Home / Headline / Solar dan Tarif Listrik Turun

Solar dan Tarif Listrik Turun

Jakarta, BP

Harga BBM, Gas dan Listrik akan Turun Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution berbicara di podium didampingi (dari kiri) Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Darmansyah Hadad, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Menteri ESDM Sudirman Said saat mengumumkan paket kebijakan ekonomi Jilid 3 di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (7/10). Paket kebijakan kali ini merupakan kelanjutan paket kebijakan ekonomi tahap 1 dan 2 guna mengatasi perlambatan ekonomi akibat dampak pelemahan ekonomi global yang meliputi penurunan harga BBM, listrik dan gas, perluasan penerima Kredit Usaha Rakyat dan penyederhadaan izin pertanahan untuk kegiatan penanaman modal dari 70 hari menjadi tiga jam.  MI/Panca Syurkani/ip

TURUN-Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution berbicara di podium didampingi (dari kiri) Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Darmansyah Hadad, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Menteri ESDM Sudirman Said saat mengumumkan paket kebijakan ekonomi Jilid 3 di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (7/10).

Pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah tarif energi lainnya sebagai bagian dari paket kebijakan ekonomi tahap ketiga.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said dalam jumpa pers di kantor Presiden, Rabu (7/10), mengatakan, penurunan tarif energi dimaksudkan untuk mendorong pergerakan industri.

Tarif pertama yang diturunkan ialah bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar yang diturunkan Rp200 per liter sehingga harga ecerannya menjadi Rp6.700 per liter. Penurunan harga yang sama juga akan berlaku untuk solar non-subsidi. “Harga ini berlaku tiga hari setelah pengumuman ini,” kata Sudirman.

Tarif lain yang diturunkan ialah bahan bakar minyak jenis Pertamax yang menjadi Rp9.000 per liter, turun Rp250 dari harga sebelumnya. Kemudian Pertalite turun Rp100 menjadi Rp8.400 per liter. “Adapun premium, karena hitungan Pertamina harus dicapai, belum bisa diturunkan,” ujar Sudirman.

Elpiji 12 kilogram juga diturunkan dari Rp144.000 ke Rp134.000. Soal tarif listrik, Sudirman Said mengatakan, ada tiga insentif yang diberikan pemerintah. Insentif pertama adalah penurunan tarif berdasarkan penyesuaian sebesar 2,6%, kedua adalah diskon 30% bagi pengguna listrik yang memakai beban pada pukul 23.00 hingga 08.00.

“Banyak perusahaan-perusahaan yang bisa dijalankan secara mekanik, jadi andalannya mesin. Kalau mereka menaikkan kemampuan produksi di malam hari, diskon listriknya 30% dari tarif normal,” kata Sudirman.

Diskon 30% akan diberikan pada pengguna listrik yang menggunakan beban pada pukul 23.00 hingga 08.00. Ketiga adalah keringanan bagi perusahaan yang menunggak listrik karena kesulitan cashflow dan rawan pemutusan hubungan kerja.

“Ini jumlahnya besar. Karena itu, PLN memberi kebijakan, dalam setahun mereka hanya diwajibkan membayar 60% dari kewajiban bayar listrik. Sisanya 40% ditunda baru dibayar bulan ke-13,” ujar Sudirman.

Paket kebijakan ekonomi III ini seakan menjawab kritik pengamat dan pengusaha, terkait paket kebijakan ekonomi kedua yang dirilis pemerintah pada 29 September lalu. Paket kebijakan ekonomi II waktu itu berfokus pada penyederhanaan izin, yang dinilai dampaknya baru akan terasa dalam jangka panjang.

Saat itu pengamat menyebut masalah utama yang membebani dunia usaha ialah biaya produksi, termasuk bahan baku impor yang kian mahal karena pelemahan rupiah serta biaya energi lantaran tarif dasar listrik dan elpiji terus naik.

Karena itu, pemerintah didorong untuk menempuh langkah konkret untuk memberikan keringanan pada biaya energi. Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Tekstil, sebanyak 36.000 dari 2,75 juta karyawan tekstil di Indonesia telah di-PHK.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, penurunan ini dalam rangka untuk memangkas biaya perekonomian. Ini juga masih dalam rangka paket perekonomian yang dirilis oleh pemerintah.           Sementara Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto menjelaskan, alasan tak berubahnya harga bensin premium. “Sekarang itu harga kita itu (premium-red) masih di bawah harga keekonomian sekitar 1-2%. Jadi memang kondisinya masih belum masuk di harga keekonomian (masih rugi),” kata Dwi.

Dwi mengatakan, bila tren menguatnya rupiah terus terjadi seperti saat ini menyentuh level Rp13.754 per dolar Amerika Serikat (AS), harga bensin premium bisa turun, tanpa harus menunggu mekanisme per tiga bulan penetapan harga.

“Kita berharap penguatan rupiah terus berlanjut ya, Pertamina dan pemerintah terus melakukan evaluasi masalah harga, sangat memungkinkan harga premium disesuaikan (turun) tanpa harus mengikuti formula per tiga bulan. Karena, manakala negara dalam hal ini membutuhkan stimulus bagi rakyatnya, akan dievaluasi kapan saja,” kata Dwi.

“Karena harga premium yang sekarang, perhitungan kurs-nya rata-rata Rp13.900 per dolar AS,” tutup Dwi.#pit

x

Jangan Lewatkan

Pilgub Sumsel 2018, Posisi PDIP Dan Golkar Kuat

Palembang, BP Peneliti dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Kholil Pasaribu melihat pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan (Sumsel) tahun ...