Home / Sumsel / Banyuasin / Dimangsa atau Memangsa Buaya Muara

Dimangsa atau Memangsa Buaya Muara

Konflik buaya dengan warga Banyuasin terus berlanjut. Tidak sedikit warga yang tewas mengenaskan dimangsa hewan buas ini. Namun, banyak juga buaya yang dibunuh manusia.

2810.01.KAKI.HASSMENURUT para tetua kampung pertikaian antara buaya di perairan Pulau Rimau telah terjadi sejak abad 16 lalu. Kemudian warga menetapkan titik-titik lokasi rawa dan sungai larangan untuk menjaga ekosistem buaya dan manusia agar tidak saling mengganggu.

Namun seiring perkembangan waktu dan semakin bertambahnya penduduk, kawasan rawa dan sungai yang dulunya merupakan habitat buaya mulai dihuni oleh manusia. Terutama saat kawasan Pulau Rimau, mulai diisi oleh para transmigran 2001 lalu.

Tidak sedikit dari kalangan warga di daerah perairan ini menggantungkan hidup mencari ikan di sungai, muara, dan rawa-rawa. Secara tidak langsung, kehadiran manusia menjadi ancaman bagi buaya yang juga mencari makan di sekitar wilayah itu.

Sejak saat itu konflik antara manusia dan buaya semakin marak. Sudah puluhan bahkan mungkin ratusan nyawa manusia melayang akibat diterkam buaya.

Berdasarkan data dari warga sekitar, sejak tahun 2008 lalu sedikitnya 50 orang warga menjadi korban keganasan buaya. Terakhir, Sabtu (24/10), seorang pemancing tewas mengenaskan dicabik buaya di Sungai Batang Hari Pulau Rimau.

Sementara itu kawanan buaya juga menjadi korban perburuan manusia. Sejumlah buaya dewasa tewas ditombak lalu disate warga untuk dimakan. Bahkan tidak sedikit anak-anak buaya yang ditangkapi.

“Warga nekat melakukan itu karena lambannya tindakan pemerintah mengatasi masalah ini,” ujar Abu Sali, warga Bom Berlian yang ikut menyaksikan buaya muara di sate belum lama ini.

Menurutnya, kejadian itu telah berlangsung puluhan tahun. Korban jiwa sudah banyak berjatuhan, harusnya pemerintah mengambil pelajaran. “Harus ada solusi, jangan sampai terjadi korban lagi,” katanya.

Keluarga korban Adi Ismanto yang tewas diterkam buaya beberapa hari lalu juga berharap agar ada tindakan nyata untuk menghentikan keganasan buaya. “Apalagi setiap tahun selalu ada korban nyawa diserang buaya, semoga ini yang terakhir,” ujar Tholib, kakak ipar korban.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Banyuasin Syuhada Aziz mengatakan, pihaknya telah mengusulkan agar daerah itu dijadikan kawasan suaka marga satwa. Sehingga ada titik-titik tertentu yang memang dilindungi untuk habitat buaya agar tidak lagi terjadi konflik antara manusia dan reptil buas itu.

“Kami juga telah menurunkan tim pascakejadian kemarin dan memberikan pemahaman kepada warga sekitar tetang mekanisme hidup berdekatan dengan satwa liar. Peran warga juga sangat besar untuk menjaga ekosistem alam untuk keselamatan mereka bersama,” pungkasnya.#mewan haqulana

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Apriyadi: Tahun 2018 Piala Adipura Harus Kembali ke Muba

Sekayu, BP–Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin targetkan meraih kembali piala adipura ke-12 pada tahun 2018, yang mana gagal pada tahun 2017 ...