Home / Headline / Harga Karet Menukik, Pemprov Intervensi Dengan Resi Gudang

Harga Karet Menukik, Pemprov Intervensi Dengan Resi Gudang

indexPalembang, BP 

Harga karet di Sumsel yang terus menurun membuat pemerintah harus segera melakukan intervensi pasar agar komoditi unggulan Sumatera Selatan ini tidak kehilangan minat dari petani. Pemerintah Provinsi Sumsel berencana melakukan kajian  tentang resi gudang guna memperbaiki harga di tingkat petani.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel, Ir Permana mengatakan, adanya sistem pergundangan khusus hasil karet nantinya akan menjadi wujud hadirnya peran pemerintah dalam menjaga harga yang didapatkan oleh petani, mengingat petani rakyat jumlahnya sangat besar.

Ia menjelaskan, dampak yang akan terjadi dari rendahnya harga karet tentunya berimbas bagi petani itu sendiri. Saat ini harga karet mnyentuh nilai Rp4.000-4.500 per kilogram. Jika mau dibandingkan, petani harus menjual dua kilogram karet untuk membeli beras yang seharga Rp9.000 per kg.

“Jika tidak ada perbaikan harga karet, dikhawatirkan adanya alih fungsi komoditas karet ke komoditas lainnya yang dianggap lebih menguntungkan,” ungkapnya. Ini akan menjadi suatu ancaman bagi Sumsel yang dikenal sebagai salah satu provinsi dengan penghasil karet terbanyak dengan hadirnya 26 industri crum rubber yang masih beroperasi hingga saat ini.

Apabila pemerintah bisa membeli karet rakyat lalu ditampung sementara di pergudangan menggunakan sistem  resi gudang, ungkap Permana, ia meyakini akan ada perbaikan harga karet di tingkat petani. “Puncak harga karet di Sumsel pernah di angka Rp15.000 per kg. Dengan adanya resi gudang, maka peran pemerintah hadir ditengah masyarakatnya,” ucapnya.

Selama ini petani membutuhkan modal sebelum masa panen, baik untuk kepentingan masa tanam atau kepentingan pribadi. Hal ini yang biasanya dimanfaatkan tengkulak. Para tengkulak jadi jembatan antara industri crum rubber dengan petani. Pihaknya akan berkoordinasi dengan kementerian terkait adanya usulan sistem ini, dikhawatirkan jika ada aturan yang bisa dilanggar.

Selain produk karet, banyak sumber daya alam yang bisa menjadi produk ekspor dari Sumsel. Seperti batubara di mana Sumsel merupakan pemasok terbesar kedua untuk pasar di Eropa. Juga ada kerajinan kayu dan kodok yang dikirimkan ke Perancis, sarang burung walet yang ekspornya hampir mengalahkan Purwokerto dan lainnya.

Sementara itu, sejumlah pengusaha karet di Sumsel mulai mengurangi jumlah produksi hingga enam bulan ke depan. Hal tersebut diambil berdasarkan kesepakatan dari hasil pertemuan sejumlah kementrian dari tiga negara pengekspor karet, yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumsel, Alex K Eddy mengatakan, Indonesia harus mengurangi 238 ribu MT produksi karet dalam kurun waktu enam bulan ke depan. Langkah ini diambil untuk menjaga sekaligus mendongkrak harga karet di pasar ekspor global.

“Di Sumsel, pengurangannya sekitar 85 ribu MT, untuk waktu enam bulan ke depan,” katanya.

Dampak pemberlakukan kebijakan tersebut, kata Alex, sudah mulai terlihat, harga karet internasional sejak sepekan terakhir mulai menunjukan grafik perbaikan meski belum mampu menyentuh US$ 2 per kg. “Kami harapkan, akan terus menunjukan grafik positif,” jelasnya.

Meski mengurangi produksi, pihaknya tetap tidak mengurangi pasokan dari petani. “Artinya, ada dua pilihan, pertama kita stok di pabrik dan meminta pemerintah mendanainya dengan bunga murah. Atau dijual kembali untuk pemakaian dalam negeri seperti campuran aspal,” tandasnya. #idz

x

Jangan Lewatkan

BPPD Sumsel Tonggak Perkembangan Pariwisata Sumsel

Palembang, BP Walaupun berusia 1 tahun, namun peran Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumsel dinilai sebagai tonggak perkembangan pariwisata di ...