Home / Headline / Beras Bulog Lahat Tak Layak Konsumsi

Beras Bulog Lahat Tak Layak Konsumsi

Kapolda Sumsel Irjen Agung Budi Maryoto: Naikkan kasus ini dari penyelidikan dan ke penyidikan.

Palembang, BP

Berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Penelitian Benih Padi di Subang, Jawa Barat, beras oplosan yang disita Polda Sumsel dari gudang Bulog Sub Divre Lahat dipastikan tak layak dikonsumsi.

Kapolda Sumsel Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan, dari hasil uji laboratorium diketahui bahwa kualitas beras tersebut di bawah standar nasional Indonesia (SNI).

“Karena itu kami naikkan status kasus ini dari penyelidikan menjadi penyidikan,” ujar Agung saat memberikan keterangan pers di Mapolda Sumsel, Jumat (11/8).

Saat ini pihaknya memeriksa lima saksi di antaranya Kepala Bulog Sub Divre Lahat Agus M (26), Kepala Penanggungjawab Re-Proses Adit (29) dan Kepala Gudang Subdivre Lahat Febri (30), Ketua Tim Pelaksana GB, dan staf administrasi yaknk F.

Baca:  50 Ribu Ton Beras Belum Terserap

Pihaknya pun memeriksa saksi dari pihak warga yang komplain atas beras tersebut. “Pemeriksaan ini untuk menentukan tersangka serta pasal apa yang akan dikenakan para pengoplos ini,” ujarnya.

Untuk gudang berasnya, saat ini terus berjalan dan pihaknya hanya menyita beras yang dioplos saja. Agung berharap ke depan jangan ada lagi kejadian seperti ini, apalagi mengorbankan masyarakat golongan prasejahtera.

“Apapun alasannya seperti reprocessing jika di bawah standar mutu itu tidak diperbolehkan. Jadi salurkan saja dalam kondisi yang bagus, jangan dioplos,” terangnya.

Kasubdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Sumsel AKBP Ferry Harahap menambahkan, hasil laboratorium ini dikeluarkan pada 5 Agustus dan kemudian 7 Agustus pihaknya telah mengambil keterangan dari tim ahli.

Baca:  Beras Oplosan Marak, Kapolda Sidak Gudang Bulog

Hasil laboratorium, beras oplosan tidak memenuhi standar artinya tidak layak dikonsumsi di mana kadar pecah beras mencapai 58,59 persen, sedangkan standarnya 38 persen.

Kemudian butir menir beras oplosan mencapai 13,7 persen sedangkan butir menir standar SNI diperbolehkan 5 persen.

“Ada tiga sampel yang diuji, yakni beras baik 2017, beras kualitas buruk 2016 dan beras hasil campuran. Hasil yang di bawah standar ini hasil untuk beras oplosan tahun 2017 dengan 2016,” terangnya.

Berdasarkan keterangan dari tim ahli, diketahui bahwa Bulog merupakan BUMN sebagai pelaku usaha juga sehingga pihaknya dapat menjerat hukuman sesuai dengan Pasal 62 ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (2) Undang-undang Perlindungan Konsumen. “Hukumannya itu sekitar lima tahun penjara,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bulog Divre Sumsel Babel Bakhtiar AS berujar, selama pihaknya melakukan reprocessing memang tidak pernah melibatkan laboratorium untuk dicek kualitasnya sebelum beras disalurkan ke masyarakat.

Baca:  Beras Oplosan Terdeteksi Beredar di Sumsel

Dengan kejadian ini, pihak Bulog sendiri akan melakukan evaluasi, terlebih lagi saat melakukan reprocessing. Ke depannya, Bakhtiar berujar, akan lebih selektif lagi dan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang lebih baik.

Semua yang dilakukan Bulog Sumsel Babel sendiri, menurut Bahktiar dijalankan atas perintah pusat dengan memakai SOP yang telah ditentukan sebelum beras dibagikan kepada warga.

“Sebenarnya kami hanya menjalankan instruksi pusat. Karena semua perintah dari pusat, SOP-nya seperti itu,” kata dia.

Seperti diketahui, dalam kasus ini polisi sempat mengamankan tiga oknum pegawai Bulog Lahat tersebut, yakni Kepala Subdivre Lahat Agus M (26), Kepala Penanggungjawab Re-Proses Adit (29) dan Kepala Gudang Subdivre Lahat Febri (30). # idz

x

Jangan Lewatkan

Polda Endus Ladang Ganja Lain

Palembang, BP–Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel memusnahkan 335 butir ekstasi dan 86,34 gram sabu hasil ungkap dua perkara dengan tiga ...