Bisnis Batu Akik Tak Lagi Asyik

 Bisnis jual beli bahan dan bentuk asahan jadi batu akik di wilayah Kota Lubuklinggau dan sekitarnya tak seramai satu tahun lalu. Banyak pedagang batu akik mulai mencari pekerjaan lain untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari.

1210.01.KAKI.HASSKETIKA sedang demam batu akik, pekerjaan dadakan sebagai penjual bahan dan bentuk jadi batu akik menjanjikan rezeki menggiurkan. Tak jarang orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap menyambi atau bahkan beralih profesi menjadi penjual batu akik. Bahkan, konon katanya tingkat kriminalitas menurun karena bisnis batu akik mengurangi banyak pengangguran.

Ketika masih ramai, penjual bahan dan bentuk jadi batu akik khas Bumi Silampari dengan mudah ditemui di bilangan Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Garuda. Tapi kini berangsur-angsur keberadaan mereka mulai tidak terlihat lagi seiring menurunnya pamor batu akik di tengah masyarakat.

“Dulu satu hari saya bisa transaksi berkisar Rp3 sampai Rp5 juta per hari. Tapi sekarang dua atau tiga hari baru ada transaksi, itu pun orang di luar Lubuklinggau yang beli, karena saya jual bahan batu akik via online,” kata Ari (23), salah seorang pebisnis batu akik di Jalan Mangga Besar, Kota Lubuklinggau.

Diakuinya, penyebab peminat batu akik turun karena sebagian masyarakat hanya mengikuti tren mode memakai batu akik. Tren tersebut dengan mudah turun seiring meredupnya fenomena batu akik. “Sekarang ini hanya pecinta batu akik saja yang masih memesan bahan batu akik kepada saya, itu pun cukup jarang,” ungkapnya.

Ari mengatakan, bahan batu akik yang dijualnya dengan jenis dan harga bervariasi. Namun, lebih dikhususkan pada bahan-bahan dari Bumi Silampari. “Ya seperti jenis batu teratai, sakura, calsedon, dan badar. Jika dulu saya jual bongkahan, sekarang jual lempengan yang sudah dipotong-potong. Dan pembeli lebih suka memilih bahan yang sudah dipotong-potong,” katanya.

Budi (40), seorang penjual jasa asah batu akik di Kelurahan Talang Bandung, Kecamatan Lubuklinggau Barat I mengatakan, dulu dalam sehari dia mampu menerima pesanan asah batu akik berbagai bentuk minimal 20 buah. Tapi sekarang paling banyak sekitar 5-10 buah per hari.

“Saya dulu sering menolak tawaran ngasah batu karena banyak pesanan. Otomatis didahulukan pemesan asah yang pertama kali datang. Namun sekarang sudah cukup sulit mencari orang mau mengasah batu akik,” tuturnya.

Satu hari, dia mampu meraup omzet kotor sekitar Rp700 sampai Rp 1 juta. Belum lagi jika ada pemesan khusus yang ingin membuat keris, rencong atau pedang dari bahan batu akik. “Sampai kewalahan dulu menghadapi pesanan masyarakat. Saya bekerja dengan adik, di mana uang yang masuk dibagi dua,” katanya.

Untuk satu buah batu akik jenis cincin berbagai ukuran, ayah tiga orang anak ini mematok upah asah Rp25 ribu per buah, jenis liontin Rp40 ribu per buah. “Khusus buat pedang, keris, dan rencong upahnya kesepakatan antara saya dan pemesan. Kondisi itu jauh berbeda sekarang ini. Tapi upah asah batu akik tetap seperti dulu, sebab harga peralatan dan aksesoris asah masih sama,” pungkasnya.

Terpisah, Ferdi (28), warga Kelurahan Marga Mulya mengaku tetap mengasah batu akik untuk memenuhi pesanan konsumennya. Dia menjualnya memanfaatkan media sosial seperti facebook dan BBM. Ia berharap pemerintah mencari solusi untuk mengembalikan demam akik sehingga warga kembali terbantu.

“Masih tetap ngasah batu akik, namun jumlahnya tidak sebanyak dulu. Saya secara pribadi berharap musim batu akik terus berjalan supaya ada pekerjaan bagi saudara-saudara kita lainnya. Saya harap dinas terkait punya usaha jitu untuk mengembalikan perporma batu akik,” harapnya. # frans kurniawan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*