Home / Headline / Hujan Deras Bantu Padamkan ‘Hotspot’

Hujan Deras Bantu Padamkan ‘Hotspot’

 

BP/ARRACHIM PALEMBANG DIGUYUR HUJAN-Setelah tiga bukan kemarau Palembang akhirnya diguyur hujan lebat dihampir semua kawasan diKota Palembang, Jumat (30/10)

BP/ARRACHIM

Palembang, BP

Hujan deras mengguyur Kota Palembang dan beberapa daerah lainnya, Jumat (30/10) siang. Meski intensitas dan durasi hujan beragam, sebagian besar wilayah terkena guyuran hujan.

Bahkan guyuran hujan menghilangkan seluruh titik api (hotspot) yang berada di wilayah Sumsel. Berdasarkan pantauan satelit Aqua/Terra Modis update 30 Oktober pukul 07.00 pagi, terdapat 110 titik api di Sumsel dengan Kabupaten OKI menjadi penyumbang terbanyak yakni 97 titik. Sementara pada data update pukul 16.00, sama sekali tidak terpantau titik api di wilayah Sumsel.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara SMB II Palembang Agus Santosa menuturkan, hujan yang turun merupakan hujan alami bukan buatan hasil tabur garam tim Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pantauan radar cuaca BMKG tumbuh awan hujan di daratan Sumsel, tepatnya di antara Tulung Selapan dengan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir pada pukul 10.40.

Sekitar pukul 13.50, hujan membasahi hampir seluruh wilayah Kota Palembang dan OI. Terpantau hujan mengguyur di Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Jembatan Ampera, Kantor Gubernur Sumsel, Sekip, KM 7, Lemabang, dan Bukit. “Kalau dilihat melalui radar, daerah Seberang Ulu lebat juga,” ujar Agus.

Agus memperingatkan, turunnya hujan pertama setelah hampir dua bulan yang lalu tidak hujan perlu diwaspadai oleh masyarakat. Karena hujan pertama selepas musim kemarau yang dilanda kabut asap merupakan hujan untuk cuci asap sehingga air hujannya kotor. “Jadi biarkan saja hujannya untuk berlalu dan mengalir suka-suka. Airnya jangan dipakai karena bau asap,” jelasnya.

Hujan berintensitas sedang meluas ke wilayah Kabupaten Ogan Ilir, Kota Prabumulih, Kabupaten Musi Banyuasin, serta Ogan Komering Ulu (OKU).

Agus menjelaskan, saat ini awan penghujan memang sudah ada namun ke depan diperkirakan akan kembali berkurang karena masih musim peralihan, belum memasuki musim hujan.

“Biar BPPT yang harus mengoptimalkan. Hujan turun karena adanya upaya maksimal semai garam di atas awan penghujan. Sejak beberapa pekan lalu semaian garam dimaksimalkan karena diprediksi setelah 30 Oktober awan penghujan mulai sedikit berkurang jumlahnya,” jelasnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) Willem Rampangilei mengatakan, saat ini upaya pemadaman karhutlah di Indonesia, didukung penuh oleh adanya hujan-hujan yang jatuh di daerah-daerah. Di Sumsel, hujan telah mengguyur Air Sugihan yang membuat hotspot padam.

“Tapi kita masih memaksimalkan waterbombing agar api benar-benar padam,” tegasnya.

Sebagai upaya tambahan, pihaknya akan mendatangkan tambahan lima pesawat fixwing yang bisa membawa kapasitas 6.000 liter air dalam setiap kali waterbombing.

Namun pesawat tersebut dipastikan Willem tak didatangkan dari luar negeri, melainkan menyewa dari dalam negeri. Hingga saat ini kebakaran hutan dan lahan (karhutlah) di Indonesia sudah menghanguskan seluas 1,7 juta hektar di Pulau Sumatera dan Jawa.

Komandan Satgas Bencana Asap Akibat Karhutla di Sumsel Kol Inf Tri Winarno mengatakan, upaya yang dilakukan tetap memaksimalkan pemadaman darat dan udara. “Kita juga masih maksimalkan TMC (teknik modifikasi cuaca) karena saat ini awan penghujan sudah mulai tumbuh dan menyebar di Sumsel,” terang Tri. #idz/osk

 

 

 

 

 

 

x

Jangan Lewatkan

Dana Bantuan 11 Parpol Di Sumsel Tahun 2017 Capai Rp 2.030.811.552

Palembang, BP Hingga saat ini Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumsel belum menerima secara resmi petunjuk pelaksanaan (juklak) ...