Home / Headline / Talas Beneng Banten Ramaikan Hari Pangan Dunia

Talas Beneng Banten Ramaikan Hari Pangan Dunia

Ratusan stand mengikuti pameran Hari Pangan Sedunia ke-35 2015 di Jakabaring Sport City, Palembang. Stand-stand peserta ini berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.

TalasBANYAK pangan yang dipamerkan. Mulai dari makanan, hasil produk pertanian, dan masih banyak lagi. Di antara stand yang ada, stand dari Provinsi Banten cukup unik. Mereka memajang talas Banten raksasa di samping pintu masuk stand. Talas yang dipajang berukuran raksaksa ini cukup unik karena sangat jarang ada di provinsi lain selain di Provinsi Banten.

Talas Banten (Xanthosoma undipes) atau yang lebih dikenal dengan nama talas Beneng (merupakan singkatan dari besar dan koneng yang artinya berukuran besar dan berwarna kuning) merupakan jenis umbi yang memiliki prospek sebagai bahan pangan pokok dan fungsional.

Menurut Drs Budiana, dari Badan Ketahanan Pangan dan Holtikultura Banten, Talas Beneng ini berasal dari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Talas Beneng memiliki karakteristik yang berbeda dengan talas dari daerah lain. Talas ini tumbuh liar di lereng gunung, memiliki batang yang besar dan panjang serta pada bagian akarnya terdapat umbi-umbi kecil yang bergerombol. Umbi beneng muncul di atas permukaan tanah, sedangkan talas lain terpendam.

“Kami dari Badan Ketahanan Pangan dan Holtikultura Banten selalu berusaha membantu para petani dengan melakukan promosi dan lomba cipta menu. Seperti mengikuti kegiatan Hari Pangan Duni di Palembang. Upaya-upaya ini sangat membantu para petani dalam membudidayakan pangan,” kata Budiana.

Salah satu petugas stand Banten yang juga produsen talas Banten, Dudi, menambahkan, talas ini hanya tumbuh di Banten dan kini mendapatkan respon positif dari pasar terutama dari Jabodetak.

“Talas Banten ini sudah bisa diolah jadi tepung, kripik, dan lainnya, pengembangan sekarang budidayanya sudah 85 hektar, pengembangan dari dinas pertanian 5 hektar dan ada juga dari kabupaten. Jadi tiap tahun ada regulasi dari pemerintah daerah. Permintaan tepung talas Banten estimasinya tiap tahunnya rata-rata 4 ton per bulan itu estimasi di Jabodetabek. Belum yang dikirim ke Banjarmasin, Pekanbaru, Palembang, Riau itu masih kecil karena terkait ongkos transportasinya yang mahal,” kata Dudi ketika ditemui di stand Banten, Senin (19/10).

Talas Banten sudah dikenalkan di tingkat nasional sejak tahun 2009. ”Tahun 2004 itu sudah ada tapi masilah tertatih-tatih. Dengan adanya peran Badan Ketahanan Pangan Banten dalam promosi, lomba cipta menu sangat membantu sekali dalam pengangkatan potensi talas Banten,” katanya.

Dengan ukuran umbi yang besar, nilai ekonomis talas Beneng untuk menjadi tepung menjadi lebih tinggi dibandingkan talas Bogor yang ukurannya lebih kecil. Jika produktivitas umbi talas Bogor hanya sekitar 9 ons/pohon, maka umbi talas beneng bisa mencapai 15Kg/pohon.

“Pengembangan Talas Banten ini di sekitar gunung Pandeglang dan Serang dan ini ternyata Korea minta pelepahnya dari Jepang juga minta pelepah Talas Banten untuk dijadikan sayur. Ini karena promosi Badan Ketahanan Pangan Banten, berkembang, apalagi Talas Banten ini dulunya tidak diperhatikan orang karena jadi tanaman liar sekarang bernilai ekonomis,” katanya.

Selain tepung, Talas Banten bisa dijadikan kripik, kue brownis, cokies, roti dan banyak lagi turunannya termasuk limbahnya bisa menjadi pakan ternak.

“Populasinya per hektar dengan jarak tanam 10 meter ada 10 ribu batang Talas Benten, sekarang itu dari usia tanaman ini 6 sampai 8 bulan bisa panen. Dalam 6 sampai 8 bulan bobotnya rata-rata  ada 14Kg dan 5Kg. Sudah 30 ton per hektar dikembangkan di tanah kering,” katanya.

Ke depan talas Banten akan dikembangkan di kota lain selain Banten seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.

Dalam pameran kali ini stand Provinsi Banten juga menampilkan produk lain selain talas Banten seperti tepung pisang, tepung ubi ungu dan jenis tepung lain dan gadung. “Tapi yang menjadi ikon memang muncul karena jaminan pasarnya tinggi adalah talas Banten,” katanya.#dudyoskandar

 

 

x

Jangan Lewatkan

Pilgub Sumsel 2018, Posisi PDIP Dan Golkar Kuat

Palembang, BP Peneliti dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Kholil Pasaribu melihat pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan (Sumsel) tahun ...