Sekjen MPR RI: Media Sosial Harus Berdampak Baik Untuk Rakyat

293
Sekjen MPR RI Ma’ruf Cahyono

Jakarta, BP

 Sekjen MPR RI Ma’ruf Cahyono menegaskan,  pasca Pilkada DKI Jakarta, masyarakat dan bangsa Indonesia dihadapkan  berbagai persoalan terkait perbedaan.  Perdebatan di ranah media sosial antar elit politik serta   rakyat di warung kopi mengerucut pada persoalan perbedaan  SARA.
Berbagai elemen masyarakat lanjut Ma’ruf,   mengkhawatirkan hal tersebut menjadi meluas dan bermetamorfosis berpotensi memecah persatuan bangsa yang sudah susah payah dibangun para founding fathers bangsa Indonesia.
Menurut  Ma’ruf, mestinya  perbedaan SARA tidak perlu dipermasalahkan lagi, karena sejak dulu masyarakat Indonesia  sangat beragam.  Bahkan keberagaman itulah yang membentuk negara Indonesia dan  kekayaan bangsa. 
“Keberagaman bagian tak terpisahkan dalam sejarah dan proses perjalanan bangsa Indonesia. Persoalan intoleransi, radikalisme yang muncul disebabkan faktor tertentu  antara lain, cara pandang soal kesenjangan dan ketidakadilan oleh sebagian kelompok,” ujar Ma’ruf  di  Gedung MPR  Jakarta, Jumat (11/8).
Dikatakan,  perbedaan bukan persoalan  benar dan  salah.  Perbedaan   adalah sesuatu yang alamiah dan harus sama-sama dipahami  bahwa perbedaan itu sebagai kondisi  biasa saja  dalam masyarakat.
Fenomena media sosial yang sangat bebas sekarang kata dia,   mampu mewarnai bahkan mempengaruhi setiap peristiwa di tengah masyarakat. Media sosial sudah menjadi instrument publik dan instrumen negara untuk melakukan ‘engineering’ tujuan negara. Tujuan negara  bersifat ideologis, regulatif dan  media sosial harus  menjadi jembatan pada masyarakat untuk menciptakan suasana sesuai ideologi bangsa dan konstitusi.
Ditambahkan,  media sosial harus produktif,  bukan kontra produktif untuk membantu upaya negara menciptakan satu kondisi yang berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat.
Ma’ruf menilai, dampak jangka pendek dan jangka panjang media sosial    bisa sangat luar biasa, sebab bisa mengganggu aktivitas secara nasional bila pemberitaan media sosial simpang siur dan membentuk pola pikir.  Kalangan generasi muda adalah satu elemen bangsa yang sangat rentan terpengaruh dan akan berdampak pada perilaku mereka. “Media sosial jangan seperti itu, tapi di sisi lain media sosial akan berdampak positif, bila berkampanye positif  untuk masyarakat,” terangnya.
Dijelaskan  Ma’ruf, media sosial  bisa menjadi kontra produktif manakala tidak dipergunakan dengan baik.  Dan itu sangat disayangkan, di tengah upaya pembangunan negara dan dalam arti luas juga pembangunan karakter bangsa.
“Sudah saatnya ada instrumen untuk menjembatani dari negara kepada masyarakat yang harus dipayungi dengan kebijakan tepat sesuai kondisi masyarakat dan kondisi negara terus menerus. Ini cara merawat konstitusi kalau di MPR yang  kami sebut Empat Pilar,” katanya. #duk