Home / Pariwisata / Belajar Sosok AK Gani, Pejuang Eksentrik Melalui Pedestrian Sudirman

Belajar Sosok AK Gani, Pejuang Eksentrik Melalui Pedestrian Sudirman

Palembang, BP — Adnan Kapau (AK) Gani, kodratnya memang sosok yang eksentrik dan punya aneka bakat. Meski seorang dokter, karena jiwa aktivisnya begitu kuat, pada perkembangannya beliau berkiprah ke ranah politik sebagai politisi. Bahkan pernah mencapai kedudukan sebagai Gubernur Militer Sumatera Selatan.

Hal tersebut terungkap dalam paparan sejarah di pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Sabtu (16/7) dengan judul A.K Gani Pejuang Eksentrik ( berwawasan Sipil Dan Militer).
Turut hadir anak Dr AK Gani diantaranya Priyanti Gani , tokoh masyarakat Palembang Eftiyani, malahan Bupati Lahat H Saifuddin Aswari Rivai sempat mengirimkan ucapan selamat dalam bentuk karangan Bunga dalam kegiatan tersebut dan acara tersebut mendapatkan apresiasi dan antusias dari masyarakat kota Palembang.
        Agustini  Mayang Sari dari Museum AK Gani menjelaskan Revolusi Fisik 1945-1949, putra asli Minang ini dijuluki pers asing sebagai “The Biggest Smuggler in Southeast Asia (Penyelundup Terbesar di Asia Tenggara).  Tentu saja karena pria kelahiran Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu pada 16 September 1905 itu, pada fase tersebut berkali-kali menjadi menteri dalam beberapa kabinet, sehingga jasa-jasanya dihargai pemerintah dengan anugerah gelar Pahlawan Nasional.
Menurutnya Adnan Kapau (AK) Gani, kodratnya memang sosok yang eksentrik dan punya aneka bakat. Meski seorang dokter, karena jiwa aktivisnya begitu kuat, pada perkembangannya beliau berkiprah ke ranah politik sebagai politisi. Bahkan pernah mencapai kedudukan sebagai Gubernur Militer Sumatera Selatan.
“AK Gani adalah putra dari seorang guru, bernama Abdul Gani Sutan Mangkuto, sedangkan ibunya bernama Siti Rabayah. Menariknya, keluarga besar AK Gani memang punya darah pejuang. Salah satu pamannya, Dr Abdul Rivai, dikenal sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan dan orang Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar dokter di Negeri Belanda,” katanya.
Menurutnya Dr. AK Gani adalah seorang pejuang sejati tanpa pamrih, mempunyai wawasan sipil dan militer yang sebagian umurnya dicurahkan kepada bangsa dan negara Indonesia.
A.K. Gani lahir di Palembayan, Sumatera Barat, pada tanggal 16 September 1905. Ayahnya adalah seorang guru. Ia menyelesaikan pendidikan awalnya di Bukittinggi pada tahun 1923. Kemudian ia pergi ke Batavia untuk menempuh pendidikan menengah dan mengambil sekolah kedokteran. Dia lulus dari sekolah dokter STOVIA pada tahun 1926.
Sejak remaja Gani aktif dalam kegiatan politik dan organisasi sosial. Pada era 1920-an, ia giat di berbagai organisasi kedaerahan seperti Jong Sumatranen Bonddan Jong Java. Pada tahun 1928 ia terlibat dalam Kongres Pemuda II di Jakarta. Pada tahun 1931 ia bergabung dengan Partindo, yang telah memisahkan diri dari Partai Nasional Indonesia tak lama setelah penangkapan Soekarno oleh pemerintah kolonial.
Pada tahun 1941, Gani membintangi sebuah film yang berjudul Asmara Moerni dan berpasangan dengan Djoewariah. Film ini disutradarai Rd. Ariffien dan diproduksi oleh The Union Film Company. 
Meskipun sebagian kalangan menganggap keterlibatan Gani dalam film telah menodai gerakan kemerdekaan, namun ia menganggap perlu untuk meningkatkan kualitas film lokal. Meski mendapat kritikan, film satu-satunya itu sukses secara komersial.
Setelah pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, Gani menolak untuk berkolaborasi. Oleh karena itu ia ditangkap pada bulan September 1943 hingga bulan Oktober tahun berikutnya.
Setelah proklamasi dan selama masa revolusi fisik, Gani memperoleh kekuasaan politik dengan bertugas di kemiliteran. Pada tahun 1945, ia menjadi komisaris PNI dan Residen Sumatera Selatan.
Dia juga mengkoordinasikan usaha militer di provinsi itu. Gani menilai Palembang sebuah lokomotif ekonomi yang layak untuk bangsa yang baru merdeka. Dengan alasan, bahwa dengan minyak Indonesia bisa mengumpulkan dukungan internasional. Ia merundingkan penjualan aset-aset pihak asing, termasuk perusahaan milik Belanda Shell. Gani juga terlibat dalam penyelundupan senjata dan perlengkapan militer. Beberapa koneksinya di Singapura, banyak membantu dalam tugas ini.
Sejak 2 Oktober 1946 hingga 27 Juni 1947, Gani menjabat sebagai Menteri Kemakmuran pada Kabinet Sjahrir III. Ketika menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, ia bersama dengan Sutan Sjahrir dan Mohammad Roem menjabat sebagai delegasi Indonesia ke sidang pleno ketiga Perjanjian Linggarjati. Dia juga bekerja untuk membangun jaringan nasional perbankan serta beberapa organisasi perdagangan.
Setelah jatuhnya Kabinet Sjahrir, ia bersama  Sjarifuddin dan Setyadjit Soegondo menerima mandat untuk membentuk formatur kabinet baru. Dalam kabinet tersebut, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kemakmuran. Gani adalah anggota kabinet pertama yang ditangkap pada masa Agresi Militer Belanda I, namun kemudian ia dibebaskan. Dalam Kabinet Amir Sjarifuddin II, ia juga duduk pada posisi yang sama hingga kejatuhan kabinet ini pada tanggal 29 Januari 1948.
Setelah revolusi berakhir pada tahun 1949, Gani menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan. Pada tahun 1954, ia diangkat menjadi rektor Universitas Sriwijaya di Palembang. Ia tetap aktif dan tinggal di Sumatera Selatan hingga wafat pada tanggal 23 Desember 1968. Dia dimakamkan di Taman Pemakaman Pahlawan Siguntang di Palembang
“Untuk mengenang jasa-jasanya, pada tanggal 9 November 2007 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada A.K. Gani. Gelar ini diterimanya bersama dengan Slamet RijadiIda Anak Agung Gde Agung, dan Moestopo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 66/2007 TK. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit di Palembang, Rumah Sakit AK Gani dan nama ruas jalan beberapa kota di Indonesia,” katanya.
Sedangkan pengamat sejarah Palembang Rd. Muhammad Ikhsan menjelaskan  Dr. A.K. Gani pada masa kancah revolusi merupakan tokoh penting tak hanya di Palembang tetapi juga di Sumatera.
Bahkan peranan beliau jauh pada masa Sumpah Pemuda tahun 1928 telah menjadi tokoh pergerakan pemuda mewakili Jong Sumatranen Bond. A.K. Gani memainkan peranan penting dalam ranah ekonomi dan militer. pada masa itu diakui Palembang yang mengendalikan -perdagangan Republik dengan Singapura dan Semenanjung Malaya serta terus menerus menjadi sumber utama persediaan minyak bumi.
Beliau adalah salah satu tokoh nasional dari Sumatera yang paling terkemuka dan menetap di Palembang selama tahun pertama revolusi. Setelah diangkat sebagai Menteri Kemaklmuran pada bulan November 1946, ketika itu memainkan peran penting dalam pembahasan menjelang Perjanjian Linggajati, tokoh ini terus menerus menggunakan pengaruhnya dalam perkembangan ekonomi di pulau Sumatera. (Sumber buku kepialangan Politik dan Revolusi Palembang 1900 – 1950 : Dr. Mestika Zed),” katanya.
        Ketua Dewan Kesenian Palembang Vebri Alintani meminta generasi muda sekarang jangan melupakan sejarah dan apa yang dilakukan AK Gani terhadap republik.
        Dia juga mendesak pemerintah juga memperhatikan peninggalan AK Gani yang kini banyak disimpan di Museum AK Gani.
“ Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah,” kata Vebri.#osk
x

Jangan Lewatkan

Rembrandt Frerichs Trio Belanda Meriahkan Musi Jazz Sriwijaya

Palembang, BP–Maestro musik Jazz asal Belanda yang tergabung dalam Rembrandt Frerichs Trio berkolaborasi dengan musisi kenamaan Indonesia, Dwiki Dharmawan, memeriahkan ...