Home / Headline / Terpaksa Makan Tiwul Selama Paceklik

Terpaksa Makan Tiwul Selama Paceklik

2305.01.KAKI.GANTI.HASSHujan yang mulai jarang turun bikin petani gelisah. Bersiap menghadapi musim paceklik, mereka mengonsumsi tiwul.

SORE itu, cuaca begitu panas. Pancaran sinar matahari memanggang permukaan sawah, membuat tanaman padi sedikit layu. Sesekali terlihat hewan-hewan berlompatan ke sana-kemari mencari mata air di saluran siring sawah. Tak jauh dari tempat itu, tampak sosok pria tua renta bertubuh kurus. Wajah tergurat kerutan. Sesekali dari bibirnya mengepul asap rokok lalu. Samar-samar terdengar suara gumamannya, seakan berbicara dengan keadaan sekelilingnya.

Orang itu adalah Karlan (80), salah satu sesepuh warga Desa Negeri Ratu Baru, Kecamatan Bunga Mayang. Dalam kesehariannya, ia terbiasa bercengkrama dengan cangkul dan lumpur di tengah sawah. Kendati sudah sepuh, semangat hidupnya selalu membara dan pantang menyerah, demi menafkahai sembilan anak dan istrinya.

Pelan tapi pasti, langkah kakinya menapaki pematang sawah tadah hujan miliknya. Sesekali tatapannya jauh menerawang ke depan, melihat hamparan padi yang baru berusia satu minggu, namun mulai sedikit layu lantaran kurang siraman air. “Sudah hampir dua minggu hujan belum turun. Padahal kalau menurut hitungan, saat ini masih musim penghujan,” ujarnya.

Ia khawatir sawahnya akan gagal panen. Terbersit keinginan membuat sumur bor untuk mengaliri sawahnya. Tapi, apa daya, ia tak punya uang. “Cuaca panas hampir setiap hari. Saya benar-benar gelisah. Hujan sudah jarang turun, sedangkan padi baru saja ditanam. Mau bikin sumur bor biar bisa mengairi sawah, tak punya cukup uang,” tuturnya sedih sembari mengusap keringat yang meleleh membasahi wajahnya yang keriput.

Menurut dia, warga di desanya sudah bersiap-siap menghadapi musim paceklik. Ketiadaan beras akan digantikan dengan nasi tiwul yang terbuat dari singkong. “Petani sudah membuat tiwul untuk mengantisipasi jika terjadi gagal panen dan paceklik. Rata-rata petani di sini mengonsumsi tiwul kalau masuk musim paceklik,” tukasnya.

Dikatakannya, petani sangat berharap mudah-mudahan hujan segera turun. “Meski turunnya satu minggu sekali, tidak apa–apa. Terpenting sawah tidak kekeringan,” ucapnya.

Sementara Sutarno, pedagang tiwul di pasar Martapura mengakui, tiwul mulai diburu akhir-akhir ini. “Kami terus terang kewalahan dan kesulitan mendapatkan makanan tradisional itu. Setiap Minggu, pembeli mencari oyek. Terkadang memesan setengah sampai satu pikul (50-100kg),” ujarnya.

Lanjut dia, kesulitannya di sini pembelinya banyak sementara pembuat bahan baku tiwul di OKU Timur bisa dikatakan tidak ada. “Kalau dulu sekitar lima tahun lalu, bahan baku tiwul kita pasok dari Belitang. Namun belakangan mereka tidak memproduksi lagi. Karena banyaknya pesanan, terpaksa kita order tiwul ke daerah Way Kanan, Lampung,” jelasnya.

Menurut dia, kebanyakan konsumen tiwul dari pondok pesantren. “Setiap satu minggu, 50 hingga 100 Kg mereka membeli di sini. Bahkan pedagang dari Palembang, Jambi dan Bengkulu sengaja datang ke sini mencari tiwul,” tandasnya.

Kebanyakan pembeli dari luar daerah membeli tiwul lebih dari satu ton. Permintaan inilah yang sulit dipenuhi pedagang. “Masalahnya, stok untuk konsumen saya di sini saja terkadang kurang. Dua ton tiwul dari Lampung kami datangkan. Belum genap satu bulan sudah diserbu pembeli. Stok barang habis,” ungkapnya.

Sementara, Aiysah (38), warga Desa Negeri Ratu Baru, Kecamatan Bunga Mayang, yang sudah 4 tahun mengidap penyakit kencing manis mengatakan, pernah berobat ke dokter dan disarankan mengonsumsi tiwul, serta mengurangi porsi makan nasi. Dan ternyata penyakitnya berangsur membaik.

“Tetangga menyarankan berobat ke dokter dan konsultasi. Disarankan saya mengonsumsi tiwul dan mengurangi makan nasi. Alhamdulillah membuahkan hasil. Secara berangsur-angsur penyakit yang kuderita mulai mengalami kesembuhan. Konsumsi tiwul masih kulakukan supaya cepat sembuh,” tandasnya. # suyanto

x

Jangan Lewatkan

UIN Raden Fatah Berduka

Palembang, BP Civitas akademika Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UIN RF) Palembang berduka, salah satu dosen terbaiknya Drs. Kailani Mustafa, ...