Home / Headline / ‘Fly Over’ Dibuka, Kemacetan Bertambah

‘Fly Over’ Dibuka, Kemacetan Bertambah

fly over macetttt teruss-12 Palembang, BP

             Setelah lama menanti, akhirnya jembatan fly over Simpang Jakabaring resmi dibuka secara penuh, Kamis (3/12/), sekitar Pukul 11.19. Namun sayang, keberadaan fly over tak mampu mengatasi kemacetan yang terjadi di Jalan Riyachudu, Kelurahan 7 Ulu, Palembang. Bahkan kemacetan semakin menjadi-jadi.

Plt Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Sumsel Rinhardi yang memimpin pembukaan fly over tersebut sempat memotong plastik pembatas dengan gunting tanda resmi dibukanya fly over tersebut. Rinhardi mengatakan, sebelumnya sebagian ruas jalan jembatan fly over Simpang Jakabaring ini telah dibuka, namun kini dibuka sepenuhnya. “Kita buka sepenuhnya sehingga pengendara baik roda dua maupun roda empat bisa menggunakan fly over ini,” katanya.

Ia mengatakan, banyaknya permintaan pengendara selama ini untuk dapat membuka secara cepat jembatan tersebut membuat pihaknya secara cepat juga menyelesaikan jembatan fly over Simpang Jakabaring. Hingga saat ini, proses pengerjaan fly over Simpang Jakabaring sudah hampir 100 persen selesai. Namun masih ada bagian bawah yang masih perlu dirapikan agar terlihat lebih rapi dan indah. “Kita akan buka jembatan ini guna memberikan kenyamanan bagi para pengendara,” katanya.

Dijelaskannya, dua persil lahan yang paling akhir dibebaskan pun sudah dicor, tinggal diaspal saja. Sedangkan pengerjaan di bawah fly over hanya tinggal finishing saja. “Pak Gubernur pun menginstruksikan untuk membuka fly over ini dengan segera tanpa dilakukan peresmian. Namun kita buka bertepatan dengan HUT PUBM,” katanya.

Ia berharap dengan dibukanya jembatan fly over ini mampu mengurai kemacetan yang ada di area tersebut apalagi di jam kerja pagi dan sore. Flyover Simpang Jakabaring itu merupakan salah satu infrastruktur yang disiapkan untuk menunjang peran Palembang sebagai tuan rumah Asian Games.

Sedangkan Ketua Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Jembatan Layang Jakabaring Joko Saputro mengatakan pembangunan fly over Simpang Jakabaring sudah 100 persen selesai. “Mulai hari ini, kita lakukan masa pemeliharaan selama enam bulan ke depan. Setelah itu, baru kita serahkan ke pusat. Ini ruas jalan nasional, jadi asetnya akan diserahterimakan,” katanya.

Untuk sisa material yang masih ada di sejumlah tempat, menurutnya, segera dibersihkan supaya semua bisa terselesaikan. “Fly over ini untuk 50 tahun, untuk pemeliharaan pertama selama enam bulan,” katanya.

Baca:  Fly Over Jakabaring Arah Ampera Masih Macet

Sedangkan pengaturan lalu lintas di bawah fly over, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Dishub Palembang dan Polresta Palembang. “Ini untuk mengurai kemacetan di kawasan Simpang Jakabaring karena di sini kemacetan pagi dan sore,” katanya.

Kanit III Pendidikan Dan Rekayasa (Dikyasa) Lalu Lintas Polresta Palembang Ipda Ahmad Rizal di tempat yang sama mengatakan, pihaknya sudah melakukan rekayasa arus lalulintas dengan Dishubkominfo Sumsel dan Kota Palembang sebelum flyover Simpang Jakabaring dibuka.

“Rekayasanya adalah mungkin pihak Dishub dan lalulintas bekerja sama dengan PU, terkait dibukanya fly over. Pertama mengurai kemacetan di fly over Simpang Jakabaring tetapi kepadatan masih tetap ada di Jembatan Ampera. Tapi bagaimana caranya kita rekayasa, tadi kita konsen dengan PU sudah tiga kali kita rapat bahwa yang dari pangkal 3 Ulu kita tutup dan di Air Mancur kita rekayasa lagi karena debit kendaraan dari sini akan menumpuk turun ke bawah, yang selama ini kita buat dari Sudirman ke Merdeka itu melewati konblok akan kita buka. Tetapi yang ke Merdeka lewat samping Masjid Agung, dan yang dari Pasar Tengkuruk tidak ada yang memutar ke Pasar 16 Ilir, kalau sudah keluar sama dengan angkot Plaju –Kertapati harus naik ke atas Jembatan Ampera tidak tidak ada berputar lagi,” katanya.

Kemudian arus kendaraan dari Pasar Burung ada dua jalur yang mau ke Jembatan Ampera dan Pasar 16, nanti akan lewat samping bank selama ini tutup dan pagar akan dibuka, tidak ada crossing. Hal ini masih dimatangkan dalam minggu-minggu ini .

“Nanti yang ke arah Jalan Merdeka maupun kembali ke Jalan Cik Agus Kiemas, yang jalan Cik Agus Kiemas sekarang di tutup dan sering dilewati motor, itu akan kita tutup habis. Tolong diimbau masyarakat pertama harus patuh pada aturan lalu lintas, kalau dilarang lewat jangan lewat supaya etika dan disiplin berkendaraan terjaga,” katanya.

Menurutnya, Kota Palembang tidak ada istilah macet, hanya kepadatan kendaraan. ”Kalau macet itu namanya stagnan lima  menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, satu jam, baru dikatakan macet,” katanya.

Untuk kepadatan kendaraan di fly over Simpang Jakabaring kalau pagi ada di pangkal 7 Ulu , kalau sore ada di pangkal Air Mancur.

Baca:  Fly Over Jakabaring Arah Ampera Masih Macet

“Angkutan kuning harus belok kiri masuk Pasar Klinik, keluarnya di 7 Ulu. Itu sedang disetujui, itu keputusan Dishub kami hanya memberikan saran,” katanya.

 

Kemacetan Bertambah Parah

 

Pasca dibukanya fly over Jakabaring belum mampu mengurai kemacetan. Pantauan, Kamis ( 3/12), setelah dibuka terjadi kemacetan di ruas jalan HM Riyachudu sejak pukul 13.30 – 18.00. Kendaraan menumpuk di atas flyover karena tidak bisa bergerak. Kemacetan lebih disebabkan derasnya arus kendaraan yang berasal dari kawasan Jakabaring, Plaju, dan Kertapati. Situasi diperparah oleh kendaraan yang memaksa melawan arus yang datang dari bawah Jembatan Ampera. Selain itu sikap egois para sopir angkutan umum yang ngetem di depan Universitas Kader Bangsa juga menjadi biang kemacetan. Belum lagi, puluhan tukang becak yang juga ngetem membuat bahu jalan bertambah macet.

Beberapa warga mengaku harus menempuh perjalanan berjam- jam hanya untuk menyeberangi jembatan Ampera. Amirah warga Makrayu, mengaku terjebak macet sehingga harus menghabiskan waktu satu jam untuk lolos dari kemacetan. Kemacetan tidak hanya terjadi di Jalan Riyachudu yang menjadi pangkal kemacetan. Antrean panjang kendaraan berimbas kepada kawasan Jalan Ahmad Yani, Jalan Wahid Hasyim dan Jalan Poros Jakabaring Palembang.

Penumpukan kendaraan yang terjadi, menurut pengamat transportasi Syaidina Ali, sebenarnya ini sudah bisa diprediksi sebelum dibangunnya flyover Simpang Jakabaring. Patut disayangkan tidak ada koordinasi antara pihak yang akan membangun, pemerintah, kepolisian, Dinas Perhubungan, dan elemen pemerintah lainnya, serta pengamat tranportasi, masyarakat.

“Sejauh ini, hingga flyover itu sudah jadi memang tidak ada koordinasi satu sama lain untuk memikirkan dampak yang akan ditimbulkan. Jadinya ya, gini kepadatan tak dapat dihindarkan. Kalau sudah begini terbilang tidak ada solusi untuk kepadatan yang terjadi dikawasan Ampera,” katanya, kepada BeritaPagi, Kamis (3/12).

“Seharusnya sebelum dibangun, itu ada analisa dampak yang akan dialami. Semuanya itu mesti diperhitungkan, ini tidak ada perhitungan sama sekali segala sesuatu yang bisa  timbul,” ujarnya lagi.

Menurutnya, selain dampak juga harus diperhitungkan juga skala prioritas kendaraan. Dengan volume kendaraan seperti saat ini, memang tidak akan efektif dibangun plyover, karena penyempitan terjadi ketika kendaraan akan melintasi jembatan Ampera.

Baca:  Fly Over Jakabaring Arah Ampera Masih Macet

“Hal ini tidak dipikirkan bersama. Jadi sekarang yang kebingungan Dishub dan Polantas, semestinya sebelum membangun itu dipikirkan terlebih dahulu volume jembatan Ampera, bundaran air mancur. Kalau memang di dua titik itu sudah dibenahi dengan baik maka baru lah flyover tersebut menghindari kemacetan pada persimpangan Jakabaring,” bebernya.

Sementara untuk solusi sendiri menurutnya, sudah tidak ada lagi. Namun demikian masih ada celah yang harus diperbaiki seperti, jembatan Ampera, pembongkaran Air Mancur jika memungkinkan. Namun yang terpenting masyarakat juga harus tertib berlalulintas sehingga minimal bisa mengurangi kepadatan yang terjadi.

“Jadinya seperti sekarang ini saling lempar bola. Karena itu tadi, tidak adanya koordinasi, perhitungan yang matang mengenai dampak yang akan dihasilkan,” tegas Syaidina.

Sementara itu, Kasat Lantas Polresta Palembang Kompol Benny Prasetia mengakui jika memang volume kendaraan yang melalui daerah tersebut tidak lagi tertampung, terlihat jalan yang hendak menuju ke Jembatan Ampera menyempit di pangkal Jembatan Ampera. Dari lima jalur di Jalan HM Ryacudu, pengendara harus menuju dua jalur yang ada di Jembatan Ampera.

Benny pun mengaku, tak bisa berbuat banyak. Menurut Benny, kepadatan terjadi di jam-jam sibuk tersebut karena masyarakat saat itu usai menjalankan rutinitas kerjanya. “Kalau mau pergi dan pulang kantorkan rata-rata berbarengan,” ungkapnya.

Dengan kenyataan yang terjadi, Benny mengaku hanya bisa menambah jumlah personelnya guna mengurangi kemacetan yang terjadi. Sementara di pangkal Jembatan Ampera Benny mengatakan telah menempatkan anggotanya untuk mengurai kepadatan kendaraan.

“Memang tidak sepanjang hari ditempatkan di situ,” terangnya.
Benny mengatakan, sedikitnya ada enam anggota yang ditempatkan di pangkal Jembatan Ampera untuk mengurai kepadatan kendaraan.

“Kalau pagi kita suruh berjaga mulai pukul 06.30 hingga pukul 09.00, sementara sore hari pukul 16.30 hingga pukul 18.00. Tidak hanya Sat Lantas, ada pula anggota Sat Sabhara yang membantu,” ungkapnya.

Benny juga mengimbau bagi para pengendara sepeda motor maupun mobil diharapkan mematuhi peraturan yang ada, dan tidak melanggar marka jalan sehingga tidak memperparah kemacetan. “Jadi sama-sama nyaman berkendara,” katanya. # osk/adk

 

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pelayanan Publik di Muba Kekinian dan Tidak Bikin Sulit

Sekayu, BP–Meski berada di level Kabupaten namun pelayanan dan kecanggihan berbasis digital di Bumi Serasan Sekate tidak bisa disepelehkan, guna ...