Home / Headline / Incumbent Dalam Pilkada Sumsel Masih Kuat

Incumbent Dalam Pilkada Sumsel Masih Kuat

IMG-20151210-03427Palembang, BP
  Keikutsertaan legislator dan senator di pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) serentak 2015 terbukti tidak dapat mengalahkan kekuatan calon incumbent.
Khususnya di Pilkada tujuh Kabupaten di Sumatera Selatan (Sumsel), tak satupun legislator dan senator yang menjadi pemenang.
Muchendi Mahzarekki, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumsel yang maju sebagai calon Wakil Bupati Kabupaten Ogan Ilir (OI) merupakan salah satunya.
Pasangan Helmi Yahya itu tidak dapat membendung kekuatan sang kompetitor utama, Ahmad Wazir Nofiadi-Ilyas Panji Alam. Meraup 43,44 persen suara, pasangan nomor urut 1 kalah lebih dari 6 persen dari pasangan nomor urut 2. Dimana AW Nofiadi-Ilyas Panji mendapatkan 49,74 suara.
Nofiadi sendiri merupakan anak kandung dari mantan Bupati OI Mawardi Yahya. Pengaruh dari seorang incumbent tentu sangat besar.
“Di Pilkada OKU juga demikian. Popularitas Percha Leanpuri sebagai anggota DPD RI nyatanya mulai memudar. Pasangan incumbent (Kuryana Aziz-Johan Anuar) terbukti lebih unggul,” kata Pengamat Politik Joko Siswanto pada dialog Interaktif: Peta Politik Pilgub 2018 pasca Pilkada 7 Kabupaten di Jalan Dwikora 1 No. 1296 Palembang, Kamis (10/12).
Selain dua nama tersebut, ada pula anggota DPRD Sumsel lainnya, yakni Edward Jaya, calon Bupati OKU Timur dan Wahab Nawawi di Pilkada OKU Selatan. Edward takluk dari calon incumbent Mawardi Kholid-Fery Antoni.
Menurut Joko, fakta tersebut merupakan sebuah fenomena baru. Incumbent di Sumsel yang lebih berpengalaman di bidang birokrasi, khususnya pada Pilkada Kabupaten/Kota, terbukti masih lebih tangguh dibandingkan legislator dan senator.
“Kecuali Pilkada Gubernur Sumsel 2008, Pilkada Kabupaten/kota sulit mengalahkan incumbent,” katanya.
Selain itu Joko menilai, pengaruh politik uang atau money politik dalam Pilkada 9 Desember lalu tetap kental terasa mempengaruhi pilihan pemilih ke calon tertentu. Akan tetapi, hal tersebut sulit dibuktikan selama ini.
“Politik uang tidak bisa dipungkiri, meskipun peluangnya sudah dikecilkan selama ini oleh penyelenggara, dengan pembatasan pemberian souvenir. Tetapi diluar itu, masih ada yang terjadi, sebab politik uang wujudnya bisa apa saja, seperti sembako, bangunan atau lainnya. Money politik itu kadang sepeti kentut, ada suaranya tapi wujudnya tidak ada,”kata Joko .
Menurut Joko, dengan masih kuatnya pengaruh politik uang mempengaruhi pemilih, maka tidak dipungkiri Pilkada kedepan hal tersebut tidak akan pudar.
“Jika masyarakat juga senang seperti itu, kedepan akan terus terjadi. Sebab, jika mereka masih berpikir besok makan apa, pemberian uang tetap sangat dibutuhkan sepanjang perutnya masih kosong,” katanya.
Meskipun begitu, Joko menyatakan uang bukanlah faktor utama pasangan calon menang dalam Pilkada, melainkan selama ini dianggap telah memiliki hubungan emosional dengan masyarakat.
“Jadi, faktor uang bukan penentu tapi penujang, sebab masyarakat memilih terkadang karena ikatan tradisional dan sudah mengenalnya,” katanya.
Sedangkan Direktur Lintas Politika Kemas Khoirul Mukhlis mengatakan kalau dalam dialog ini akan mengkritisi perkembangan pilkada 9 Desmber lalu.
 “Kemenangan saudara Ridwan Mukti di Pilkada Provinsi Bengkulu, dan kekalahan Percha beserta Helmi Yahya itu harus kita sikapi dan cermati. Ini penting  untuk mempersiapkan  Pilgub Sumsel mendatang,” kata Mukhlis.#osk
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pelayanan Publik di Muba Kekinian dan Tidak Bikin Sulit

Sekayu, BP–Meski berada di level Kabupaten namun pelayanan dan kecanggihan berbasis digital di Bumi Serasan Sekate tidak bisa disepelehkan, guna ...