Home / Sumsel / 20.000 Hektar Lahan Padi Gagal Panen

20.000 Hektar Lahan Padi Gagal Panen

Palembang, BP
Sekitar 20.000 hektar tanaman padi yang ada di Sumatera Selatan mengalami gagal panen pada kemarau kali ini. Kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan menjadi penyebab utamanya gagal panen di beberapa kabupaten di Sumsel tersebut.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Holtikultura Sumsel Erwin Noor Wibowo mengatakan, daerah yang mengalami gagal panen tersebut antara lain Kabupaten Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, dan Musirawas sebagai daerah penghasil beras terbesar di Sumsel.

“Yang paling besar luasan gagal panennya berada di Banyuasin,” tuturnya, Jumat (9/10).

Meski begitu, Erwin tidak mengatakan secara detail berapa luas lahan padi Banyuasin yang mengalami gagal panen. Erwin menjelaskan, daerah pasang surut seperti di Banyuasin memang sangat terkena dampak ketika kekeringan akibat kemarau panjang melanda. Namun, gagal panen tak hanya terjadi di lahan pasang surut, lahan lebak dangkal pun terkena dampaknya.

“Tanaman padi yang mengalami gagal panen  kalau di lebak dangkal itu karena terlambat tanam, dimana pada saat pembibitan sudah besar, siap tanam terjadi banjir. Kemudian ketika dilakukan pembibitan lagi, musim kemarau sudah lebih dulu datang,” jelasnya.

Sementara tanaman padi yang di lahan lebak menengah dan dalam, tanaman padinya bagus. Umur tanaman padi yang mengalami gagal panen itu dari umur 15 hari sampai dua bulan. Selain tanaman padi, tanaman jagung dan kedelai juga ada yang mengalami gagal panen dengan alasan kekeringan yang sama.

Saat ini, pihaknya berupaya untuk mengatasi kekeringan tersebut saat ini dengan pompanisasi. Terkait dengan adanya rencana pemerintah pusat untuk memberikan kompensasi kepada petani yang mengalami gagal panen, pihaknya masih menunggu kebijakan tersebut diberlakukan.

Namun, kata dia, bisa saja 20.000 hektar lahan tersebut mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian sesuai dengan rencana tersebut. “Pastinya ada persyaratan. Tidak asal memberikan. Yang diberikan adalah petani yang masuk kriteria gagal panen di lahannya,” jelasnya.

Sebelumnya, untuk meminimalisir kekeringan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumsel menyediakan pompa air bantuan bagi para petani untuk mengairi sawahnya. Pompa yang disediakan berupa pompa tambak hasil modifikasi untuk mengairi lahan-lahan yang kekurangan air.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Ilfantria mengatakan, pihaknya membentuk Tim Penanggulangan Kekeringan Sawah yang akan mengatasi kekeringan di musim kemarau ini. Sebanyak 27 pompa tambak yang dimodifikasi untuk pengairan sawah tersebut siap untuk
dipinjamkan ke daerah-daerah yang meminta.

“Salah satu daerah yang sudah meminjam yakni Kabupaten Muaraenim. Pompa tersebut dikembangkan oleh Brigade Penanggulangan Kekeringan di Bengkel Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel dengan dana APBD Sumsel,” jelasnya.

Pompa tersebut berkapasitas 700-1.000 liter air per menitnya. Kapasitas pompanya jauh lebih baik dari pompa biasa yang lazim digunakan di persawahan. “Satu pompa dapat digunakan untuk memompa air yang cukup untuk satu hektar sawah dalam waktu satu jam,” ungkapnya.

Selain pompa modifikasi, sebanyak 262 pompa air telah didistribusikan ke tingkat kabupaten dan kota sejak April lalu. Sebanyak 162 unit merupakan pengadaan dari APBD Sumsel dan 100 unit dari dana refocusing Kementerian Pertanian. #idz

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

200 Persil Lahan Warga Belum di Kompensasi Pembangunan Bendungan Tiga Dihaji

Palembang, BP   Pembangunan Bendungan Tiga Dihaji yang terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) ditargetkan oleh pemerintah dapat ...