Home / Palembang / Pemda Harus Serius Berantas Pencurian Benda Cagar Budaya di Sungai Musi

Pemda Harus Serius Berantas Pencurian Benda Cagar Budaya di Sungai Musi

Rizal Kenedi

Palembang, BP

Aksi  pencurian benda peninggalan bersejarah khususnya artefak di wilayah perairan Sungai Musi masih marak terjadi.
Selain lemahnya penerapan Undang-undang (UU) Cagar Budaya, rendahnya tingkat ekonomi penduduk juga diduga menjadi pemicu utama maraknya pencurian aset negara ini, hingga kini baik Pemkot Palembang, Pemprov Sumsel , Polda Sumsel seakan menutup mata akan aksi pencurian tersebut yang terjadi didepan mata.
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) H Rizal Kenedi meminta keseriusan pemerintah provinsi Sumsel dan pemerintah kabupaten kota untuk menjaga dan melestarikan benda cagar budayanya.
“ Kita berharap kedepan ini ada semacam divisi  khusus atau tum khusus untuk penyelamatan ini ,” katanya, Jumat (30/6).
        Menurutnya  pemerintah harus serius dalam memberantas pencurian benda cagar budaya di dalam Sungai Musi , lalu terkait  penyelam yang mencari benda cagar budaya di dalam perairan Sungai Musi kadang mendapatkan benda cagar budaya tersebut menurutnya harus disikapi.
“ Kita paling tidak dari pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada penyelam yang menemukan benda cagar budaya tersebut, kita himbau kepada masyarakat yang menemukan benda bersejarah terutama di Sungai Musi untuk segera di informasikan baik  pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota , “ katanya.
        Namun agar masyarakat mau memberikan informasi tersebut maka masyarakat harus diberikan apresiasi dari pemerintah daerah atau tali asih sebagai tanda terima kasih .
“Tidak perlu melakukan pendekatan hukum, karena mereka ini menemukan benda cagar budaya tanpa sengaja, bukan mereka menyelam untuk mencari harta karun di Sungai Musi, seperti orang gali sumur namun menemukan benda cagar budaya,” katanya.     
Sebelumnya arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwati  mengaku pesimistis pencurian itu dapat dibasmi dalam waktu singkat.Sebab,selama perekonomian penduduk setempat belum bisa diperbaiki serius oleh pemerintah, pencurian semacam itu akan terus berkepanjangan.
“Penyelam-penyelam liar ini butuh uang. Jadi, kalau berhasil menemukan benda di bawah air, biasanya langsung dijual ke pengumpul untuk kebutuhan hidup,” katanya.
Dia mengatakan, semakin maraknya perburuan terhadap barang berharga ini, juga akibat lemahnya pengawasan dan perlindungan terhadap benda cagar budaya, terlebih belum ada peraturan kuat di daerah yang mengatur soal penyelamatan benda bersejarah. Retno menyebutkan, adapun sejumlah lokasi yang jadi sasaran penyelam liar itu, di antaranya di sekitar PT Pusri sampai Pulau Kemaro. Hal itu cukup beralasan, karena di kawasan tersebut dulunya merupakan pusat keberadaan keraton-keraton terkenal di Palembang.
Selain keraton Kuto Garing dan Keraton Beringin Janggut, di sekitar wilayah itu juga pernah ada Keraton Benteng Kuto Besak, bahkan Kesultanan Palembang Darussalam.
“Di sekitar tepian itu banyak yang bisa ditemukan. Kedalamannya pun paling sekitar 3 meter, karena disepanjang wilayahitu situs arkeologinya padat,” kata Retno. Ia juga mengaku pernah mendengar kabar bahwa di wilayah perairan itu pernah ditemukan arca emas yang dijual hingga Rp8 miliar. Sayangnya, hingga saat ini ia dan rombongan belum pernah sama sekali melihat barang temuan tersebut. Padahal, jika benar arca yang ditemukan itu berasal dari zaman Khan, temuan itu bisa menjadi bukti kuat bahwa hubungan perdagangan antara Palem-bang dan China sudah terjalin sebelum 2 Masehi lalu.
“Sayangnya,kita tidak pernah lihat itu.Ya, kalo PKL kan ada Pol PP yang menertibkan. Nah, penyelam liar ini belum ada,” katanya.
 Menurut Retno, penemuan arca emas itu bisa saja benar adanya. Karena, dalam beberapa penelitian mereka Balai Arkeologi pernah menemukan semacam botol merkuri berukuran besar. Berdasarkan penelitian pula diketahui, kalau cairan merkuri itu banyak digunakan untuk memisahkan emas dari tanah.
Penemuan itu dikatakannya berada di sekitar Karang Anyar dan Gandus yang diperkirakan memiliki banyak deposit emas. Retno mengungkapkan, sejauh ini kalaupun ada barang bersejarah yang ditemukan, paling banyak berupa keramik China, uang logam VOC dan kolonial, atau uang asli yang dikeluarkan pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam.
Sebaliknya, di kawasan Hilir, benda bersejarah yang banyak ditemukan yakni berupa manik-manik. “Hasil temuan itu ada yang bisa ditemui di Pasar Cinde,saya pernah lihat langsung. Kalau di sini paling koin-koin yang dijual murah antara Rp300–500/keping. Kalau artefak lain saya rasa sudah dijual tak tahu ke mana,”katanya.
Selain di Sungai Musi, artefak yang masih banyak berada di wilayah perairan adalah di pulau Bangka Belitung (Babel).Namun, bukannya peninggalan kerajaan, tapi berupa peninggalan kapal kapal yang pernah tenggelam di daerah tersebut. Sampai saat ini, kata dia, tak kurang ada 18 titik temuan barang peninggalan kapal di perairan Babel.#osk
 
Baca:  Pemda Diminta Buat Perda Kebersihan Lingkungan
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Tambah Mobil Crane Untuk Perbaikan Lampu Jalan

Palembang, BP — Mobil crane yang dimiliki saat ini untuk perbaikan lampu jalan dan memangkas pohon, dinilai Pemerintah Kota Palembang melalui ...