Home / Headline / Alami, Hujan Akhirnya Guyur Palembang

Alami, Hujan Akhirnya Guyur Palembang

IMG_20151030_135512Palembang, BP
Hujan deras mengguyur Kota Palembang pada Jumat (30/10) siang hari setelah hampir dua bulan tidak turun hujan. Intensitas dan durasi hujan beragam dari 15-30 menit, namun sebagian besar wilayah terkena guyuran hujan.

Hujan menghilangkan seluruh titik api (hotspot) yang berada di wilayah Sumatera Selatan. Berdasarkan pantauan satelit Aqua/Terra Modis update 30 Oktober 07.00 pagi, terdapat 110 titik api di Sumsel dengan Kabupaten OKI menjadi penyumbang terbanyak yakni 97 titik. Sementara pada data update pukul 16.00, sama sekali tidak terpantau titik api di wilayah Sumatera Selatan

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara SMB II Palembang Agus Santosa menuturkan, hujan yang turun ini merupakan hujan alami bukan buatan hasil tabur garam tim Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pantauan radar cuaca BMKG tumbuh awan hujan di daratan Sumsel, tepatnya diantara Tulung Selapan dengan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir pada pukul 10.40.

Sekitar pukul 13.50, hujan membasahi hampir seluruh wilayah Kota Palembang. Terpantau hujan mengguyur di Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Jembatan Ampera, Kantor Gubernur Sumsel, Sekip, KM 7, Lemabang, dan Bukit. “Kalau dilihat melalui radar, daerah Seberang Ulu lebat juga,” ujar Agus.

Agus memperingatkan, turunnya hujan pertama setelah hampir dua bulan yang lalu tidak hujan ini perlu diwaspadai oleh masyarakat. Karena hujan pertama selepas musim kemarau yang dilanda kabut asap merupakan ‘hujan untuk cuci asap’, air hujannya kotor.

“Jadi biarkan saja hujannya untuk berlalu dan mengalir suka-suka. Airnya jangan dipakai karena bau asap,” ungkapnya.

Hujan berintensitas sedang meluas ke wilayah Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Prabumulih pada 16.00 sore hari dan ke Kabupaten Musi Banyuasin serta Ogan Komering Ulu (OKU) pada pukul 19.00.

Sebelumnya, hujan terakhir mengguyur Kota Palembang pada Sabtu, (19/9) lalu. Hujan deras pada pukul 17.30 bertahan selama 20 menit. Sempat terhenti beberapa saat, pukul 18.20 hujan kembali mengguyur dan bertahan 15 menit.

Agus menjelaskan, saat ini awan penghujan memang sudah ada namun kedepan diperkirakan akan kembali berkurang karena masih musim peralihan, belum memasuki musim hujan.

“Biar BPPT yang harus mengoptimalkan. Hujan turun karena adanya upaya maksimal semai garam diatas awan penghujan. Sejak beberapa pekan lalu semaian garam dimaksimalkan karena diprediksi setelah 30 Oktober awan penghujan mulai sedikit berkurang jumlahnya,” jelasnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) Willem Rampangilei mengatakan, saat ini upaya pemadaman karhutla di Indonesia, didukung penuh oleh adanya hujan-hujan yang jatuh di daerah-daerah. Di Sumsel, hujan telah mengguyur Air Sugihan yang membuat hotspot padam.

“Tapi kita masih memaksimalkan waterbombing agar api benar-benar padam,” tegasnya. Sebagai upaya tambahan, pihaknya akan mendatangkan tambahan lima pesawat fixwing yang bisa membawa kapasitas 6.000 liter air dalam setiap kali waterbombing.

Namun pesawat tersebut dipastikan Willem tak didatangkan dari luar negeri, melainkan menyewa dari dalam negeri. Hingga saat ini kebakaran hutan dan lahan (karhutlah) di Indonesia sudah menghanguskan seluas 1,7 juta hektar di Pulau Sumatera dan Jawa.

Pihaknya belum menghitung luasan yang terbakar di pulau lain, sehingga lahan hangus melebihi jumlah tersebut. “Tak hanya se-Indonesia, Sumsel saja belum tahu detailnya. Jumlahnya belum pasti karena satelit yang kita gunakan masih terhalang asap,” beber dia.

Komandan Satgas Bencana Asap Akibat Karhutla di Sumsel Kol Inf Tri Winarno mengatakan,  upaya yang dilakukan tetap memaksimalkan pemadaman darat dan udara. Pemadaman darat dilakukan bersama Manggala Agni, BPBD, lintas sektor terkait, TNI, Polri baik di OKI, Banyuasin, Musi Rawas, dan OKU Selatan.

Juga dilakukan waterbombing dengan menggunakan helikopter Bell 214 B, MI-8, MI-171 PK IOS, MI-171 UR CMT, Bolkow PK-EAM, dua unit pesawat air tractor, helikopter Super Puma S 332 PK DAN, serta helikopter Kamov.

Juga masih ada dua unit pesawat Beriev BE200 dari Rusia yang beroperasi di Air Sugihan (OKI). “Kita juga masih maksimalkan TMC (teknik modifikasi cuaca) karena saat ini awan penghujan sudah mulai tumbuh dan menyebar di Sumsel,” terang Tri.

Ia menyebut pihaknya berupaya untuk mengoptimalkan kinerja TMC. Apalagi saat awan-awan sudah banyak tumbuh diatas Sumsel.

“Awan sudah banyak, jadi upaya kita semakin banyak menyemaikan garam diatasnya. Agar hujan semakin banyak intensitasnya turun diatas tanah Sumsel,” terang Tri. #idz

x

Jangan Lewatkan

12 Teroris Berencana Serang Kantor Polisi di Sumsel

Palembang, BP–Sebanyak 12 terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 Antiteror pada Minggu (10/12) lalu masih menjalani pemeriksaan di Mako ...