Home / Sumsel / Musi Banyuasin / Habiskan Setengah Miliar, Balai Benih Mangkrak

Habiskan Setengah Miliar, Balai Benih Mangkrak


13001045_1013756375376112_2983026470367796849_nSekayu, BP

Aggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Musi Banyuasin (Muba) yakni Panitia Khusus (Pansus) II, Pembahasan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Bupati tahun 2015 melakukan peninjauan penggunaan APBD Muba, pada Rabu (20/4). Objek peninjauan adalah salah satu program di Dinas Perikanan Kabupaten Muba yaitu Balai Benih Ikan (BBI) yang ada di Desa Pinang Banjar, Kecamatan Sungai Lilin. Sejumlah anggota DPRD Muba meradang setelah melihat kondisi BBI yang terkesan terbengkalai dan tidak layak disebut BBI. Menurut sekretaris Pansus II, Ahmadi Dausat, BB masuk dalam pengembangan kawasan budidaya air laut, dan air tawar dengan anggaran sekitar Rp600 juta. Tetapi sangat disayangkan dengan anggaran yang tidak sedikit tersebut kondisi BBI sangat memprihatinkan. “Bukan sedikit anggaran daerah yang dikeluarkan untuk menghidupi BBI, tetapi jangan kan ada bibit ikan. Ikannya saja tidak tahu dimana tempatnya,” katanya dengan nada kesal. Menurut Ahmadi, BBI tersebut diperuntukkan untuk pembenihan ikan hias lokal dan ikan air tawar. Tetapi kondisi dilapangan, tidak satupun bak penampungan yang berisikan ikan hias atupun ikan air tawar lainnya yang bisa dibudidayakan ataupun dijual. “Jangankan ikan hias lokal yang ada didalam bak, satu ekor ikanpun tidak ada,” bebernya. Dirinya mengaku sangat kecewa dengan kondisi yang terjadi dilapangan. Selain itu, kondisi tersebut telah terjadi lama, karena peristiwa pada 2011 yang lalu dirinya bersama anggota DPRD lainnya sudah pernah melakukan sidak, dan hasilnya tetap sama seperti sekarang. “Lima tahun lalu, saya dan Anwar Hassan (sekarang anggota DPRD Sumsel) sudah pernah turun ke lapangan untuk mengetahui kondisi BBI Pinang banjar, dan didapati kondisi sama seperti yang peroleh tahun ini. Saya juga sudah pernah marah-marah dan mengatakan jika kondisi sama seperti ini, sama saja menghabiskan anggaran daerah,” terang Ahmadi. Disinggung mengenai penjelasan pengelola BBI, Ahmadi mengungkapkan bahwa terjadi kebocoran pada sejumlah bak, sehingga ikan memang dikosongkan. Selain itu, banyaknya ikan yang mati pada kolam dikarenakan air yang asin dan tidak ada obat. “Alasannya tidak bisa diterima sama sekai, dan kami akan menindak lanjuti permasalahan ini ada dengar pendapat nanti,” tegasnya.

Sementara itu, anggota Pansus II, Philip Harahap mengaminkan pernyataan Ahmadi Dausat, karena kondisi dilapangan sangat tidak layak disebut dengan BBI. Karena balai benih adalah tempat pembenihan yang mampu menghasilkan bibit ikan yang berkualitas dan dipergunakan oleh masyarakat untuk budidaya. Bukan sebaliknya masyarakat membeli bibit ika dari luar daerah. “Kami akan menanyakan kembali kondisi sebenarnya, karena berdasarkan paparan sebelumnya, Dinas Perikanan mengatakan telah 91% melaksanakan program BBI,” tegasnya. Dia menambahkan, bukan tidak mungkin kondisi seperti ini menjadi temuan di BPK, karena ini bukti pembohongan publik. “Ini menjadi catatan tersendiri dan dapat kita tindak lanjuti,” ancam Philip.#arf

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pemkab Muba Fasilitasi Penyelesaian Masalah Pertanahan Transmigrasi

Sekayu, BP–Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin menggelar Rapat Fasilitasi Penyelesaian Permasalahan Pertanahan Transmigrasi, lokasi Air Tenggulang SP.5 Desa Tenggulang Baru Kecamatan ...