Home / Headline / Sahur Berdarah di Ibukota Kesultanan Palembang

Sahur Berdarah di Ibukota Kesultanan Palembang

Palembang, BP

BP/IST
Lukisan suasana perang Palembang

Minggu, 24 Juni 1821, ketika rakyat Kesultanan Palembang Darussalam sedang makan sahur, pasukan Kolonial Belanda secara tiba-tiba menyerang ibukota kota Kesultanan Palembang Darussalam. Perang ini merupakan pertempuran ketiga antara Kesultanan Palembang Darussalam dan Belanda setelah dua pertempuran sebelumnya Belanda kalah melawan pasukan Palembang Darussalam. Inilah babak baru perlawanan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang terhadap pemerintahan Kolonial Belanda.

Bagi Mayor Jendral De Kock, yang memimpin armada perang Belanda, penyerangan ini adalah kesempatan Belanda menang perang walaupun harus melanggar kesepakatan gencatan senjata sebelumnya.

Menurut arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwati, gencatan senjata tersebut hanya akal-akalan pemerintah Kolonial Belanda untuk mengalahkan Palembang yang selama ini susah di taklukkan.

“Iya benar, ini kembali ke soal kelicikan Belanda. Saat perang berlangsung dan melewati hari Jumat, perang sepakat dihentikan, sementara untuk menghormati umat muslim yang menjalankan ibadah Shalat Jumat. Dengan analogi itu, SMB II mengira saat memasuki bulan puasa, Belanda juga akan menghormati bulan itu dengan cara menghentikan perang, ternyata pemikiran SMB II meleset, Belanda ternyata curang,” kata Retno, Senin (21/8).

Namun, kata Retno, justru di saat puasa inilah Belanda menyerang dengan gencar ke Benteng Kuto Besak.

Kemas Ari Panji

Sekretaris Masyarakat Sejarawan Provinsi Sumatera Selatan Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si menambahkan , Belanda sengaja menggunakan siasat licik untuk menaklukkan Palembang setelah dua perang sebelumnya kalah.

“Mereka buat perjanjian bahwa akan saling menghormati di hari suci. Saat bulan puasa dilakukan gencatan senjata Palembang dan Belanda tidak boleh menyerang atau berperang pada hari minggu dan jumat. Tapi Belanda mengingkari janji pada hari jumat pagi Belanda mulai melakukan pergerakan atau penyerangan ketika Palembang tidak siap dan sedang melakukan ibadah puasa,” katanya.

Serangan dadakan ini tentu saja, menurut Ari, melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang.

Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada 1 Juli 1821 berkibarlah bendera Belanda di Benteng Kuto Besak, maka resmilah kolonialisme Hindia Belanda di Palembang dimulai.

Lalu tanggal 13 Juli 1821, menjelang tengah malam, SMB II beserta keluarganya menaiki kapal Dageraad dengan tujuan Batavia.

Dari Batavia SMB II dan keluarganya diasingkan ke Ternate sampai akhir hayatnya 26 September 1852.

Sebelumnya Konvensi London 13 Agustus 1814 membuat Britania (Inggris) menyerahkan kembali Palembang kepada Belanda termasuk semua koloninya di seberang lautan sejak Januari 1803.

Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles karena harus menyerahkan Palembang kepada Belanda. Serah terima terjadi pada 19 Agustus 1816 setelah tertunda dua tahun, itu pun setelah Raffles digantikan oleh John Fendall.

Belanda kemudian mengangkat Edelheer Mutinghe sebagai komisaris di Palembang. Tindakan pertama yang dilakukannya adalah mendamaikan kedua Sultan, SMB II dan Husin Diauddin. Tindakannya berhasil, SMB II berhasil naik takhta kembali pada 7 Juni 1818.

Sementara itu, Husin Diauddin yang pernah bersekutu dengan Britania berhasil dibujuk oleh Mutinghe ke Batavia dan akhirnya dibuang ke Cianjur.

Pada dasarnya pemerintah kolonial Belanda tidak percaya kepada raja-raja Melayu. Mutinghe mengujinya dengan melakukan penjajakan ke pedalaman wilayah Kesultanan Palembang dengan alasan inspeksi dan inventarisasi daerah. Ternyata di daerah Muara Rawas ia dan pasukannya diserang pengikut SMB II yang masih setia.

Sekembalinya ke Palembang, ia menuntut agar Putra Mahkota diserahkan kepadanya. Ini dimaksudkan sebagai jaminan kesetiaan sultan kepada Belanda. Bertepatan dengan habisnya waktu ultimatum Mutinghe untuk penyerahan Putra Mahkota, SMB mulai menyerang Belanda.

Pertempuran melawan Belanda yang dikenal sebagai Perang Menteng (dari kata Mutinghe) pecah pada 12 Juni 1819. Perang ini merupakan perang paling dahsyat pada waktu itu, di mana korban terbanyak ada pada pihak Belanda. Pertempuran berlanjut hingga keesokan hari, tetapi pertahanan Palembang tetap sulit ditembus, sampai akhirnya Mutinghe kembali ke Batavia tanpa membawa kemenangan.

Belanda tidak menerima kenyataan itu. Gubernur Jenderal Van der Capellen merundingkannya dengan Laksamana JC Wolterbeek dan Mayjen Herman Merkus de Kock dan diputuskan mengirimkan ekspedisi ke Palembang dengan kekuatan dilipatgandakan.
Tujuannya melengserkan dan menghukum SMB II, kemudian mengangkat keponakannya (Pangeran Jayaningrat) sebagai penggantinya.

SMB II sendiri telah memperhitungkan akan ada serangan balik. Karena itu, ia menyiapkan sistem perbentengan yang tangguh. Di beberapa tempat di Sungai Musi, sebelum masuk Palembang, dibuat benteng-benteng pertahanan yang dikomandani keluarga sultan. Kelak, benteng-benteng ini sangat berperan dalam pertahanan Palembang.
Pertempuran sungai dimulai pada tanggal 21 Oktober 1819 oleh Belanda dengan tembakan atas perintah Wolterbeek. Serangan ini disambut dengan tembakan-tembakan meriam dari tepi Musi.

Pertempuran baru berlangsung satu hari, Wolterbeek menghentikan penyerangan dan akhirnya kembali ke Batavia pada 30 Oktober 1819.

SMB II sendiri masih memperhitungkan dan mempersiapkan diri akan adanya serangan balasan. Persiapan pertama adalah restrukturisasi dalam pemerintahan. Putra Mahkota, Pangeran Ratu, pada Desember 1819 diangkat sebagai sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin III. SMB II lengser dan bergelar Susuhunan. Penanggung jawab benteng-benteng dirotasi, tetapi masih dalam lingkungan keluarga sultan.

Setelah melalui penggarapan bangsawan dan orang Arab Palembang melalui pekerjaan spionase, serta persiapan angkatan perang yang kuat, Belanda datang ke Palembang dengan kekuatan yang lebih besar. Tanggal 16 Mei 1821 armada Belanda sudah memasuki Perairan Sungai Musi.

Kontak senjata pertama terjadi pada 11 Juni 1821 hingga menghebatnya pertempuran pada 20 Juni 1821. Pada pertempuran 20 Juni ini, sekali lagi, Belanda mengalami kekalahan. De Kock tidak memutuskan untuk kembali ke Batavia, melainkan mengatur strategi penyerangan.

Bulan Juni 1821 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu. Pada waktu dini hari Minggu 24 Juni, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang.

Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang. Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. #osk

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Berkeliling Dengan Motor Curian, Penadah Dibekuk

Palembang, BP–Sedang berkeliling dengan mengendarai sepeda motor hasil curian, Edo Saputra (21), warga Desa Tapus, Kecamatan Pampangan, Kabupaten OKI dibekuk ...