Home / Budaya / Ketenteraman Semu di Palembang

Ketenteraman Semu di Palembang

Dokter Belanda di Palembang menyarankan agar Leicher dan isterinya tinggal di atas air Moesi untuk memulihkan kesehatan perempuan itu.

Rumah rakit di Sungai Musi, 1917 (Tropenmuseum, Amsterdam)

Oleh FRIEDA AMRAN

LEICHER segera menuruti saran itu dan memanggil beberapa orang buruh untuk membangun sebuah rumah rakit. Beberapa buluh bambu yang panjang. Karena berongga, batang-batang bambu yang ringan itu terapung-apung dengan mudahnya di atas air. Semua bambu itu diikat berlapis-lapis dengan kencang  satu sama lain sehingga membentuk sebuah rakit. Di atasnya, buruh-buruh itu mendirikan kerangka untuk dinding, jendela dan pintu.

Di bagian dalam, sebuah sekat membatasi dua buah kamar; sebuah gudang kecil dibuat dengan memasang sekat lain. Di gudang itu, dibuat pula ruangan di pagunya dengan kadjang atau anyaman bambu. Lantai rumah itu terbuat dari papan. Kesemua bahan bangunan itu dapat diperoleh dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dedaunan nipah digunakan sebagai atap. Berbeda dengan rumah Belanda yang berjendela kaca, jendela di rumah-rumah Palembang dilengkapi dengan trails untuk memudahkan angin berseliweran ke dalam dan daun jendela untuk keamanan penghuninya.

Dalam waktu singkat, rumah rakit itu selesai. Sebuah serambi terdapat di bagian depan yang menghadap ke sungai. Dari tempat itu, mereka dapat menikmati sepoi angin sore hari. Di dalam terdapat kamar di kiri-kanan rumah itu. Sebuah gang di tengah-tengah rumah memisahkan kedua kamar itu. Di ujung gang itu, di bagian belakang rumah, terdapat sebuah pintu ke darat. Rumah rakit itu dan daratan dihubungkan oleh sebuah jembatan terapung.

Rumah rakit yang ditempati oleh Leicher dan isterinya merupakan rumah induk. Di belakangnya terdapat rumah rakit kedua, tempat tinggal dari pembantunya dan dapur. Kedua rumah rakit itu tertambat di tonggak-tonggak yang dipancangkan di darat. Konstruksi ini praktis sekali karena bila pemilik rumah rakit itu hendak pindah tempat, ia tinggal melepaskan ikatan rakitnya saja dan pindah ke tempat lain.

Baca:  Dr Thomas Horsfield dan Pulau Banka

Sebelum pindah ke rumah rakit itu, Leicher dan isterinya tinggal di tepian kanan Sungai Musi, di tempat yang berseberangan dengan kraton. Rumah-rumah di dekat tempatnya tinggal masih banyak menunjukkan keindahan (disain) masa lalu. Ia tinggal di rumah milik Demang Osman. Rumah itu cukup besar untuk menampung perwira-perwira Belanda (termasuk Leicher dan isterinya) serta anggota-anggota pasukan pionir. Lokasi rumah itulah yang direncanakan akan menjadi tempat dibangunnya benteng Frederik.

Bagaimana pun, di mata Leicher, tak ada rumah yang dapat menyaingi kenyamanan rumah rakit yang sedang dibangunnya. Rumah rakitnya akan memiliki pemandangan indah pada kapal-kapal dan perahu-perahu yang memenuhi Sungai Musi. Tak sabar ia menunggu rumah itu rampung. Akhirnya, tibalah saatnya mereka pindah. Dalam waktu singkat, kesehatan Nyonya Leicher pulih; akan tetapi kini gantian, Leicher sendiri yang jatuh sakit.

Sementara itu, kapal van der Werff yang membawa Jendral de Kock tiba di Muntok pada tanggal 31 Juli 1821. Walaupun kota Muntok aman-aman saja, jendral itu memerintahkan beberapa kapal kecil untuk berpatroli hilir-mudik di perairan sekitar Pulau Banka. Pemerintah Hindia-Belanda menduga bahwa perairan di sekitar itu menjadi tempat persembunyian para perompak. Di Muntok, kerusakan-kerusakan kapal van der Werff diperbaiki. Jendral de Kock baru dapat meneruskan perjalanan beberapa hari kemudian, pada tanggal 2 Agustus. Dua minggu kemudian, pada tanggal 16 Agustus 1821, ia tiba di Batavia dan disambut meriah sebagai pahlawan yang berhasil membuat Sultan Machmoed Badar Oedin bertekuk lutut.

Ekspedisi militer Hindia-Belanda yang dipimpin oleh Jendral de Kock berhasil. Dalam waktu sepuluh tahun, Kesultanan Palembang telah mengalami tiga kali pergantian sultan; dan, sultan yang kini memegang berkuasa bukanlah pemimpin yang kuat. Pemerintah Hindia-Belanda memperkirakan bahwa kepemimpinannya takkan berlangsung terlalu lama.

Selama dua tahun, Sultan Achmat Najam Oedin memerintah. Pada waktu yang bersamaan, JJ van Sevenhoven menjabat sebagai Komisaris di Palembang dan perwakilan pemerintah Hindia-Belanda. Namun, karena Sang Sultan dianggap tidak mampu dan tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagai sultan,  Achmat Najam Oedin (terpaksa) menandatangani perjanjian baru yang diajukan oleh JJ van Sevenhoven. Di dalam perjanjian itu, Sang Sultan menyerahkan kekuasaannya atas Kesultanan Palembang. Penyerahan kekuasaan itu disertai catatan bahwa Sultan akan tetap menikmati hak atas penghormatan militer, hak atas lambang dan tanda-tanda kebesarannya, hak atas tunjangan tahunan dan hak berperan-serta dalam pengadilan sipil dan pidana. Perjanjian itu tidak mengubah apa pun bagi Soesoehoenang. Segala hak istimewa, tunjangan dan hak-hak lain yang diberikan kepadanya dalam perjanjian tahun 1821 tetap berlaku.

Baca:  Atoeran Doesoen 11-17; Atoeran Berladang dan Ambil Ikan 1-13

Setelah menjadi Komisaris di Palembang, JJ Sevenhoven telah menghapuskan kewajiban kerja paksa (secara adat) dan aneka pajak yang dibebankan pada penduduk. Setiap orang mendapatkan hak guna atas sumber daya yang dimilikinya dan hak menikmati hasil kerja dan karya masing-masing. Sevenhoven juga menetapkan sanksi hukuman berat bagi tindak memperbudak orang merdeka. Namun, segala niat baik yang mendasari aturan-aturan baru itu menjadi nihil karena tidak didukung dengan kerjasama Sultan dan pembesarnya.

Pada bulan Desember 1824, pemerintah Hindia-Belanda di Palembang mendapat kabar bahwa sejak bulan Juli tahun itu juga, terjadi beberapa kali pemberontakan di daerah Rawas. Rupanya, pemberontakan itu terjadi karena baru diterapkannya penarikan pajak tanah di daerah itu. Pangerang Soera Di Laga ditugaskan untuk memadamkan pemberontakan itu. Namun di luar dugaan, kedatangannya disambut dengan keresahan dan kemarahan. Konon, beberapa orang penujum berkeliling dari desa ke desa, menyebarkan keresahan. Konon pula, keresahan dan pemberontakan-pemberontakan itu didukung oleh sultan dan kerabatnya. Belanda menduga bahwa semua itu, ditambah dengan massa yang berhasil dikumpulkan oleh para ulama, bertujuan untuk menentang pemerintah Hindia-Belanda.

Ketika berita mengenai pemberontakan itu terdengar oleh Residen, ia segera berkunjung ke Sultan dan Soesoehoenang. Ia menanyakan kebenaran berita itu dan menekankan bahwa para pemberontakan itu harus diredam. Baik Sultan maupun Soesoehoenang mengiyakan kata-kata Residen van Sevenhoven. Sejak saat itu, dua kali seminggu Sultan mendatangi Residen untuk menyampaikan bahwa ia sungguh puas dengan situasi di Palembang dan bahwa ia pribadi dan ayahandanya, Soesoehoenang, mengakui kekuasaan Belanda di Palembang.

Baca:  GJ Gersen dan Atoeran Boedjang Gadis

Menurut Leicher, pada tanggal 21 November 1823, ke-20 orang anggota garnisun di Palembang diduga termakan racun. Karena dokter di Palembang segera membantu dengan memberikan penawar racun, tak seorang menjadi korban. Orang-orang Belanda di Palembang menduga bahwa racun itu diberikan oleh anak buah Sultan.  (Catatan FA: Di bagian ini, catatan Leicher melompat-lompat dari uraian mengenai tahun 1824 dan kemudian, kembali ke peristiwa yang terjadi di tahun 1823. Tidak dijelaskan olehnya kapan persis terjadinya peristiwa di bawah ini. Kemungkinan masih berkaitan dengan peristiwa peracunan tahun 1823).

Residen mengutus beberapa orang untuk menangkap oknum-oknum yang diduga meracuni anak buahnya. Namun, rupanya ketika mereka tiba, orang-orang itu malahan ditangkap oleh pasukan-pasukan Sultan. Pada hari yang sama, semua orang berbangsa pribumi yang bekerja sebagai pegawai di kantor Residen diundang oleh Soesoehoenang. Hampir semuanya menerima undangan itu.

Pukul 9 malam, Residen menerima kabar bahwa semua pegawai pribumi itu telah ditangkap oleh Soesoehoenang. Salah seorang di antara mereka—yang sia-sia berusaha melarikan diri—terluka. Melalui sebuah surat, Residen segera mempertanyakan hal itu kepada Sultan dan Soesoehoenang. Ia meminta agar Sultan dan Soesoehoenang mengutus seseorang untuk menjawab suratnya.

Surat itu didiamkan saja oleh Sultan dan Soesoehoenang. Pembawa surat dari Residen pun tak kembali ke markas karena ia ditahan pula. Ketenteraman kota Palembang tampaknya hanya semu belaka.

Pustaka Acuan:

THS Leicher. Het Leven en de Lotgevallen van Wijlen FP Leicher, Oost Indische Pionnier. Groningen: S. Barghoorn. 1843

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

90 Menit Judika Bius Penggemarnya di Palembang

Palembang, BP–Judika berhasil membius para penonton yang memadati Ballroom Aryaduta Hotel Palembang, Jumat (27/7/2018) malam. Dalam konser bertajuk ‘Special Night ...