Home / Headline / Titik Api di Sumsel Masih Fluktuatif

Titik Api di Sumsel Masih Fluktuatif

pemadaman lahan (1)Palembang, BP

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprakirakan musim hujan tahun ini bakal terjadi lebih cepat sebulan daripada biasanya. Berdasarkan siklus normalnya, musim hujan mulai pada Oktober, sedangkan berdasarkan observasi BMKG, musim hujan bisa mulai pada September pada tahun ini.

Kasi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara SMB II Palembang Agus Santosa mengatakan, karena baru sebatas prakira yang belum terlalu meyakinkan, dirinya berharap musim penghujan tahun ini datang lebih cepat dari biasanya.

“Tapi kita masih menghitung sejauh ini mengenai kebenarannya, benar maju atau tidak musim hujannya. Berbeda dengan tahun lalu, musim hujan malah mundur. Kita harapkan ini adalah benar (musim hujan cepat datang-red). Sehingga ketakutan akan adanya kebakaran serupa ditahun lalu tidak akan terjadi di tahun ini,” ujarnya, Jumat (19/8).

Dirinya berujar, pertumbuhan awan di Sumsel masih menjadi kendala untuk melakukan teknik modifikasi cuaca atau hujan buatan. Sebab potensi awan penghujan terbentuk lewat pukul 15.00 setiap harinya di atas daerah rawan kebakaran lahan gambut.

Sedangkan waktu kerja Tim Teknik Modifikasi Cuaca terbatas karena waktu terbangnya yang tidak bisa sembarangan. “Sayangnya, awan tumbuh lebih banyak di malam hari. Sangat minim pertumbuhan awan di pagi dan siang hari,” tutur Agus.

Baca:  Puluhan Hektar Lahan Gambut Hangus di Ogan Ilir

Agus menjelaskan, saat ini rawan kebakaran bisa menjalar ke semua daerah di Sumsel tanpa terkecuali. Pasalnya kondisi cuaca yang sudah memasuki kemarau ditambah suhu udara saat ini berkisar 32-35 derajat celcius.

“Jika ada yang ‘main api’, pasti kebakaran lahan akan sangat mudah sekali meluas. Yang harus diantisipasi jika ada kebakaran di lahan gambut. Baik di Ogan Ilir, OKI, Banyuasin, Musi Banyuasin. Karena peta rawan kebakaran tidak mengenal wilayah,” jelasnya.

Agus menerangkan, potensi hujan saat ini memang tidak sebanyak saat musim penghujan. Namun hari tanpa hujan di Sumsel tidak lebih dari satu pekan. Artinya, potensi hujan tetap masih ada meski curah hanya sekitar 50 milimeter.

Titik api (hotspot) yang muncul seiring musim kemarau berlangsung setiap harinya di Sumatera Selatan fluktuatif. Tidak ada lahan yang terbakar berhari-hari karena satuan tugas (satgas)penanggulangan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sigap bertindak cepat langsung memadamkan api bila terjadi kebakaran.

Baca:  Gubernur Perintahkan Perkebunan Dirikan Posko Karhutla

Pada pantauan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang terdeteksi pada 18 Agustus 2016 mencatat ada 14 titik api yang tersebar satu titik di Empat Lawang, Muaraenim, dan Ogan Komering Ulu, dua titik di Banyuasin, Musirawas Utara, OKU Timur, dan Ogan Komering Ilir, serta tiga titik di Musirawas.

Sementara itu pantauan Lapan pada 19 Agustus 2016, terdapat tujuh titik api yang tersebar di Sumsel. Antara lain lima titik di Ogan Komering Ilir, satu titik di Musirawas dan satu titik di Musi Banyuasin.

“Langsung kita cek mengenai kebenarannya. Berdasarkan laporan di lapangan, titik api di Musirawas benar adanya, sekitar dua hektar lahan terbakar. Namun masih diselidiki kepemilikan lahannya,” tutur Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iriansyah.

Dalam upaya pemadaman di lokasi, pihaknya menggerakkan tim pemadaman darat yang dibantu TNI, Polri, Manggala Agni dan melibatkan perusahaan terdekat. Selain itu juga diterbangkan dua helikopter MI-8 untuk melakukan waterbombing di lokasi titik api.

Baca:  Satgas Karhutla dan Perusahaan Bersinergi Padamkan Karhutla

“Fokusnya memadamkan titik api yang menyala di lahan gambut yakni di Ogan Komering Ilir dan Banyuasin. Namun pemadaman dengan helikopter pun dilakukan di beberapa lokasi lain yang sulit dilalui jalur darat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resort Ogan Ilir AKBP M Arief Rifai mengatakan, pihaknya berhasil mengamankan warga yang tertangkap tangan membakar lahan dengan sengaja di wilayah perkebunan warga.

Dengan bantuan Manggala Agni, pihaknya menangkap pelaku pembakaran lahan rawa gambut kering yang berada di Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir seluas tiga hektar.

Pelaku diketahui yakni Zalul Fadli (34), warga Desa Arisan Jaya, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. Fadli terancam Pasal 108 UU RI No 39 tahun 2014 tentang perkebunan dengan ancaman diatas 10 tahun penjara.

“Kami harap ini akan menjadi efek jera dan peringatan bagi petani yang lain agar tak membuka lahan dengan cara dibakar. Apalagi saat musim kemarau ini, sebab bisa saja kebakaran akan meluas,” tegasnya. #idz

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Zaskia Gotik Meriahkan  Panggung Prajurit dan Pesta Rakyat di Lanud SMH Palembang

Palembang, BP PANGKALAN TNI Angkatan Udara Sri Mulyono Helambang (SMH) Palembang, menggelar acara Panggung Prajurit dan pesta rakyat yang dikemas ...