Home / Headline / 100 Ton Sayur Terancam Membusuk

100 Ton Sayur Terancam Membusuk

100 Ton Sayur Terancam Membusuk (1)Palembang, BP

Distributor sayuran di Pasar Induk Jakabaring terancam merugi jutaan rupiah, akibat pedagang di pasar tradisional mengurangi pembelian hingga 30 persen. Itu terjadi lantaran minimnya permintaan.

Kepala Administrasi Umum PT Swarnadwipa Selaras Adiguna (SSA) Pasar Induk Jakabaring Bambang mengatakan, sejumlah distributor di Pasar Induk mulai melakukan pengupasan sayur kol dan penyortiran wortel yang rentan membusuk. Sayur ini tidak tersuplai seluruhnya ke pasar tradisional di Palembang.

“Dari 300 ton sayur yang masuk setiap harinya, hanya 70 persen yang dipasok ke pasar tradisional. Itupun belum ditambah sayuran sehari sebelumnya yang belum sempat tersuplai,” kata Bambang, Selasa (16/2).

Dia mengatakan, beberapa hari belakangan pengurangan pembelian dilakukan oleh hampir seluruh pasar tradisional, bahkan di luar Kota Palembang pengurangan mencapai 50 persen. Seperti dari Ogan Ilir (OI), Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Sungai Lilin dan beberapa pasar-pasar tradisional lainnya.

Dia menyebutkan, kalau biasanya sayur dipasok ke pedagang satu truk penuh, kali ini hanya separuhnya. “Alasan sebagian besar pedagang ini, karena harga karet yang tidak bagus, pembeli di pasar tradisional terutama di daerah tidak seantusias sebelumnya. Diperkirakan, ini puncaknya pengurangan pembelian terparah,” jelas dia.

Dikatakannya, stok yang ada pada pedagang di pasar tradisional saat ini sudah menumpuk, karena sebelumnya ada permintaan yang over pengiriman. Kondisi ini membuat pembelian berikutnya terpaksa dikurangi karena pedagang tidak mau rugi.

Terkait kerugian yang dialami oleh distributor, Bambang mengatakan, saat ini baru sebatas penyusutan. Sayuran yang busuk disortir agar tidak menimbulkan kerugian lebih besar. “Di pasar induk Jakabaring ini hanya melayani partai besar, jadi tidak terlalu banyak jenis sayuran. Paling yang rentan membusuk adalah kol dan wortel,” katanya.

Dia melanjutkan, sayuran seperti bayam dan kangkung disuplai oleh pihak lain dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Sedangkan cabai dipasok dari beberapa daerah. “Cabai bisa sampai tiga truk, memang agak sedikit berkurang, namun itu sudah memenuhi permintaan,” kata dia.

Dia menyebutkan, sayuran yang masuk ke Pasar Induk ini dipasok dari sejumlah kawasan, bahkan ada yang dari Pulau Jawa. Untuk jenisnya pun tidak banyak berbeda. Seperti tomat, wortel dan kol pengiriman dari Curup (Bengkulu), Pagaralam, Padang, Bandung, Majalengka dan lainnya. Sementara cabai disuplai dari Pulau Jawa Timur dan Mulitan, Yogyakarta.

Haryanto, salah satu pekerja di distributor sayuran Pasar Induk mengatakan, penyortiran yang dilakukan membuat harganya menyusut, termasuk berat sayuran dari berat awal pembelian.

“Kalau rugi itu risiko, memang ada penyusutan, namun tidak sampai rugi besar. Permintaan bisa disesuaikan dan petani juga bisa menahan aktivitas panen, sehingga tidak ada yang dirugikan,” jelas dia.

Namun dikatakan, sayuran yang sudah dibeli, dipastikan akan mengalami penyusutan. Dan jika tidak disuplai dalam waktu lama, maka akan membusuk. “Setelah disortir, biasanya masih banyak yang mau beli. Walaupun tidak banyak untung, setidaknya bisa mengembalikan modal,” jelas dia.

Pengurangan jumlah pembelian sayur juga diakui Sumi (32), pedagang sayur di Pasar KM 5. Menurut dia, kondisi ini terjadi lebih kepada minat beli konsumen yang berkurang, termasuk faktor cuaca. “Selain minat beli menurun, hujan belakangan ini membuat pembeli sepi. Sayuran kemarin saja masih ada,” kata dia.

Dikatakan, dirinya mengalami penurunan omzet hingga 50 persen saat hujan. “Kalaupun tidak hujan sebenarnya penurunan minat beli sudah terjadi, apalagi saat hujan, orang ke pasar juga malas,” katanya.#ren

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Terus Bersama Warga Terdampak Kabut Asap, ACT Kembali Kirimkan Armada Bantuan

Palembang, BP--Upaya meredam kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda Provinsi Sumatera Selatan beberapa hari terakhir, membuat ...