Home / Mancanegara / Tarian Jawa Trail Solo Hebohkan ITB Berlin 2016

Tarian Jawa Trail Solo Hebohkan ITB Berlin 2016

Sejumlah penari membawakan tarian "mbatik" saat tampil pada pagelaran "the Amazing Bedaya Legong, Calon Arang" gubahan Retno Maruti dan Bulantrina Djelantik di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu, 19 November 2009. Pementasan yang menjadi bagian dari festival Schouwburg dalam rangka ulang tahun Gedung Kesenian Jakarta ke-22 tersebut akan berakhir tanggal 19 Oktober 2009. == JP/ J. Adiguna

Berlin, BP

Empat jenis tari kreasi baru bertema Nusantara betul-betul menghebohkan audience di ITB Berlin 2016. Dua laki-laki dan tiga perempuan asli Jawa Tengah yang tergabung dalam Kelompok Solo Dance Studio, Jawa Trail, itu tampil ekspresif dengan gaya tari yang rancak dinamis. Ke-4 gubahan Eko Pece  Supriyanto, dancer yang ngetop setelah sukses menjadi penari latar Madonna itu adalah Tari Gondang Batak, Tari Tapak Sayap Berjapin, Tari Legong Kipas dan Tari Tregel Banyumasan.
Musik tradisional Gondang Tapanuli, kombinasi fluit dan gendang khas Batak itu ditabuh dengan ritme cepat. Kelima penari itu, Putri Pramesti, Wirastuti, Astri Kusuma, Danang Cahyo dan Hafid Ponx menapak di atas panggung dengan gerakan khas wayang golek yang kaku-kaku lucu. Ratusan orang yang menyaksikan sambil merekam dengan kamera HP-nya senyum-senyum sendiri.
Terkadang ikut menggerakkan kepala, leher, pinggul, kaki dan tangannya. Mereka seperti terhipnotis untuk mengikuti sang penari yang semuanya lulusan S-2 ISI Surakarta, yang berpusat di Kampus Kentingan itu. “Tari Gondang Batak ini memang kolaborasi antara vokabuler tari tradisi Jawa dengan music Batak. Ini tarian khusus selamat datang, di tampilkan biasanya di awal pertunjukan untuk memberi suasana ceria dan jenaka,” kata penari Putri Pramesti, yang lulus S-2 tahun 2014 itu.
Tarian yang menggunakan kostum Jawa itu bersarung batik itu dipuji banyak orang, termasuk menjadi objek foto-foto bagi bule yang ikut terkagum-kagum. Tari itu pernah ditampilkan di program Indonesia Mencari Bakat tahun 2103, mengiringi Sandrina, si penari jaipong yang kecil itu. “Tari ini juga pernah ditampilkan di Dance Box Festival di Osaka Jepang, 2006. Durasinya sebenarnya bisa 9-10 menit, tapi di Berlin hanya dimainkan 5 menit saja,” tambah Danang, Asisten Dosen Koreografi ISI Solo itu.
Beda lagi dengan tarian Tapak Sayap Berjapin Melayu, yang sama-sama ciptaan Eko Pece. Tari ini sangat Melayu, dengan music yang khas. “Tarian ini pernah menjadi juara favourite di Festival Tari Tradisi Melayu 2009 di Palembang. Koreografernya saat itu Faturrahman Bin Said, orang Singapore. Kami mewakili Jawa Tengah,” jelas Putri yang jurusan Pengkajian Seni itu.
Tapak Sayap juga pernah tampil di SIPA –Solo International Performing Art 2010 di Pura Mangkunegaran. Lalu ditampilkan lagi di Solo 24 Jam Non Stop Menari 2012.
Tarian yang betul-betul baru ditampilkan di ITB Berlin ini adalah Legong Kipas, yang terinspirasi dari Tarian Legong dan Tari Baris. Sama-sama etnik Bali. “Kami sudah tampil saat press conference di ITB Berlin,” ujar Hafid Ponx, yang lahir hari pasaran Pon tanggal 10 itu.
Sedangkan Tari Tregel Banyumas, baru akan dikeluarkan 13 Maret 2016, di Hari Minggu yang ramai pengunjung umum. Tarian ini lebih dinamis, lebih rancak, lebih ceria. Tarian berpasangan, muda-mudi, dan penuh atraktif. Tarian ini juga tergolong paling komunikatif. “Jadi nanti mengajak penonton untuk ikut menari,” sebut Astri Kusuma, istri Eko Pece yang juga ikut menari itu.
Berapa lama berlatih sehingga lincah di atas panggung? Seolah sudah hafal gerakan kiri kanan, bolak-balik, depan belakang? “Satu bulanlah,” jawab Astri yang S-2 nya mempelajari Penciptaan Seni itu.
Menpar Arief Yahya mengapresiasi tari-tarian anak-anak Kelompok Solo Dance itu. “Penampilannya oke, gerakannya gesit, kelihatan sekali mereka mempelajari filosofi menari. Semua jenis tariannya dibawakan dengan sangat menghibur dan penuh keceriaan,” kata Arief Yahya yang juga penggemar cerita wayang Jawa itu. (*)

x

Jangan Lewatkan

Memancing di Kolam yang Banyak Ikannya

Kemenpar Menggali Pasar Potensial Hongkong (2) APA sih yang membuat Menpar Arief Yahya selalu bersemangat begitu membicarakan Hongkong? Kota yang penuh ...