Home / Sumsel / Pagaralam / Pagaralam Butuh Banyak Pembenahan

Pagaralam Butuh Banyak Pembenahan

Palembang, BP

Henky Solihin

Banyak permasalahan yang harus segera diatasi dari Kota Pagaralam, salah satunya kopi Besemah jenis Arabika dan Robusta sudah ketinggalan jauh dari nilai harga jual dengan kopi-kopi daerah Jawa, Medan dan Aceh. Kopi di daerah tersebut kini sudah membuka dan mempunyai pasar pasti (real market) .

Bahkan masing-masing daerah sudah melakukan ekspor secara mandiri. Bahkan kopi Arabika Kintamani Bali, kopi Arabika Gayo Aceh, Kopi Arabika Flores Bajawa (NTT), telah mendapat hak ekslusif yang diberikan oleh negara atas perlindungan Indikasi Geografis.

“Dengan mendapat status perlindungan Indikasi Geografis, maka secara otomasis meningkatkan nilai harga jual. Contoh Kopi bubuk kemasan indikasi Geografis Kintamani Bali telah menjadi salah satu oleh-oleh parawisata dunia yang saat ini harga kopi bubuk kemasan di atas Rp300.000/kilogramnya. Keuntungan lain mendapatkan perlindungan Indikasi Geografis maka pihak-pihak lain dilarang menggunakan nama kebesaran daerah asal tersebut tanpa izin dari pemilik merek yaitu pemerintah daerah atau kelopok tani,’’ kata owner Kantor Konsultan Kekayaan Intelektual Nuansa Trademarka Patent yang merupakan salah satu konsultan cukup ternama di Indonesia Henky Solihin, MZ, SH, MH, ketika dihubungi, Minggu (12/3).

Ironisnya, kata Henky, kopi-kopi kemasan bubuk yang banyak beredar di pasaran pulau Jawa, seperti di mini market banyak sekali ditemukan dengan menyebut kopi Dempo yang jelas-jelas bukan diproduksi dari daerah asal.

Artinya dengan indikasi geografis, maka pihak lain tidak boleh menggunakan nama besar seperti Pagaralam, Besemah, Dempo atau nama kebun di mana kopi itu berasal, kecuali kelompok tani masyarakat dan pemerintah daerah Pagaralam, sehingga kualitas akan terjaga.

Pria asli Pagaralam yang berprofesi sebagai pengacara sekaligus pengusaha yang tinggal di Kota Bandung ini melihat, Pagaralam sangat berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Umumnya masyarakat perkotaan mengandalkan penghasilan lebih banyak dari perdagangan barang, jasa atau multi industri. Sementara sampai saat ini Pagaralam masyarakatnya masih banyak berpendapatan dari hasil perkebunan dan pertanian.

Karena itu menurutnya, perlu percepatan pembangunanPagaralam dengan menjalin hubungan kerja sama yang profesional dan proporsional kepada semua unsur pemerintah, agar tercipta pemerintahan yang baik (good government and good governance), sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

“Rancangan pembangunan infrastruktur Kota Pagaralam, harus dimulai dari bawah (bottom up), bukan dimulai dari atas (top down). Artinya pembangunan disusun atas keinginan dan kebutuhan masyarakat, sehinga dapat dirasakan langsung ke semua lapisan masyarakat. Hukum harus ditegakkan. Jika hukum ditegakkan, maka segala aturan akan berjalan dengan baik dan tidak ada lagi pihak-pihak yang dirugikan,” katanya.

Lalu menciptakan perkembangan pasar (market development) agar tercipta permintaan pasar (market demand) untuk hasil-hasil pertanian dan perkebunan yang sampai saat ini masih menjadi komoditi unggulan di Pagaralam. Mengingat selama ini penjualan masih mengandalkan perebutan di pasar yang sama dan terbatas, sehingga petani tidak mempunyai posisi tawar (bargainning position) yang tinggi. Intinya ,ke depan Pagaralam harus membangun divisi Marketing Management (Manejemen Pemasaran) yang akan diberi nama Divisi Bisnis Center Komoditi Pagaralam disingkat BICPAL.

“Mengingat salah satu pendapat ekonomi penduduk Pagaralam masih banyak mengandalkan dari hasil perkebunan, seperti kopi dan sayur-mayur, maka ada dua sistim yang harus segera diperbaiki yaitu, sektor harga jual,” tegas Hengky.

Khusus sektor pertanian sayur mayur palawija, menurut Henky, sudah saatnya Pemkot Pagaralam harus mempunyai peta geografis pertanian (mapping agraris). Tujuannya untuk mencegah penanaman jenis sayuran secara serempak yang berdampak anjloknya harga jual akibat melimpahnya hasil panen, melebihi permintaan pasar yang diperebutkan dalam penjualan pada pasar yang sama.

“Solusinya, pemerintah haris jeli membaca peluang pasar jenis macam-macam komoditi palawija. Sehingga apa pun palawija sayuran yang ditanam oleh masyakat daerah dapat dijual dengan harga yang wajar atau harga asli pemerintah yang menguntungkan petani sebagai produsen,” beber dia.

Sedangkan untuk mengatasi kendala sebagian besar petani yang secara turun temurun masih terjerat lintah darat. Di mana akibat kekurangan modal dan susahnya memperoleh pinjaman dari bank, petani terpaksa meminjam uang untuk membeli bibit, pupuk dan biaya pemeliharaan sampai menunggu panen dengan bunga cukup tinggi.

“Tragisnya lagi, jika panen gagal atau harga anjlok, maka banyak petani yang tidak mampu membayar pinjaman uang, sehingga sawah dan ladang jadi tergadai dan membuat keluarganya sengsara,” urai Hengky yang mendapat dukungan penuh untuk menjadi calon Walikota Pagaralam.

Terkait Pilkada Pagaralam 2018, Henky mengimbau masyarakat Pagaralam untuk cermat memilih dan menentukan pemimpin. Sebab hasil Pilkada tersebut akan menentukan masa depan Pagaralam 5 tahun kedepan.
“Disinlah kita yang akan menentukan, apakah kita masih diam berdiri di tengah-tengah ketidak kepastian atau kita maju bersama membangun Pagar Alam yang dikenal sebagai kota pejuang,” pungkas Hengky yang akan ikut pada Pilkada Pagaralam.
Oosk

 

 

 

 

 

 

x

Jangan Lewatkan

Dua Jembatan Sako Habiskan Rp750 Juta

Palembang, BP — Dua jembatan rusak di wilayah Kecamatan Sako kini mulai diperbaiki. Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan ...