Home / Headline / Kami Hanya Bertani Ingin Hidup Layak

Kami Hanya Bertani Ingin Hidup Layak

Eks Gafatar Buka Suara

 

BP/MARDIANSYAH WAWANCARA-Dua mantan anggota Gafatar bersama PLT Kadinsos Provinsi Sumsel Belman (tengah) melakukan wawancara dengan sejumlah wartawan saat berada ditempat penampungan sementara Dinas Sosial Sumsel, Senin (1/2).

BP/MARDIANSYAH
WAWANCARA-Dua mantan anggota Gafatar bersama PLT Kadinsos Provinsi Sumsel Belman (tengah) melakukan wawancara dengan sejumlah wartawan saat berada di tempat penampungan sementara Dinas Sosial Sumsel, Senin (1/2).

Palembang, BP
Dua eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Sumatera Selatan, Zainal Abidin dan Muhammad Ainur Fahmi, buka suara setelah menghindar dari media selepas kedatangannya di Palembang, Sabtu (30/1) lalu.

Dua kepala keluarga bersama delapan anggota keluarga lainnya kini masih singgah di Unit Pelaksana Teknis Daerah Dinas Sosial (UPTD) Panti Sosial Karya Wanita Harapan hingga Senin (1/2).

Zainal menuturkan, dirinya bergabung dengan Gafatar hanya untuk mencari kehidupan lebih layak. Ia bergabung dengan Gafatar sejak 2013. Gafatar memiliki misi berbangsa dan bernegara dengan program ketahanan pangan. Ia dan anggota lainnya hanya bertani di Kalimantan Barat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak.

Alasannya bertani di sana dan bukan di daerah sendiri lebih pada faktor ekonomis. Hasil pertanian di Kalimantan Barat dihargai lebih mahal daripada di Sumsel. “Hasil pertanian di sini harganya murah, kalau di sana (Kalbar-red) mahal. Ini (hasilnya-red) kan untuk keuntungan kelompok, bukan untuk perorangan. Jadi kami lebih baik di sana. Di Kalimantan menjanjikan, lahan pertanian baru sedikit,” jelasnya.

Baca:  PNS Eks Gafatar, Guru SMPN 27

Hal serupa diungkapkan Fahmi. Ia memboyong istri dan anaknya pergi ke Kalimantan hanya untuk bercocok tanam. “Awal targetnya bertani padi, tapi masih fokus bercocok tanam sayuran seperti menanam ketimun. Intinya kami ingin mencari kehidupan yang lebih layak,” tuturnya.

Fahmi menjelaskan, rombongannya bertani di Kabupaten Kayung Utara. Tempat tersebut secara geografis jauh dari Menpawah, lokasi pembakaran rumah salah satu warga eks Gafatar.

Di Kayung Utara, dirinya dan rombongan diperlakukan dengan baik oleh warga asli sana. Mereka hidup bertetangga dengan damai, tanpa ada gesekan. Malah, beberapa penduduk asli minta diajari cara bercocok tanam.

Ia membantah anggapan masyarakat bahwa Gafatar menyebarkan ajaran sesat. Eks anggota Gafatar lainnya, tutur Zainal, ada yang beragama selain Islam. Dalam urusan beragama, sesama anggota tidak pernah ikut campur.

Baca:  Malu, Tiba di Palembang Eks Gafatar ‘Sembunyi’

“Kalau mau shalat ya shalat. Ada yang kristen, ada yang kepercayaan Tionghoa juga tidak masalah. Sesama anggota tidak ikut campur urusan agama masing-masing,” jelasnya.

Fahmi menuturkan, alasan mengapa keluarganya dan keluarga Zainal sempat enggan untuk dipulangkan ke Sumsel. Pertama, karena mereka tidak merasakan jaminan keselamatan ketika pulang.

Dirinya pun belum bisa mengonfirmasi keluarganya yang ada di Palembang apakah bisa menjamin keberadaan mereka dengan selamat. Usai dipulangkan ke Sumsel, keduanya masih belum mengetahui akan melanjutkan hidup seperti apa. “Untuk saat ini kami masih bingung. Mungkin saya dan keluarga mau pulang kampung di Purworejo untuk beternak. Istri juga capek dengan kondisi seperti ini, ingin menghilangkan trauma,” ujar Fahmi.

Sementara Zainal menuturkan, saat sekarang ini dirinya dan keluarga ingin menghindari potensi gesekan dengan masyarakat.

“Yang pasti, saya tidak bisa hipnotis. Mungkin sekarang cari lokak dulu, nak jadi wartawan payo,” selorohnya.

Baca:  Cegah Gafatar, Gubernur Koordinasi Dengan Aparat

Ia berharap pemerintah bersedia mentransmigrasikannya di salah satu daerah di Sumsel. Apa pun syaratnya, ia dan keluarga siap memenuhi. “Nak disuruh ‘insaf’ ya insaf. Syaratnya apa saja, kami akan penuhi,” ungkapnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel Belman Karmuda menuturkan, kesepuluh warga eks-Gafatar asal Sumsel akan beristirahat dulu di PSKWH hingga waktu yang belum ditentukan. “Mereka cooling down dulu, masih capek dan memulihkan stres. Namun bila ada keluarga yang mau menjemput, silakan. Mereka sudah diperbolehkan pulang,” ujarnya.

Secara tertulis dan legal, ia mengatakan, Gafatar memang belum dibubarkan. Pihaknya pun akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan gubernur terkait permasalahan ini.

Terkait keinginan warga eks Gafatar yang tidak mau tinggal di Sumsel, diakuinya, telah menghadirkan imej negatif di masyarakat. Namun pemerintah akan terus membaca situasi apakah masyarakat Sumsel akan menerima eks-Gafatar atau tidak.

Sementara terkait 28 orang eks-Gafatar asal Sumsel yang kini masih di Cibubur, pihaknya masih menunggu data riil dari pemerintah setempat serta instruksi dari gubernur terkait kapan akan dilakukan penjemputan. #idz

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Soroti Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Palembang

Palembang, BP Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palembang menyoroti kasus-kasus kekerasan dengan perempuan sebagai korban. Setidaknya, ada 62 kasus hukum terkait ...