Home / Budaya / Bule Pun Turut Beradu Nyali di Peresean

Bule Pun Turut Beradu Nyali di Peresean

bicvlwgcqaavelpJakarta, BP

Puncak tradisi Bau Nyale (menangkap cacing laut) di Lombok, baru digelar 27-28 Februari 2016 mendatang. Tapi gelegarnya sudah mulai terasa saat ini. Rangkaian perhelatan seni ada ketangkasan Peresean yang digelar selama empat hari, 23-26 Februari 2016. Lokasi yang dipilih, Pantai Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng). Bule pun ikutan adu nyali di even adu ketangkasan ini.

Ya, tradisi Peresan ini memang banyak diminati turis-turis bule. Dengan bertelanjang dada. Bule-bule yang datang berwisata tak ragu menggunakan pecutan atau rotan untuk adu pukul dengan lawannya. Bule-bule ini menggunakan perisai sebagai pelindung yang terbuat dari kulit kerbau tebal. Mirip-mirip seperti gladiator di Italia.

“Banyak bule yang tertantang untuk ambil bagian memeriahkan Peresean.Semua happy meski setelah itu badannya memar,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB, Moh. Faozal, Rabu (24/2).

Dari paparan Faozal, bule-bule yang ambil bagian ini datang dari berbagai negara. Ada yang dari Kanada, Selandia Baru, Australia hingga Inggris. Semua bangga saat didandani seperti Pepadu – sebutan untuk petarung Peresean. “Sebelum bertanding bule-bule yang hadir juga ikut berjoget. Saat gending ditabuh makin kencang, gerakan-gerakan menari mereka mirip Pepadu yang sedang saling mengejek. Atraksinya ini banyak mengundang perhatian yang ada di Pantai Kuta,” tambahnya.

Walaupun penuh dengan unsur kekerasan, Peresean tetap akan dilestarikan Pemprov NTB. Alasannya simpel. Di balik kekerasan tadi, ada tujuan untuk silaturahmi, persahabatan dan sportifitas. Para pepadu tidak menaruh dendam di luar pertarungan karena filosofi dari tradisi ini yaitu bukan mencari lawan, melainkan mencari teman atau saudara.

“Ini jadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan. Kegiatan-kegiatan seni dan budaya seperti ini, akan dilaksanakan secara kontinyu,” ungkapnya.

Peresean kali ini, kata Faozal, sengaja dipusatkan di Pantai Kuta atau yang di masyarakat sekitar dikenal dengan Pantai Senek untuk memperluas lokasi keramaian Bau Nyale. Selama ini hanya digelar di Pantai Seger. Lokasi yang terbatas, akhirnya penonton pun cukup kerepotan menyaksikan.

Sementara di Pantai Kuta, tempatnya lebih luas. Para wisatawan yang menginap bisa langsung menonton. Cukup jalan kaki. Wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang kebetulan liburan ke Pantai Kuta juga bisa menyaksikan. “Ini yang kita harapkan, para wisatawan terhibur dan merasakan peresean. Dan yang lebih penting lagi, hotel-hotel penuh, pariwisatanya  pun hidup,” papar Faozal.

Menpar Arief Yahya menyebut Lombok kaya akan tradisi dan budaya yang kuat. Lombok juga sudah ditetapkan sebagai satu dari 10 Top Destinasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sebagai icon. Atraksinya juga banyak, selain alam yang indah, pasir putih, laut jernih dan biru, terumbu karang yang bagus, ada gunung, ada hutan tropis. ‘’Dan ada tradisi Bau Nyale yang punya legenda yang dipercaya kuat di masyarakat, dan terkait dengan nama Putri Mandalika. Ingat, wisman datang ke Indonesia itu 60% karena culture, 35% karena nature, dan 5% alasan man made,’’ paparnya. (*)

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

‘Selamatkan Tradisi Sastra Tutur di Sumsel’

Palembang, BP–Tradisi sastra tutur, yang merupakan tradisi masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel ) sudah banyak yang hilang sehingga kedepan perlu diselamatkan, ...