Home / Headline / Dibombardir Udara, Asap Mulai Menipis

Dibombardir Udara, Asap Mulai Menipis

Palembang, BP

Pesawat Lockheed L100-30 Airtangker Bantuan Asutralia (2)Sejumlah pesawat secara simultan terbang dan bergerak melingkar di atas area hutan dan lahan yang terbakar di Ogan Komering Ilir, Rabu (13/10). Di antaranya pesawat bantuan dari Australia Hercules C130 Bomber 132 atau Thor. Pesawat water bomber yang mampu membawa air 15 ribu liter air ini mengambil rute dari Palembang menuju Air Sugihan.

Kemudian helikopter Chinook Mustang 93 CH47 dari Singapura terbang ke Tulung Selapan dan Pedamaran, dan pesawat Bombardier Pelican CL415 Malaysia menuju Cengal. Tempat-tempat itu paling parah dan titik apinya masih terus menyala. Sebagian daerahnya tidak tampak lagi karena asapnya masih tebal.

Tetapi operasi udara berjalan lancar dan berhasil memadamkan sebagian lahan dan hutan yang terbakar. Meski asap rata-rata cukup pekat, jarak pandang bagus dan tidak ada masalah.

“Tadi saja pukul 08.00, pukul 09.00 sudah 1.000. Mungkin lebih bagus lagi kalau sudah 3.000, 4.000,” kata Komandan Lanud Palembang selaku Dansatgas Udara Letkol Pnb MRY Fahlefie, Ssos yang memantau dari monitor di posko Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan Sumsel, kemarin.

 

Operasi udara itu bergerak beriringan. Satu helikopter AS 365 doping dan satu pesawat water bombing CL 145 Pelican dari Malaysia Cost Guard dan satu Helikopter Chinook dari Singapore dan Australia satu spooter, pesawat Turbo Comander 69B, di belakangnya mengikuti C132 Air Tanker.

“Pesawat dari Australia, jenis Hercules, tiba pukul 20.00 tadi malam. Pesawat itu memiliki tangki berisi 15 ribu liter. Itu mulai beroperasi dengan diarahkan ke Air Sugihan dan secara operasional Australia memiliki satu pesawat kecil yang memandu Hercules ke lokasi,” katanya.

Sebelum adanya bantuan asing, pihaknya menyiagakan tiga pesawat Air Tractor, lima helikopter, satu pesawat 212 Cassa –melakukan hujan buatan berkerja sama dengan BPPT.

Dansatgas Darat Kolonel Inf Wahyu HS mengatakan, berdasarkan pertemuan dengan Kepala BNPB RI Brigjen Willem R, kemarin, 1.448 titik api terhitung mulai 11 September sudah mulai dipadamkan di lokasi yang bisa dijangkau pasukan.

Hasil operasi udara itu kemarin, sedikit demi sedikit kabut asap di Sumsel mulai menipis, terutama di kota Palembang. Kondisi ini memang belum permanen, sebelum melewati malam dan pagi hari ini. Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan Sumsel Kolonel Infantri Tri Winarno memaklumkan, hotspot dan arah angin selama kebakaran lahan dan hutan selalu fluktuatif.

“Seperti hotspot yang fluktuatif, cuaca dan jarak pandang juga fluktuatif. Semuanya fluktuatif, hanya saja dibandingkan kemarin, sekarang lebih terang. Itu bagus, cuaca kan tidak bisa kita tebak,” katanya saat ditemui posko Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan Sumsel, Rabu.

Menurutnya, hotspot di Sumsel masih ada namun dia memastikan dengan kehadiran pesawat dari negara lain diharapkan bisa berkurang walaupun tidak drastis. Arah angin hari ini datang dari tenggara.

“Saat ini api yang masih menyala jauh dari jangkauan darat. Kami dari satgas darat berkoordinasi dengan pihak Lanud selaku satgas udara. Kalau malam anggota kami berkerja, patroli melihat titik api di mana kalau tidak bisa dijangkau memberitahukan koordinat titik api tersebut sebagai bahan kita membuat rencana untuk water bombing besok harinya. Kami juga berkoordinasi dengan pihak kehutanan untuk mensinkronkan hasil pengamatan kita dengan hasil citra satelit dan itu kami informasikan kepada satgas udara untuk dilakukan water boombing esok harinya dan itu lebih efektif,” katanya.

Pembangunan kanal di lahan gambut yang terbakar dilakukan agar api tidak merembet ke mana-mana, termasuk sebagai persediaan air untuk memudahkan pemadaman.

“Kanal sementara ini dalam proses karena kanal-kanal itu sudah ada dan perlu di normalisasi untuk di OKI, di daerah Air Sugihan,” katanya.

Cara lain dengan sekat bakar pada jarak yang jauh juga dilakukan pihaknya untuk memisahkan daerah yang menjadi bahan bakar api dengan dilokalisir. “Itu semua kalah kalau angin sangat ekstrem karena api bisa meloncat,” katanya.

 

Satgas Karhutlah Kolonel Infantri Tri Winarno dalam rapat hasil evaluasi pemadaman kebakaran lahan dan hutan di Sumsel di posko Satgas Karhutlah BPPD Sumsel, Rabu sore, mengatakan upaya pemadaman akan terus dilakukan dan dengan peningkatan, apalagi telah dibantu negara lain.

Berdasarkan laporan cuaca dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, jarak pandang di Palembang  terpantau 6 kilometer. Sementara cuaca sepanjang hari kemarin dilaporkan cerah berawan.

Jumlah titik panas di Sumsel berdasarkan satelit Aqua-Terra Modis pada 13 Oktober 2015 terpantau sebesar 267 titik. Dengan jumlah terbesar berada di daerah OKI, yakni sebanyak 176. Tetapi muncul beberapa titik panas yang terpantau baru. “Menurut laporan, hal ini disebabkan api permukaan membesar kembali, sumbernya dari dasar lahan gambut,” katanya.

Sementara Indonesia sendiri menurunkan armada udara untuk memberantas kabut asap Palembang, di antaranya Mi-171 UR CMT untuk operasi di Simpang 3 Sakti, Bolkow PK-EAM di Indralaya, dan Air tractor VH NWU di Padang Sugihan.

Titik api di Sumsel berdasarkan pantauan Satelit Modis Aqua Terra per 14 Oktober pukul 05.00 tercatat ada 246. Banyuasin 31, Empatlawang lima, Lahat 11, Muaraenim tujuh, empat di Musi Banyuasin, satu di Musirawas, dua di Ogan Ilir, dan 185 titik api di OKI.

Kasi Observasi dan Informasi BMKG Statmet Bandara SMB II Palembang Agus Santosa mengatakan,  jarak pandang paling rendah di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang kemarin 350 meter pada pukul 06.00. Namun berangsur membaik hingga terpantau jarak padang mencapai 6.000 meter.#osk/idz

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

FP2TKL Dukung Sarimuda-Rozak

Palembang, BP Serikat buruh dan Forum Pedagang Pasar, Toko dan Kaki Lima (FP2TKL) kota Palembang berharap Ir H Sarimuda Sarnubi ...