Home / Budaya / Palembang Sekitar 111 Tahoen Laloe

Palembang Sekitar 111 Tahoen Laloe

Oleh: Rd. Muhammad Ikhsan
(Dosen Universitas Sriwijaya)

Satu abad yang lalu, kota Palembang masih sepi dan terbelakang. Jalan-jalan masih sempit, denyut kehidupan transportasi baru terasa bila menyusuri alur sungai Musi berikut batang anak sungai dan kanal yang menghubungkannya. Batang hari Sembilan memang tak pernah tidur, ia beriak dan terus mengalir.

Kondisi kota sungai ini sering disebut oleh Belanda sebagai Venetie van het oosten atau Venesia dari Timur. Atau, de stad der twintig eilanden, si kota dengan dua puluh pulau. Dikatakan sebagai Venesia, karena kota ini selain dibelah dengan Sungai Musi juga memiliki paling tidak 100 anak sungai dan kanal. Seperti sungai Tengkuruk, Rendang, Kapuran, Kebon Duku, Sekanak, Lambidaro, Kedukan, Tatang, Kebangkan, juga Penedan. Sedangkan sebutan kota dua puluh pulau, karena ibukota keresidenan Palembang ini memiliki beberapa pulau kecil di tengah alur sungai Musi.

Terbentuknya pulau ini menurut Djohan Hanafiah karena adanya anak-anak sungai yang memotong lembah yang ada. Di samping memang di sungai Musi terdapat pulau-pulau, antara lain pulau Kembaro yang belakangan dilafalkan Kemaro tanpa huruf b. Pulau Kerto, pulau Borang dan lainnya.

Sekitar 111 tahun lalu, sungai Tengkuruk yang legendaris itu masih melintang di tengah kota atau di seputar hadapan komplek pertokoan Tengkuruk Permai sekarang. Alur sungai yang lurus seperti kanal ini menemui puncak kepadatannya pada setiap hari Jumat, saat ummat muslim melaksanakan shalat Jumat. Perahu berjejer memenuhi dermaga Tanggo Rajo di depan Masjid Agung. Di tahun awal 1900 pelaksanaan shalat Jumat hanya di masjid Sulton ini dan dua masjid lainnya yakni masjid Lawang Kidul di kampung 5 Ilir serta masjid Kiai Marogan di muara sungai Ogan.

Sungai Tengkuruk ini penimbunannya dimulai pada tahun 1928 dan diselesaikan di tahun 1930. Di atas timbunan ini kemudian dibangun semacam boulevard yang pertama di Palembang.

poto sumber internet

Dengan jumlah penduduk di bawah angka seratus ribu yakni kurang lebih 72.035 jiwa. Komposisi penduduk selain wong Pelembang kota ini dihuni pula oleh orang Arab (Ayib), Tionghoa, Belanda, India dan beberapa gelintir orang Eropa lainnya.

Pusat kota masih di tepian sungai Musi. Berdasarkan sebuah peta yang dibuat tahun 1887 setelah pembagian “wijk” atau kampung-kampung. Terlihat jelas keletakan seluruh kampung yang menghadap ke sungai Musi. Kampung tersebut di antaranya kampung Pelembang Lamo, Pengeran Mangku, Terusan, Marogan, Temenggungan. Pasca penataan ulang dari tahun 1887 kampung tersebut masing-masing menjadi 1 Ilir, 16 Ilir, 14 Ilir, 1 Ulu, 13 Ulu. Pembagian tata ruang kota sejak mulanya memang berpedoman pada sungai Musi. Dalam lafal Palembang disebut dengan laut. Belanda yang membiasakan menyebut istilah laut ini menjadi sungai Musi. Berasal dari kata Rivier Moesi. Jika pun hendak ditulis Musi mestinya disebut secara lengkap sebagai Air Musi. Cara pandang atas tempat ini membuat penduduk asli menyebutnya sebagai sebela darat dan sebela laut.

Baca:  Emporium Palembang 1950-an

Di belakang daerah tersebut adalah areal talang, seperti Talang Semut, Talang Keranggo, Talang Makrayu, Talang Bukit, Talang Lunjuk, Talang Macan Lindungan, Talang Pangeran Penghulu, Talang Jawa. Lebih ke dalam lagi masih berupa rimba seru, rawa dan kawasan hutan.

Di areal luas yang sekarang menjadi sebagian kawasan jalan Jenderal Sudirman merupakan daerah pekuburan muslim. Areal ini sebelumnya lagi di masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Candi Walang tahun 1660 – 1706 merupakan halaman belakang Kuto Cerancangan sekaligus teras muka makam sang Susuhunan Cinde Welan. Kuto Cerancangan merupakan pusat kota di sekitar kraton Beringin Janggut. Pemakaman muslim di areal ini ditutup pemerintah kotapraja (gementee) Palembang sejak tahun 1916 dan disediakan beberapa kawasan pemakaman baru yang kerap disebut kandang kawat, yakni Puncak Sekuning, Talang Ilir atau Kamboja dan Dukuh. Saat ini sisa tinggalan makam masih dapat ditemukan antaranya di jalan Kebon Jahe, di belakang toko buku Gramedia dan ungkonan di depan Pasar Cinde.
Pasar 16 Ilir

Kala itu, aktifitas perdagangan berpusat di Pasar 16 Ilir. Sebuah pasar tertua di Palembang yang belum begitu jelas tahun berdirinya. Namun sepanjang pengetahuan, berdasarkan beberapa catatan paling tidak pada tahun 1871 dilaporkanntentang pendirian pasar batu di kawasan pasar ini. Kemudian bersandarkan pengamatan sebelum terjadi kebakaran besar yang melanda pasar tua ini tahun 1993, masih ditemukan bangunan toko yang berangka tahun 1824, artinya, angka tahun sama dengan pendirian Pasar Baroe di Jakarta.

Di tahun 1915 sebelum dibangun dengan konstruksi bangunan beton, pasar di pinggir sungai Musi ini masih dengan bangunan yang beratap seng. Bangunan tersebut dalam suatu foto dokumentasi berangka tahun 1908. Pada waktu yang berdekatan dibangun pula kawasan Pasar Baru, letaknya di antara Tengkuruk Permai, lorong Basah dan pasar 16 Ilir sekarang.

Baca:  Kisah Kolam Pemandian Putri Sultan Palembang Dalam BKB Yang Ditimbun Belanda

Pasar 16 Ilir sebagian besar dibangun dengan modal pengusaha Arab (Ayib), yang menyewakan toko-toko ini kepada pedagang ritel di Palembang. Akibat andil penting dalam sektor pasar, para pengusaha berdarah Arab yang acap disebut Sayid yang dilafalkan Ayib ini menjadi agen berbagai barang impor. Di samping itu, sebagian besar perdagangan tekstil dikendalikan para sayid Palembang yang membeli batik dari pengusaha Hadramaut di Pekalongan. Bukti dari kepiawaian sayid pedagang batik hingga saat ini masih dapat ditemukan di Pasar 16 Ilir. Pedagang kain partai besar yang didominasi warga Palembang yang pada dirinya mengalir darah leluhur sayid tersebut.

Menurut Jeroen Peters yang menulis buku “Kaum Tuo Kaum Mudo di Palembang”, setelah masa itu kemunduran armada niaga Hadramaut pada hari-hari berikutnya, bersamaan dengan munculnya jaringan perdagangan intern yang baru. Keadaan ini mengakhiri dominasi komersial Alawiyin dan membuka peluang baru bagi pedagang Cina dan Palembang.

Dinamika pasar 16 Ilir ini pun disesaki dengan pedagang hasil bumi. Selain itu, bank niaga pertama yang dibuka di Palembang adalah cabang Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) yang didirikan tahun 1900. Cabang ini lama berfungsi sebagai satu-satunya bank niaga di kota Palembang.

Sementara transportasi yang mendukung perdagangan di pasar 16 Ilir baik berhubungan dengan masyarakat pedalaman Palembang maupun perdagangan ke luar pulau. Pada perdagangan di daerah di uluan selain perahu tradisional seperti perahu kajangan dan sejak 1880-an dilayani oleh kapal roda lambung yang disebut juga kapal uap yang menggerakkan roda yang berada di belakang atau di samping badan kapal (Djohan Hanafiah 1989 : 49). Di sekitar pergantian abad, sudah ada 15 kapal uap yang kadangkala disebut pula dengan kapal kincir atau hekwieler stoomschif, yang berlayar di jalur pemasokan dari dan ke pedalaman.

Jika pernah menonton film dengan genre petualangan dan penyintas di Amerika Serikat yang menceritakan aktifitas di sungai Mississippi dengan kapal steamboat yang sejenis. Kita bisa membayangkan bisa jadi kondisi alamnya memiliki beberapa ciri persamaan. Sedangkan perahu kajangan jumlahnya relatif lebih banyak, hilir mudik dari uluan ke Palembang. Uniknya perahu jenis ini satu sama lain berkait dengan tali tambang membentuk semacam koloni. Di titik ini menjadi pasar terapung, tempat masyakarat bertransaksi barang-barang kebutuhan pokok seperti produk manisan dan kelontongan. Pembeli datang merapat dengan mengayuh perahu pula. Setelah selesai dan menghabiskan barang dagangan, perahu kajangan ini secara beriringan kembali ke daerah uluan dengan ditarik perahu boat.

poto sumber internet

Di pelabuhan Palembang bersandar pula kapal dagang Belanda dan negara Eropa lainnya, Turut pula berlabuh di pelabuhan ini perahu Cina yang disebut wankangjung. Kapal jenis inilah yang membawa barang dagangan dari daratan Tiongkok sekaligus mengantarkan imigran Cina yang ingin mengadu untung di negeri Palembang.

Baca:  Misteri Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang?

Pelabuhan pertama di Palembang terletak sebelah hilir pasar di muara sungai Rendang. Areal pelabuhan ini di tahun 1908 kemudian dipindahkan ke pelabuhan baru atau Boom Baru (Nieuwe Boom) yang terletak lebih ke hilir lagi di antara sungai Belabak dan sungai Lawang Kidul.

Alur sungai Musi, selain merupakan tempat lalu lalang transportasi air merupakan pula tempat tinggal sebagian masyarakat Palembang. Mereka tinggal menetap di rumah rakit, yaitu rumah yang mengapung di atas sungai Musi. Rumah itu terbuat dari kayu dan bambu, dengan atap kajang, daun nipah atau sirap. Bahkan sebelumnya, pada masa kesultanan Palembang Darussalam, semua warga asing harus menetap di atas rakit, termasuk orang Belanda, Cina. Dalam bahasa Belanda disebut vlot woningen. Kantor dagang Belanda pertama masih di atas rakit, lengkap dengan gudangnya. Rumah rakit ini selain sebagai tempat tinggal, juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang, toko dan industri kerajinan. Termasuk pula di tahun 1900-an rumah sakit yang pertama di kota ini di atas rakit.

Selain aktifitas di atas, dunia hiburan yang pertama kali dikenalkan Belanda di tahun 1910 adalah penayangan gambar idoep alias film bioskop. Gedung bioscoop Flora yang kemudian berganti nama dengan Orientale dan terakhir dengan nama bioskop Saga. Kini gedung tersebut setelah direnovasi ditempati oleh Dinas Pendapatan kota Palembang.
Sedikit fragmen masa laloe Palembang ini memang tidak menggambarkan totalitas kehidupan masa lebih dari seabad lalu, namun memori ini dapat membuat kita lebih dalam mengenal detak kehidupan tempo dulu. #

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kadisdik Ajak Pelajar Melukis Untuk Bekal Hidup

Palembang, BP–“Ayo Melukis,” ajakan itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang Zulinto pada pembukaan Workshop menggambar potret yang diselenggarakan atas ...