Awas, Karet Gas Tak Standar!

115
Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto memperlihatkan karet tabung gas tak standar yang diamankan, Senin (31/7).

Palembang, BP

Sebanyak 54.000 karet gas elpiji yang tak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) disita Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumsel dari dua vendor yang berafiliasi dengan PT Pertamina di Sumatera Selatan.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, kedua vendor tersebut, PT Patra Trading dan PT Piranti Nusa Energi Persada. Dari PT Patra Trading disita 32.000 karet gas elpiji tak sesuai dengan SNI dan dari PT Piranti Nusa Energi Persada sebanyak 22.000.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui PT Patra Trading menggunakan karet tidak ber-SNI untuk tabung gas elpiji sejak 2012 lalu. Pada pemesanan terakhir yakni Maret 2017, perusahaan tersebut memesan karet tak ber-SNI sebanyak 400.000 buah.

“Di pemesanan terakhir dari total 400.000, yang tersisa 32.000 kami sita. Sebanyak 368.000 sudah beredar di masyarakat. Ini sudah terjadi sejak 2012. Tentunya yang sudah beredar di masyarakat lebih banyak lagi,” ujar Agung, Senin (31/7).

Dirinya menjelaskan, penyitaan berawal dari laporan masyarakat yang sering mengalami ledakan yang berasal dari tabung gas. Kemudian Polda Sumsel menyelidiki dua vendor tersebut sejak 14 Juli lalu.

Kedua vendor ini merupakan Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) di Jalan Palembang-Inderalaya, KM17, Kabupaten Ogan Ilir milik PT Piranti Nusa Energi Persada. Serta di SPPBE Plaju Palembang milik PT Patra Trading.

Dari penyelidikan didapati karet gas atau rubber seal tidak ber-SNI. “Saat ini kami belum menetapkan siapa yang jadi tersangka. Kami melakukan pemeriksaan manajemennya dulu dan penyidikan lanjutan,” tuturnya.

Atas kasus ini pihaknya tengah memeriksa empat orang saksi dari manajemen PT Patra Trading, yakni Manager Operasi berinisial AS, karyawan berinisial IH, Pengawas Kualitas berinisial M dan Kepala Ops Rayon I Sumatera berinisial RR.

Modus operandi yang digunakan SPPBE di Plaju Palembang PT Patra Trading karena perusahaan hanya menganggarkan untuk karet tidak ber-SNI seharga Rp65 per karet sedangkan yang ber-SNI Rp125 per karet.

Sedangkan Modus operandi yang digunakan SPPBE di KM17 karena kehabisan stok karet gas sehingga memasang karet tidak ber-SNI ini. Pihaknya menyita 22.000 karet tak ber-SNI dari perusahaan ini. Jumlah tersebut termasuk 11.000 karet telah dipasang pada tabung gas elpiji yang siap didistribusikan kepada masyarakat.

Pihaknya memeriksa empat saksi dari PT Piranti Nusa Energi Persada yakni Direktur berinisial AYL, Manager Operasional berinisal DK, Kepala Produksi berinisial HP, serta Pengawas Kualitas berinisial H.

Saat ini Polda Sumsel tengah memeriksa karet tersebut di laboratorium forensik serta meminta keterangan saksi ahli. Agung belum dapat memastikan tingkat bahaya apabila menggunakan karet gas tidak ber-SNI ini.

Namun dalam Undang-undang (UU) mengatur bahwa yang digunakan harus ber-SNI. Sedangkan yang dipasarkan saat ini kebanyakan tanpa SNI karena memang harganya murah.

“Yang dikhawatirkan jika karet ini tidak kuat, dan bocor sehingga menyebabkan kebocoran dan meledak. Jangan sampai masyarakat jadi korban,” ujarnya. # idz