Home / Headline / Oknum Bulog Oplos 200 Ton Beras

Oknum Bulog Oplos 200 Ton Beras

Kapolda Sumsel Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto menunjukkan barang bukti beras oplosan yang disita dari oknum pegawai Bulog Sub Divre Lahat.

Palembang, BP

Kepolisian Daerah Sumatera Selatan mengamankan tiga oknum pegawai Perum Badan Usaha Logistik (Bulog) Sub Divre Lahat yang melakukan pengoplosan beras untuk masyarakat miskin (raskin).

Kapolda Sumsel Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, ketiga oknum tersebut diduga melakukan pengoplosan beras pengadaan 2017 yang berkualitas baik dengan sisa beras pengadaan 2016 yang sudah tak layak dikonsumsi. Ketiganya masih berstatus saksi dan terus menjalani pemeriksaan secara intensif oleh petugas.

“Penangkapan berawal dari laporan dan keluhan masyarakat yang mendapati adanya beras tak layak konsumsi dari Bulog setempat. Selanjutnya kami selidiki,” ujar Agung, Senin (24/7).

Tiga oknum pegawai Bulog Lahat tersebut yakni Kepala Subdivre Lahat Agus M (26), Kepala Penanggungjawab Re-Proses Adit (29) dan Kepala Gudang Subdivre Lahat Febri (30) diamankan.

Saat penyelidikan, Subdit 1/Indagsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel pimpinan AKBP Ferry Harapan menemukan 1.089 ton beras tak layak konsumsi yang merupakan pengadaan 2016. Kondisi beras sudah berwarna kuning, pecah-pecah, dan beraroma tak sedap.

Baca:  Penyaluran Raskin Untuk Sumsel Baru Separoh

Ketiganya diduga mencampur beras pengadaan 2017 yang masih berkualitas baik dengan beras kualitas buruk pengadaan 2016.

“Dari total 1.089 ton beras kondisi buruk itu, sekitar 200-an ton sudah dicampurkan dengan beras berkualitas bagus dan sudah diedarkan ke enam kabupaten/kota. Yang belum sempat diedarkan ada di gudang sebanyak 39,3 ton. Inilah yang disita tim Satgas Pangan Polda Sumsel,” ujar Agung.

Enam daerah yang menjadi target penjualan tersebut yakni Lahat, Muaraenim, PALI, Empat Lawang, Pagaralam dan Prabumulih.

Beras yang dioplos itu dijual ke pasaran dengan harga Rp7.200 per kilogram, sama dengan harga jual beras layak konsumsi.

Polisi juga menyita barang bukti lain yakni dua unit drum modifikasi alat oplos, dua unit timbangan masing-masing 500 kilogram, satu unit mesin jahit, 25 karung kemasan 15 kilogram dan 25 karung kemasan 50 kilogram.

Baca:  Pemberian Beras Jangan Buat ASN Melempem Dalam Bekerja

“Kami tidak hanya fokus pada daerah ini. Sekarang tim juga disebar ke daerah lain untuk menyelidiki dugaan kasus ini juga terjadi di daerah yang lain,” kata dia.

Dalam kasus ini, jika terbukti bersalah, pelaku akan dijerat Pasal 62(1) Jo Pasal 8 (1) huruf a Undang-undang RI Nomor 8/99 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman lima tahun dan denda Rp2 miliar.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Bakhtiar AS mengklaim jika beras itu bukanlah oplosan, melainkan diproses ulang sebelum dibagikan ke masyarakat.

Reprocessing, artinya beras yang kurang bagus kita perbaiki dan itu didukung dengan SOP kita. Misalnya, dicampur dan bisa diberikan dan sebagainya. Ini menurut saya tidak menyalahi ketentuan,” kata Bahktiar.

Menurut dia, beras yang ada di gudang Bulog memang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan raskin. Sehingga seluruh beras yang dibagikan harus dalam keadaan layak konsumsi.

“Kami di Bulog ada kewajiban bahwa beras ini harus disalurkan dengan kondisi baik. Karena penyimpanan ini sudah berlangsung lama kami memohon ijin ke pemerintah pusat bahwa ini akan kami perbaiki dan dilakukan reprocessing. Kalau kita punya alat, kita melakukan pembersihan. Kalau tidak, mungkin kita campur dengan beras layak yang ada,” ujarnya.

Baca:  Jelang Natal dan Tahun Baru Stok Beras Sumsel Aman

Adanya penumpukan beras di gudang Bulog sendiri, menurut Bahktiar, merupakan cadangan untuk pemerintah. Sehingga tidak harus dihabiskan di tahun yang sama.

“Saya pikir di rapat sudah menjelaskan, kita ada keterlambatan pendistribusian (pada 2016) dan baru disalurkan April 2016. Mestinya pemerintah punya cadangan. Artinya pada 2016, tidak mesti harus dihabiskan untuk berjaga pada 2017 agar distribusi untuk stok cadangan tetap ada,” katanya.

Bahktiar menegaskan, seluruh gudang Bulog memang melakukan reprocesing untuk tetap menyediakan beras bagus, sebelum disalurkan ke masyarakat.

“Hampir seluruh gudang bulog, kalau yang tidak layak dilakukan reprocessing. Jalan terakhir kalau tidak layak dilakukan lelang. Saya menyatakan salah tidak (yang dilakukan Polisi – red), tapi prosesnya masih jalan. Mungkin kita (bulog) harus ada komunikasi ke polisi. Mungkin ini juga efek di Bekasi kemarin. Tapi ini berbeda,” tutup Bahktiar. # idz

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Program Lingkungan Diangkat Dodi Reza Alex Di Muba Cukup Bagus

Palembang, BP Direktur Yayasan Depati, yang merupakan yayasan yang berkonsentrasi bidang hutan, lingkungan dan adat, Ali Goik melihat program lingkungan ...