Home / Budaya / Temukan Kembali Sejarah Keris Palembang yang Hilang

Temukan Kembali Sejarah Keris Palembang yang Hilang

DSCN2649SENJATA tradisional asal Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)  tak kalah menariknya dibandingkan dengan senjata tradisional dari daerah lainnya.
Terbukti dari pameran senjata tradisional Sumatera dengan tema” Pameran Senjata Tradisional Sumatera Dalam Konstruksi Dan Reproduksi budaya , senjata khas asli Sumsel mendapatkan banyak mendapatkan sorotan dan kunjungan dari pengunjung yang mendatangi Museum Negeri Sumsel di Jalan Srijaya KM 5 Palembang, Kamis (22/10).
Pameran tersebut berlangsung dari tanggal 21 Oktober 2015 hingga 26 Oktober 2016  di Museum Negeri Sumsel Bala Putra Dewa, Palembang
Diantara senjata tradisional yang dipamerkan ada beberapa Keris Palembang yang kini sudah menghilang sejak Kesultanan Palembang Darusalam di hapuskan oleh pemerintah Kolonial Belanda sejak tahun 1905.
Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Bala Putra Dewa, Thontowi Herijum Eka Permana didampingi  Kasi Koleksi dan Konservasi , Syamsuddin, Kamis (22/10) mengatakan kalau Keris Palembang tidak jauh berbeda dengan Keris yang ada di Jawa , karena yang membawa adalah bangsawan-bangsawan dari Jawa terutama dari Kesultanan Demak lalu membawa tradisi Jawa salah satunya Keris ke Palembang dan mendirikan Kesultanan Palembang Darusalam. .
“Di Palembang Keris ini diakulturasi dengan budaya melayu akhirnya jadilah Keris Palembang,” katanya.
Menurutnya Keris Palembang dan Keris Jawa ada yang membedakan yaitu pada Luk ( belokan atau lurus keris) , Warangka berbeda,” Gagangnya Keris Palebang seperti kepala burung, selain itu tangkainya seperti perahu seperti perahu ini maknanya Palembang itu adalah negara maritim ,” katanya.
Selain itu dulu Keris Palembang di Zaman Kesultanan Palembang Darusalam merupakan simbol kebesaran bagi Sultan, Keluarga Sultan dan bisa di jadikan alat mempertahankan diri.
Diakuinya kalau Keris Palembang ini hilang setelah Kesultanan Palembang Darusalam dihapuskan pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1905 secara berangsur-angsur.
” Sejak itu simbol-simbol Kesultanan tidak diakui masyarakat lagi, dan mulai hilang, akhirnya Keris Palembang  berangsur-angsur hilang , tapi bukan berarti hilang sama sekali , masih ada dipegang sejumlah keluarga Sultan,” katanya.
Pihaknya belum mengetahui berapa sekarang jumlah Keris Palembang yang masih di pegang oleh masyarakat Palembang terutama oleh keturunan Kesultanan Palembang Darusalam.
” Selain itu kenapa Keris Palembang tidak muncul lagi karena tidak ada pandai besinya atau empunya, kalau di Jawa masih terus berlangsung walaupun jumlahnya sedikit tapi terus, kalau di Palembang tidak ada lagi , terputus,” katanya.
Apalagi untuk membuat Keris oleh pandai besi atau mpu harus ada syaratnya seperti harus berpuasa dulu. Kecuali senjata lain Palembang seperti Kuduk, Siwar masih ada pembuatnya salah satunya di Lahat.
“Kalau zaman dulu Keris Palembang itu memiliki aura magis, kalau sekarang tergantung Kerisnya , ada yang “berisi” ada yang  tidak, kalau orang ada indera ke enam bisa melihat penghuni Keris Palembang , kalau kita tidak bisa merasakan aura magisnya,” katanya.
Dijelaskannya kalau budaya Keris menurutnya tumbuh awalnya dari tradisi Agama Hindu namun ketika Islam masuk di Indonesia terjadi akulturasi budaya termasuk Keris.
” Mungkin motip keris dulu waktu zaman hindu seperti hewan, manusia saat Islam masuk di hilangkan menjadi motip tumbuh-tumbuhan dan sebagainya,” katanya.
Dan sejak hari pertama pameran, Rabu (21/10) , menurutnya pameran senjata tradisional ramai di kunjungi pengunjung terutama anak-anak sekolah, kalangan masyarakat yang cinta dengan alat tradisional.
“Dengan pameran seperti ini paling tidak kita bisa melihat kalau dulu ada kekayaan budaya bangsa berupa senjata tradisional yang cukup menarik,” katanya.
Sedangkan jumlah peserta mengikuti pameran tersebut menurutnya ada sekitar 125 orang yang terdiri dari peserta aktip yang ikut dari Museum  Negeri Aceh, Museum Negeri Sumatera Barat, Museum Negeri Sumatera Utara, Museum  Riau, Museum Bengkulu, Museum Jambi, Museum Lampung dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin.
Sedangkan peserta pasif adalah museum Jawa Barat, Museum Jawa Tengah, Museum Jawa Timur, Museum Kalimantan Selatan, Museum Kalimantan Timur, Museum Kalimantan Barat, Museum Kalimantan Tengah, Museum Sulawesi Selatan, Museum Sulawesi Tengah, Museum Sulawesi Utara dan Museum Sulawesi Tenggara.
    Sedangkan total koleksi yang  di pamerkan sekitar 95 koleksi  dalam bentuk rencong, keris, pedang, badik, parang, piso, sewar, tombak, kujur, busur dan panah.
  Dan yang membanggakan , pameran kali ini menjadi pilot project studi banding dari  Museum Palu.
Sedangkan pameran senjata tradisional ini menurutnya untuk putaran Sumatera, Sumsel yang pertama yang menggelarnya.
“Senjata tradisional itu awalnya dibuat untuk mempertahankan diri bukan hanya dari binatang dan untuk berburu, berkembang lagi , dari mulai pra sejarah berkembang dan sekarang ini senjata merupakan reproduksi sejarah karena bentuk senjata itu mengalami perubahan bukan hanya fungsinya saja, kegunaaanya bukan hanya untuk menyerang bisa simbolis dan lainnya,” katanya.
    Menurutnya Sumsel termasuk provinsi yang masih memiliki senjata-senjata tradisional seperti diantaranya keris Palembang, Siwar, Kuduk, Gubang.
Tri Astuti (17), mahasiswi Unsri mengapresiasi pameran  tersebut menurutnya pameran tersebut  Bisa menambah pengetahuan dan wawasan mengenai sejarah dan budaya. Ternyata banyak juga jenis senjata tradisional milik bangsa Indonesia.
“Sudah sewajarnya senjata tradisional harus dijaga kelestariannya agar bisa diketahui untuk masa mendatang,” kata Tri Astuti. #dudy oskandar
Baca:  Kisah Kolam Pemandian Putri Sultan Palembang Dalam BKB Yang Ditimbun Belanda
x

Jangan Lewatkan

Berkibarnya Bendera Rod, Wit, En Blau Di Bastion Kuto Besak

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode (1803-1813, 1818-1821), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Muhammad ...