Home / Headline / Operasi Internasional Titik Api Dimulai

Operasi Internasional Titik Api Dimulai

#Gubernur Harap 2 Minggu Padam

BP/MARDIANSYAH PESAWAT-Salah satu pesawat bantuan dari negara Malaysia untuk pemadaman kebakaran lahan terpakir dilandasan udara TNI Angkatan Udara Palembang,Jumat (9/10)

BP/MARDIANSYAH
PESAWAT-Salah satu pesawat bantuan dari  Malaysia untuk pemadaman kebakaran lahan.

Palembang, BP
Bantuan beberapa negara demi memadamkan titik api dan menghilangkan kabut asap di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan, menandai operasi pemadaman titik api internasional dimulai.

Pasukan beserta armada dari Singapura dan Malaysia mulai melakukan pemadaman menggunakan pesawat Hercules dan Chinook, hari ini, Senin (12/10).

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengatakan, saat ini total armada yang beroperasi di Sumsel yakni tujuh helikopter dan tiga pesawat fixed wings yang menggempur api dengan waterbombing. Satu pesawat Casa masih disiagakan untuk melakukan teknik modifikasi cuaca (TMC) hujan buatan.

“Operasi internasional akan difokuskan di area dengan jumlah titik api terbanyak yakni di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin. Insya Allah. Saya yakin kalau masif seperti ini paling lama dua minggu titik api bisa padam,” jelas Alex optimis, Minggu (11/10).

Alex menerangkan, dalam waktu dekat akan datang peralatan pemadaman lainnya dari Australia dan Rusia, yakni pesawat Fixed Wing yang mampu membawa 15.000 liter dalam sekali terbang. “Tim ini akan gempur hotspot sampai asapnya berhenti, kita berterima kasih dengan bantuan ini. semoga hotspot padam dan asap segera menghilang,” tambahnya.

Menurut Alex, kondisi tak kunjung padamnya kebakaran lahan di Sumatera mengundang banyak simpati dari negara luar. Karena itu, peralatan bantuan langsung dikerahkan yang dimulai Senin ini.

Rangkaian operasi itu, kata Alex, dimulai dengan tim breafing. Awalnya tim akan melihat dulu hotspot yang terbanyak di area mana saja. Setelah itu tim terjun akan memadamkan melalui operasi udara dan pada pukul 17.00 akan dievaluasi.

“Jadi setiap hari akan ketahuan hasilnya. Memang operasi ini harus dilakukan secara tepat dan akurat sehingga tak ada kesalahan,” bebernya.

Lanjut Alex, demi mengoptimalkan kembali pemadaman serta mengantisipasi kebakaran lahan ke depan, Pemprov Sumsel juga telah melakukan kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk mengantisipasi titik api sejak dini.

“Kita menyambut positif kerja sama dengan LAPAN karena diharapkan dapat menyelesaikan akar masalah kebakaran hutan dan lahan secara tuntas serta sebagai upaya pencegahan menjadi solusi ke depan,” jelasnya.

Kerja sama ini akan meliputi penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan bidang sains, pengkajian, dan informasi kedirgantaraan, penginderaan jauh, dan teknologi dirgantara, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, diseminasi dan publikasi ilmiah, penyediaan, dan pertukaran data kedirgantaraan dan penginderaan jauh serta kerja sama lainnya.

Alex menambahkan, kerja sama dengan LAPAN akan berupa pengembangan early warning system yang dapat memberikan peringatan sedini mungkin pada daerah-daerah rentan, serta tindakan yang direkomendasikan untuk mencegah terjadinya hotspot dan kebakaran hutan dan lahan.

“Kerja sama juga meliputi sistem informasi mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan yang dapat memberikan informasi yang komprehensif dalam upaya perencanaan, pencegahan, dan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.

Pemprov Sumsel akan meningkatkan dana penanggulangan bencana hingga 10 kali lipat dari sebelumnya. Alex mengatakan, biaya penanggulangan bencana tahun ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi maupun Kabupaten/Kota belum terlalu besar.

“Gabungan dana yang tahun ini dianggarkan pada Dishut dan BPBD Sumsel hanya sekira Rp8 miliar. Sedangkan biaya satu kali penerbangan helikopter yang melakukan waterboombing itu bila dibandingkan seharga dengan satu mobil Kijang Innova. Masih sangat banyak kurangnya,” tuturnya.

Gubernur pun menginstruksikan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk turut meningkatkan dana penanggulangan bencana, sehingga bisa menanggulangi lebih baik lagi pada tahun mendatang.

Saat ini sedang dilakukan penelitian dan kajian oleh perguruan tinggi lokal dan juga bantuan dari lembaga penelitian dan bekerja sama dengan pihak swasta untuk pemetaan lahan gambut serta upaya restorasinya.

Restorasi landscave ini mendapat dukungan nasional dan dunia internasional di antaranya dari Konsultan McKinsey asal AS, ZSL dan UKCCU asal Inggris, IDH The Initiative Sustainable Trade dari Belanda, BioClime asal Jerman, APP dengan Konsultan Deltares dari Belanda, Badan Pemanfaatan Dana Perkebunan (BPDP) dan Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI).

“Ini hal yang harus dilakukan. Studi manajemen pengelolaan gambut. Sebelum musim hujan tahun depan selesai, penanganan terhadap gambut pun selesai,” jelasnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, sebanyak tujuh heli dan empat pesawat tersebut terdiri dari enam heli BNPB, satu heli Singapura, dua pesawat air tractor dari Kementerilah LHK, satu pesawat hujan buatan BNPB, dan satu pesawat Bombardier 415 MP dengan kapasitas 6 ton dari Malaysia.

“Pesawat ini akan beroperasi sampai dengan 16 Oktober. Setelah itu, pihak Malaysia akan melihat situasi apakah ditarik pulang atau diperpanjang,” jelasnya. Sedangkan heli dari Singapura akan dioperasikan selama 13 hari dari 11-23 Oktober sebelum dievaluasi lagi nantinya. Briefing kepada para pilot dan kru tentang Rencana Operasi, pembagian daerah dan tugas operasi serta aturan keselamatan.

Pemegang komando kendali nasional adalah Indonesia lewat BNPB. Sedangkan Kodal operasi sehari-hari berada pada Komandan Sub Satgas Udara. Tim Aju Australia akan tiba di Palembang pada Minggu dan diperkirakan pesawat ‘Thor’ tipe Hercules L 100  dengan kapasitas 15 ton akan tiba pada Selasa atau Rabu besok

“Metode pengisian air dengan memompa dari mobil tangki. Pesawat ini hanya dapat dioperasikan selama lima hari, karena masih digunakan untuk memadamkan karhutlah di NSW Australia. Indonesia masih menunggu konfirmasi bantuan pesawat dari negara lainnya,” terangnya.

Hingga saat ini, luasan lahan yang terbakar berdasarkan Citra Satelit Landsat 8 dan 7 dalam periode Juni hingga September 2015 yakni seluas 128.314 hektar. Dengan rincian Ogan Ilir lahan yang terbakar seluas 5.860 hektar, 88.267 hektar di OKI, dan 34.187 hektar di Musi Banyuasin.

Sementara kondisi lahan di Sumsel terdiri dari 3.478.468 hektar luas kawasan hutan, 1.800.000 hektar lahan perkebunan, 752.000 hektar lahan pertanian, 1.564.320 hektar lahan lainnya, dan 1.483.662 hektar lahan gambut.

Jumlah titik api hingga 7 Oktober lalu fluktuatif. Sejak awal Oktober, titik api terbanyak dialami pada 3 Oktober dengan 1.355 titik api, dan yang terendah pada 2 Oktober yakni 126 titik api.

Sedangkan sejak Januari 2015, titik api terbanyak dialami pada masa September dengan jumlah 11.285 titik api, Agustus 1.800 titik api, dan dari 1-7 Oktober dengan 3.722 titik api.

Upaya pemadaman udara dengan waterbombing menggunakan enam pesawat helikopter dan dua unit pesawat air traktor. Total air yang sudah digunakan untuk upaya pemadaman sejak awal waterbombing yakni 22.783.500 liter air.

Teknologi modifikasi cuaca dengan hujan buatan pun terus dilakukan. Namun TMC tidak dapat maksimal karena hal ini dipengaruhi kondisi awan, arah angin, dan kondisi teknis lainnya. Sebanyak 67,1 ton garam NHCl sudah disemai di angkasa Sumsel.

Dukungan personel TNI dari Mabes TNI, diperbantukan 359 personel marinir di Kecamatan Bayung Lencir, 30 personel Kostrad di KTM Rambutan, Inderalaya, 669 personel Kostrad dan ARMED di OKI.

Sebanyak empat DAOPS Manggala Agni dengan 240 personel dilengkapi pemadaman, 1.000 personel regu pemadam kebakaran perusahaan perkebunan dan 450 personel HTI dilengkapi peralatan pemadaman dikerahkan memadamkan api di titik api. Pemadaman juga dibantu oleh Regu kebakaran Desa Terlatih (RKDT) dan masyarakat peduli api (MPA) di 260 desa. #idz

x

Jangan Lewatkan

Pilgub Sumsel 2018, Posisi PDIP Dan Golkar Kuat

Palembang, BP Peneliti dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Kholil Pasaribu melihat pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan (Sumsel) tahun ...