Home / Budaya / Penobatan Soesoehoenang dan Sultan Palembang

Penobatan Soesoehoenang dan Sultan Palembang

Untuk upacara pengukuhan sultan, di Balie (Balei?) Bandang—yang terdapat di halaman dalam kraton—disiapkan sebuah panggung yang dihiasi dengan kain-kain satin halus dengan warna-warna kerajaan-kerajaan di Timur dan kain-kain mewah lainnya.

Palembang, 1971 (Tropenmuseum, Amsterdam)

Oleh FRIEDA AMRAN
[email protected]

DI atas panggung itu, disiapkan tiga buah kursi. Pun ketiga kursi itu bertutupkan kain-kain mewah. Pasukan-pasukan Belanda siaga berbaris di kiri-kanan gapura Samarikin yang menghadap ke sungai.

Menjelang pk 10.00, Leicher dan Kolonel Bischoff melangkah tegap ke tepian Musi. Mereka menjemput Jendral de Kock, staf dan beberapa orang perwira Angkatan Laut yang baru saja turun ke darat. Sementara itu, letnan-kolonel Keer dan Kapten George bertugas menjemput Soesoehoenang; Letnan-kolonel Arnold dan Asisten-Residen du Bois menjemput Sultan (baru) dari gapura. Keempat orang Belanda itu bertugas mendampingi dan mengantarkan Soesoehoenang dan Sultan Palembang yang baru ke dalam kraton.

Pk 11.30, Soesoehoenang turun dari kapal dan menjejakkan kaki di tanah Palembang. Marching-band Hindia-Belanda mulai membunyikan nada-nada pertama. Dengan upacara militer lengkap, diiringi musik dari band tadi, Keer dan Du Bois mendampingi Soesoehoenang berjalan ke balie bandang. Ia disambut oleh Jendral de Kock dan Komisaris, yang mempersilakannya naik ke atas panggung dan duduk di sebelah kanan Sang Jendral. Tak lama kemudian, Sultan pun diantarkan ke dalam kraton—dengan upacara yang sama megahnya. Sultan baru mengambil tempat di kursi di sebelah kiri Sang Jendral.

Pengaturan tempat duduk dan urut-urutan penyambutan Soesoehoenang dan Sultan menunjukkan bahwa sultan yang baru sebetulnya dianggap tidak layak dan/atau tidak memiliki pengetahuan dan kewibawaan yang memadai untuk memegang tampuk sebagai sultan. Dalam pandangan Leicher, memang demikianlah halnya. Sultan Palembang adalah seorang lelaki yang baik hati dan ramah. Akan tetapi, ia cepat sekali dapat dipengaruhi untuk menyetujui suatu saran; dalam waktu singkat, ia dapat berubah pikiran oleh bujukan orang lain lagi. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak dapat mempertimbangkan dan menilai perkara-perkara penting yang acap rumit. Ia cenderung membiarkan dirinya dibimbing seperti seorang anak kecil. Namun demikian, ia menyimpan keinginan besar untuk berkuasa di dalam hatinya.

Baca:  Atoeran Boedjang Gadis No. 8-18

Setelah Soesoehoenang, Jendral de Kock dan Sultan duduk di atas podium, perwira-perwira Hindia-Belanda mengambil tempat di sebelah kanan podium. Para pangerang, pembesar-pembesar Palembang serta tokoh-tokoh Arab dan Melayu yang terkemuka, mengambil tempat di sebelah kiri podium. Sementara semua orang ini mengambil tempat, musik dari marching band terus terdengar.

Dengan bantuan de Sturler—penerjemah resmi Hindia-Belanda, Jendral de Kock membacakan sebuah  maklumat yang ditujukan kepada rakyat Palembang. Maklumat itu mengukuhkan penobatan Soesoehoenang dan Sultan Palembang. Pada saat itu, tak terdengar suara apa pun kecuali suara Sang Jendral dan de Sturler yang menerjemahkan kata-katanya ke dalam bahasa Melayu. Semua hadirin mendengarkan dengan seksama. Setelah pembacaan maklumat itu, baik Soesoehoenang maupun Sultan menandatangani masing-masing sebuah surat pernyataan bahwa kontrak perjanjian—yang ditandatangani di Buitenzorg (Bogor)—dibuat dengan sukarela, tanpa paksaan apa pun dan bahwa kontrak perjanjian itu akan ditaati dengan sebaik-baiknya.

Jendral de Kock menyampaikan selamat kepada  Soesoehoenang dan Sultan Palembang. Resmilah sudah. Kesultanan Palembang telah memiliki Sultan yang baru. Pasukan-pasukan Belanda di depan gapura kraton melepas salvo sebanyak 21 kali. Tembakan-tembakan itu dibalas dengan 21 tembakan pula dari pasukan-pasukan Belanda di atas kapal-kapal yang berlabuh di depan kota. Bendera-bendera dan panji-panji berkibar di tiang-tiang layar kapal-kapal itu.

Upacara penobatan sultan telah selesai. Soesoehoenang dan Sultan diantarkan ke luar kraton, sampai ke dermaga di depannya. Keduanya naik ke atas bidar kebesaran masing-masing, kembali ke rumah masing-masing, meninggalkan kraton.

Jendral de Kock kembali ke kapalnya. Pk 11.00, ia meneruskan upacara pengukuhan hari itu. Pangerang Djaya Ningra (putera kedua Soesoehoenang) menjadi Pangerang Adipattie; Pangerang Adi Widjaya menjadi perdana mantrie; mantan Adipattie Toea menjadi Panumbahan dan mantan Adipattie Moeda memperoleh gelar Pangerang Dipa. Pengangkatan dan pengukuhan lainnya di dalam struktur kepemimpinan kesultanan diserahkan kepada Soesoehoenang.

Baca:  Orang Gunung di Banka

Upacara resmi itu telah selesai. Alat-alat musik milik marching band telah disimpan. Letnan-kolonel Cochius, Kapten van der Wijck serta Pangerang Wira Wikrama memeriksa tepian kiri dan kanan Sungai Soengsang. Mereka mencari tempat yang baik untuk membangun sebuah benteng. Menurut rencana, benteng itu akan menjadi tempat tinggal para pegawai Hindia-Belanda serta segala-sesuatu yang diperlukan untuk mengawasi pelaksanaan kontrak perjanjian oleh Soesoehoenang dan Sultan Palembang.

Ketiga orang di atas menemukan tempat yang paling strategis, yaitu lokasi rumah tinggal Demang Osman. Tempat itu terletak persis berhadapan dengan kraton. Letnan Cochius mengusulkan agar benteng yang direncanakan, dibangun dengan 4 buah bastion atau menara. Benteng itu harus cukup besar untuk menampung garnisun yang terdiri dari 400 orang anggota, Residen, pegawai-pegawai Hindia-Belanda. Di dalamnya harus tersedia pula ruang untuk membangun kantor dan gudang-gudang yang diperlukan. Seluruh bangunan itu dilengkapi dengan berbagai persenjataan berat dan ringan: 6 buah meriam berkaliber 24 (dari kapal Nassau); 12 buah meriam berkaliber 12; 12 buah meriam berkaliber 8 (dari meriam-meriam kesultanan yang disita) serta dua buah mortir berkaliber 8 (dari artileri ekspedisi militer itu).

Pada tanggal 18 Juli, melalui sebuah disposisi, Jendral de Kock menyetujui pembangunan benteng Hindia-Belanda sesuai dengan usulan yang diajukan Letnan Cochius. Keesokan harinya, kapal dagang Emile tiba di Palembang. Kapal itu membawa uang sebanyak ƒ50.000,- untuk perbendaharaan Hindia-Belanda, pakaian serta perbekalan makanan untuk pegawai-pegawai Belanda di Palembang.

Residen, de Sturler, berfungsi sebagai sekretaris dan penerjemah. Dalam aspek militer, ia menjadi letnan kedua bagi Leicher, komandan pasukan pionir Hindia-Belanda di Palembang (catatan FA: dari uraian di atas, tampaknya kedudukan sebagai residen berada di bawah kekuasaan militer). De Sturler adalah perwira muda yang pandai. Ia juga dikuasakan mengangkat perwira-perwira militer untuk sementara menjalankan tugas-tugas sipil selama pegawai-pegawai pemerintahan yang didatangkan dari Pulau Jawa belum tiba.

Sesuai jadwal, pada tanggal 20 Juli 1821, Jendral de Kock meninggalkan Palembang. Sultan Palembang serta para pangerang mengantarkannya dari kraton ke kapal fregat van der Werff. Pasukan-pasukan dari resimen ke-18 pun berangkat dengan kapal itu. Tembakan-tembakan penghormatan dilepas ketika kapal itu mengembangkan layar meninggalkan Palembang. Di kota, garnisun militer yang ditinggalkan terdiri dari dua pasukan resimen infanteri, sebuah detasemen artileri dan satu pasukan pionir.

Baca:  Orang Laut

Sebelum meninggalkan Palembang, Jendral de Kock sempat berjanji: bila ada kesempatan baik, isteri Leicher akan diantarkan ke Palembang. Beberapa bulan kemudian, tepatnya di bulan September, ternyata jendral itu memang menepati janjinya. Nyonya Leicher tiba.

Perempuan Belanda itu merupakan satu-satunya perempuan berkulit putih di seluruh Palembang. Ia cepat beradaptasi dengan tempat tinggalnya yang baru, sebuah rumah yang bersih dan luas. Walau Leicher dan isterinya berbahagia, ternyata Nyonya Leicher kurang cocok dengan udara lembab rawa-rawa kota Palembang. Ia jatuh sakit. Segala obat yang diberikan kepadanya tidak membantu. Ia tetap sakit. Akhirnya, dokter Belanda yang bertugas di Palembang, memberikan saran untuk membangun sebuah rumah di atas sungai. Sebuah rumah rakit.

Di Palembang, orang biasa menggunakan rakit untuk membawa hasil hutan dan pertanian dari daerah dataran tinggi ke kota. Banyak pula orang yang membangun rumah di atas rakit-rakit seperti itu. Rumah-rumah rakit itu serupa dengan kapal-kapal ponton yang melayari Sungai Rijn di negeri Belanda. Di zaman pemerintahan Sultan Machmoed Badar Oedin, orang-orang Cina (yang hanya boleh tinggal di atas air) membuat rumah-rumah rakit yang bagus dan nyaman. Rumah-rumah rakit yang ditinggali oleh orang-orang Eropa setelah kepergian ekspedisi militer Palembang dibangun dan ditata menyerupai rumah-rumah rakit orang Cina dengan pembagian ruang yang agak lain. Pun, rumah rakit untuk orang Eropa memiliki lebih banyak jendela untuk memudahkan peredaran udara.

Pustaka Acuan:

THS Leicher. Het Leven en de Lotgevallen van Wijlen FP Leicher, Oost Indische Pionnier. Groningen: S. Barghoorn. 1843

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

90 Menit Judika Bius Penggemarnya di Palembang

Palembang, BP–Judika berhasil membius para penonton yang memadati Ballroom Aryaduta Hotel Palembang, Jumat (27/7/2018) malam. Dalam konser bertajuk ‘Special Night ...