago semacam bakul berbahan rotan, berbentuk agak mirip tudung saji yang digunakan terbalik. Tangan sebelah kanan membawa rago tangan kiri menenteng keranjang sangkek berisi botol cuko, mangkok dan ember kecil untuk air pencuci mangkok yang telah dipakai.

Selain di tempat lain, kebanyakan diproduksi di kelurahan 10 Ulu hingga terkenal dengan nama Pempek 10 Ulu. Uniknya pempek yang diproduksi di kawasan Seberang Ulu ini justru lebih laris dijual di Seberang Ilir, di mana siang menjelang sore dibawa untuk dijajakan oleh pedagang masyarakat keturunan Jawa yang mengenakan pakaian kebaya encim sehari-hari dengan menumpang perahu. Dahulunya perahu tambangan dan perahu ketek tersebut mendarat di sekitar kawasan 16 Ilir untuk dijajakan ke beberapa titik di kampung-kampung sekitar 16 Ilir.

Menurut daftar toko-toko pada tahun 1956 tulisan R.H.M Akib tidak satupun tercantum nama toko pempek. Hanya ada restoran, rumah makan dan warung kopi. Tempat mana disimpulkan tidak secara khusus menjual pempek. Sebagai perbandingan pada masa itu toko-toko roti sudah ada. Cikal bakal toko yang berdagang pempek relatif baru terlihat di akhir tahun 1960-an, seperti pempek yang menggunakan logo bola dunia di dekat kawasan pasar Cinde. Laju pertumbuhan niaga secara khusus atas pempek mengalami pertumbuhan yang disambut perkembangan relatif pesat sejak diluncurkan sebuah toko pempek di kawasan Seberang Ulu I tahun 1984. Nama toko mana yang mengingatkan masyarakat pada seorang tokoh dalam sebuah film boneka di TVRI.

Dalam waktu yang berdekatan nama toko pempek yang ber-setting film sama muncul juga di pertokoan di bilangan pasar Kepandean Baru 18 Ilir. Beberapa tahun kemudian bermunculan toko yang secara khusus menjual makanan khas ini. Lonjakan sangat berarti sekitar akhir dekade 1990-an dan sangat menguat di era tahun 2000-an.

Saat ini, seiring dengan pertumbuhan masyarakat yang ditopang daya jangkau ekonomi, penjualan dalam kata lain perniagaan pempek telah masuk ke berbagai lapisan. Dari pempek dengan harga kurang dari Rp.1000.- perbuah hingga Rp.5.000.- untuk ukuran biasa alias pempek campur. Pempek lenggang dan kapal selem alias pempek telok besak harga lima ribu sampai 15 ribu perbuah. Mulai yang dijual di depan rumah, warung, dibawa keliling jalan kaki, bersepeda, bermotor atau bahkan dengan mobil toko, hingga toko di mal dan bandara. Ditambah varian lain, tekwan, model, kerupuk, kemplang alias kelempang.

Uniknya peran serta masyarakat secara tidak langsung menimbulkan dan menumbuhkan gairah, seperti hadirnya kawasan pedagang pempek di dekat jeramba Karang jalan Mujahidin 26 Ilir dan di sekitar jalan Depaten Lama. Belum lagi di titik lain di kota ini. Pelbagai ungkapan seperti “nak pempek tula”, “pempek idak katek maleknyo” dan seterusnya.

Mudahnya akses transportasi terutama angkutan udara melalui pesawat terbang secara signifikan melancarkan dan mempercepat sampainya ekspedisi produk pempek ke kota lain. Pesan hari ini di kota lain, besok pempek sudah sampai. Perkembangan mutakhir dengan adanya aplikasi teknologi online pesan antar makanan membuat masyarakat begitu mudah memesan dan mendapatkan makanan ini. Dengan aplikasi online, terminologi malas membeli makanan karena jarak jadi hilang, idak katek cerito soal makmano ngancapnyo. Semua ini secara tidak langsung mendorong geliat perniagaan pempek.

 

x

Jangan Lewatkan

Muba Jadi Kabupaten Potensial Indeks Tertinggi

Sekayu, BP–Percepatan pembangunan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kian banyak mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Kini Bumi Serasan Sekate bakal ...