Home / Headline / Lucy Tampil di Kursi Roda Dengan Selang Infus

Lucy Tampil di Kursi Roda Dengan Selang Infus

BP/MARDIANSYAH KURSI RODA-Terdakwa dua Lucy didorong dengan kursi roda saat akan memasuki ruang sidang pengadilan negeri palembang untuk mengikuti sidang lanjutan bersama terdakwa satu Fahri, Kamis (7/4)

BP/MARDIANSYAH
Lucy didorong dengan kursi roda memasuki ruang sidang Pengadilan Negeri Palembang, Kamis (7/4)

Palembang, BP

       Sidang kasus suap Musi Banyuasin mengetengahkan pemandangan berbeda. Terdakwa Lucianty datang dengan mobil ambulans dan menggunakan kursi roda.

Bahkan dalam sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa Pahri Azhari dan Lucianty di Pengadilan Tipikor Klas IA Khusus pada PN Palembang, Kamis (7/4), Lucy tampil dengan selang infus di lengan kanan.

Di samping kursi roda yang digunakannya juga terdapat satu tabung oksigen dan beberapa orang perawat dari Rumah Sakit Islam Siti Khadijah.

Penggunaan kursi roda ini terpaksa dilakukan karena Lucy mengalami pembengkakan di kaki dan sejak 5 April dirawat di rumah sakit karena mengalami kejang-kejang, sesak napas, dan muntah-muntah.

Namun penampilan istri Bupati Muba non-aktif yang juga anggota DPRD Sumsel ini masih terlihat modis. Ia mengenakan dress panjang warna pink dan jilbab dengan warna sama.

Sementara Pahri yang datang dengan mengenakan kemeja putih terlihat santai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan majelis hakim dan jaksa.

Sebelum membuka persidangan, majelis hakim yang diketuai Saiman terlebih dahulu menanyakan kesehatan Lucy. Kepada Saiman lalu diperlihatkan surat keterangan dokter yang menyatakan Lucy dapat memberikan keterangan dan tim penasihat hukum kedua terdakwa tidak merasa keberatan selagi Lucy masih sanggup. Kemudian sidang dilanjutkan.

Dalam persidangan kali ini, sebagai terdakwa Pahri yang menjabat bupati dua periode sejak 2008 menjelaskan dirinya menerima laporan dari terpidana Syamsuddin Fei dan Fasyar.

APBD 2015 tidak akan dibahas oleh DPRD Kabupaten Muba kalau tidak ada dana. Pahri tidak setuju dan sempat memerintahkan agar bawahannya tidak menuruti permintaan dewan.

Namun akhirnya pendirian itu tak bisa lagi dipertahankan karena Pahri merasa terus didesak dan dirinya meminta agar Dinas PUBM dan Dinas PUCK untuk membantu Fei dan Fasyar.

“Saya tertekan dan merasa panik, dari itu saya bilang ke Kepala Dinas PUCK dan PUBM tolong jika bisa dibantu. Tapi tidak ada negosiasi, karena sejak awal saya melarang,” katanya.

Pahri menegaskan kalau upaya suap ini baru terjadi pada 2015. Ia akhirnya mengaku salah dan menyesal ketika majelis menanyakan mengapa semua ini tidak dilaporkan.

“Saya tidak terpikir ke sana yang mulia mejelis hakim dan saya merasa bersalah serta menyesal dan untuk peminjaman uang kepada Fei istri saya juga tidak bercerita,” tuturnya.

Bahkan setelah mendengar adanya pinjaman uang yang diberikan dalam tahap pertama tersebut, menurut Pahri, dirinya sempat marah kepada Lucy. “Saya tidak pernah memerintahkan dan tahu kesepakatan dari Rp20 miliar menjadi Rp17,5 miliar itu setelah diperiksa di pengadilan ini,” imbuhnya.

Sementara itu Lucianty mengaku mengetahui permintaan pertama sebesar Rp2,650 miliar dan kedua Rp200 juta. Karena sumbernya dari SPBU milik keluarganya.

Menurut Lucy hal itu dilakukan hanya untuk membantu suaminya, karena takut suaminya didemo gara-gara tidak mampu membayar gaji honorer dan PHL yang ada di Pemkab Muba.

“Saya sebagai istri hanya ingin membantu saja. Yang saya lakukan ini juga tanpa sepengetahuan suami saya. Karena saya memberikan uang Rp2,65 miliar tanpa sepengetahuan suami saya,” ujar Lucy sambil menahan tangis.

Akan tetapi dirinya mengatakan tidak pernah negosiasi atau penawaran sebesar Rp11,8 miliar serta Pahri meninggalkan Fei dan Bambang karena tidak setuju.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK RI Wawan Yunarwanto menuturkan untuk saat ini pihaknya merasa dakwaan yang diajukan sudah terpenuhi dan semuanya sudah terungkap di persidangan.

“Terdakwa sudah mengakui bersalah serta Pahri dan Lucy tahu kalau uang yang diberikan kepada DPRD itu adalah suap, tapi mereka tetap memberikan,” tuturnya.

Terkait pernyataan Pahri merasa tertekan, Wawan menjelaskan, sebagai bupati, Pahri mempunyai pilihan. Karena sebelumnya juga sudah menyampaikan kepada SKPD agar tidak menuruti permintaan legislatif.

“Tapi pada kenyataannya dia (Pahri-red) tidak konsisten dengan apa yang dia katakan. Jadi menurut saya bukan tertekan memberi suap kepada DPRD,” jelasnya.

Sehingga setelah merampungkan pemeriksaan saksi dan keterangan terdakwa, pekan depan sidang akan dilanjutkan dengan agenda pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Seperti diketahui Pahri Azhari dan Lucianty menjadi tersangka dan dihadapkan ke persidangan setelah penyidik KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT).

Terhadap terpidana Bambang Karyanto, Adam Munandar, Syamsuddin Fei, dan Fasyar, anggota DPRD Muba, Bambang Karyanto, di rumah Bambang di Jalan Sanjaya, Palembang, pada 19 Juni 2015 lalu.

Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan uang suap tahap tiga yang rencananya akan diserahkan kepada DPRD Kabupaten Muba sebesar Rp2,56 miliar. #ris

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pemkab OKU Kembali Rekrut CPNS dan P3K Tahap II

Baturaja, BP — Kabar gembira bagi para pencari kerja yang ingin mengabdi sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Pegawai ...