Pakaian Putri Sumsel Jadi Sorotan

Palembang, BP

BP/DUDY OSKANDAR
DISKUSI-DKP menggelar diskusi terkait pakaian yang dibawakan putri Sumsel, Rabu (29/3).

Gagal meraih penghargaan busana tradisional terbaik , penampilan wakil Sumsel Nur Harisyah Pratiwi, pada parade busana nasional sebuah kontes kecantikan, Senin (27/3) malam justru menjadi sorotan.

“Saya tidak paham apakah konseptor dan Putri Sumsel tidak paham atau justru dengan sengaja melanggar etika atau bahkan melecehkan nilai-nilai keislaman Palembang Darussalam pada malam unjuk bakat Puteri Indonesia,” kata Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) Vebri Alintani saat menggelar diskusi di Sekretariat DKP , Rabu (29/3).

Menurut Vebri, pada malam unjuk bakat Putri Indonesia 2017, Putri Sumsel menampilkan fashion busana bertema Ratu Sinuhun. Namun ada yang bertolak belakang antara konsep dan tampilan busana.

“Lihatlah bagian depan yang terbuka hingga terlihat paha sang putri. Menurut saya, jika konsisten dengan konsep, maka, tidak boleh ada pertunjukan aurat (paha) seperti itu. Ratu Sinuhun adalah isteri salah satu Raja Palembang Sido ing Kenayan, yang taat menjalankan syariat Islam dan dikenal sebagai tokoh pembuat Undang-Undang Adat Simbur Cahaya yang berlaku di Uluan Batanghari Sembilan,” katanya.

Dalam satu Bab UU tesebut, terdapat aturan yang memproteksi perempuan dari pelecehan laki laki. Nah, busana yang digunakan puteri Sumsel ini menurutnya sangatlah melanggar etika.

Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MPI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang menjadi pemateri Kemas AR Panji melihat secara etika budaya Sumsel mengatakan secara etika dan budaya Sumsel, tidak pas digunakan oleh caca (Putri Sriwijaya). Apalagi tema yang digunakan adalah Ketokohan Ratu Sinuhun yang merupakan tokoh wanita dari Kerajaan Palembang yang telah membuat UU Simbur Cahaya.

“Penggunaan peridon juga tidak tepat karena peridon bukan benda yang dibawa sebagai persembahan, tapi untuk tempat membuang air liur (ludah),” katanya.

#osk