Home / Headline / Kapolda: Usut Kasus Polisi Pengancam Wartawan ‘BP’!

Kapolda: Usut Kasus Polisi Pengancam Wartawan ‘BP’!

Palembang, BP

PicsArt_1437732159046Kasus intimidasi, pengancaman, dan pelecehan profesi yang dialami Wakil Redaktur Pelaksana Harian BeritaPagi Hasandri Agustiawan (39), yang diduga dilakukan anggota Babinkamtibmas (Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) Polsek Seberang Ulu (SU) I Palembang Aiptu Ibnu Umar, mendapat perhatian dari Kapolda Sumsel Irjen Pol Iza Fadri

Orang nomor satu di lingkungan Polda Sumsel ini menegaskan, kasus ancaman pembunuhan dan penembakan yang dilakukan Aiptu Ibnu Umar akan diproses dan diusut secara tuntas. “Tetap, siapa pun yang bersalah akan ditindak, siapapun orangnya akan diusut tuntas,” tegas Irjen Iza kepada BeritaPagi, Senin (5/10) malam.

Menurut Kapolda, penanganan kasus yang dilengkapi dengan hasil visum dan bukti lain ini bisa dimajukan proses hukumnya. Dia memastikan dalam penanganan kasus ini tidak pandang bulu, termasuk itu menyangkut oknum polisi. “Nanti kalau ada apa-apa kontak saya saja, biar saya koreksi juga di lapangan,” tegas Kapolda.

Pengamat hukum pidana Debi Arianti, SH, mengatakan, tindakan yang dilakukan oknum polisi itu sangat tidak dibenarkan meskipun ada unsur ketidaksengajaan.

“Polisi itu mengayomi masyarakat, sangat hina profesi polisi apabila menindas masyarakat, terlebih melakukan tindakan kekerasan kepada wartawan,” tuturnya.

Pendapat senada diungkap pengamat hukum pidana Syarifuddin Petanase. Menurutnya, untuk penganiayaan memang terbagi menjadi tiga di antaranya penganiayaan ringan, berat, dan mati. Untuk penganiayaan ringan tidak menghalangi pekerjaan sehari-hari, sedangkan penganiayaan berat tidak bisa melakukan pekerjaan sehari-hari, semua itu ditentukan melalui visum. Sedangkan untuk penganiayaan yang dilakukan okkum polisi itu masalah kode etik yang nantinya ke Propam dan penyidik umum.

“Untuk hukumannya sendiri akan diketahui setelah adanya penyelidikan. Saya sangat menyesalkan saja oknum polisi bisa melakukan penganiayaan, bukannya sebagai pengayom masyarakat,” kritiknya.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol R Djarod Padakova menambahkan, pihaknya telah menerima laporan Hasandri terkait pengeroyokan, ancaman akan dibunuh, serta pelecehan profesinya yang dilakukan oknum polisi.

“Benar adanya laporan dugaan tersebut dan saat ini laporannya telah diterima. Kasusnya juga ditangani Polresta Palembang,” ujar Djarod, saat dijumpai di Mapolda Sumsel.

Disinggung mengenai sikap oknum polisi yang mengancam hingga membuat anak dan istri pelapor menjadi trauma atas kejadian tersebut. Menurut Djarod, pembuktian kasus akan dilihat saat persidangan nantinya, jika memang terbukti tentunya terlapor akan diproses.

“Kita lihat proses penyidikan dan penyelidikannya karena ini juga harus dibuktikan terlebih dahulu. Apalagi laporannya kan sudah diterima, jadi tunggu saja prosesnya,” pungkas Djarod.

Kapolsek SU I Kompol Suhardiman ketika dihubungi semalam berjanji tetap memproses kasus tersebut. Dalam kasus ini keluarga Aiptu Ibnu Umar melapor ke Polsek SU I yang menjadi tempat bertugas Aiptu Ibnu Umar. “Saya akan tanya penyidik sudah sejauh mana kasusnya,” ujarnya singkat.

 

Kecam Keras

 

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang mengecam keras aksi pelecehan profesi serta pengancaman terhadap wartawan Hasandri Agustiawan.

“Kami sudah mendengar kabar ini dan ini sudah teror, serta pelecehan profesi terhadap wartawan. Kami mengecam keras kepada oknum aparat ini,” ujar Ketua AJI Palembang Darwin.

Pengecaman AJI Palembang, sambung Darwin, terdapat bahasa yang dilontarkan oknum aparat seperti Hasandri adalah jurnalis abal-abal. Hal tersebut sangat disayangkan, apalagi sampai memaki Hasandri wartawan gadungan, tukang peras dan tidak punya kantor.

“Jadi pelecehan profesi terhadap wartawan, bukan profesi wartawan saja, apa pun profesinya. Jadi, siapa pun orang itu, bahkan oknum aparat sekaligus tak berhak melecehkan atau menghina profesi. Apalagi sampai menghina lembaga di mana tempat bekerja,” tegas Darwin.

Terlepas dari pengancaman dan pelecehan, masih dikatakan Darwin, ini juga sudah termasuk kekerasan, meneror dan intimidasi atas sikap yang dilakukan anak dan istri dari oknum aparat yang melakukan pengeroyokan terhadap wartawan ini.

Atas tindakan tersebut, dikatakan Darwin, AJI Palembang meminta agar lembaga yang berwenang menindak tegas sikap yang telah dilakukan oleh oknum aparat tersebut.

“Besok (hari ini-red) kami juga akan melaporkan ke Dewan Pers, karena di Kota Palembang masih ada bentuk kekerasan yang dialami seorang jurnalis, karena jurnalis ini dilindungi Undang Undang yang diakui Dewan Pers yang dibentuk pemerintah,” pungkas Darwin.

Kecaman serupa dilontarkan Ketua PWI Banyuasin Yan Fauzen. Menurutnya, tindakan oknum polisi beserta keluarganya sungguh di luar batas. Apalagi, pelaku merupakan Babinsa di daerah itu, mestinya menjadi pengayom bukannya malah main hakim sendiri. Bahkan sampai mengancam ingin menembak korban.

“Kami mengutuk keras penganiayaan tersebut, polisi itu dibentuk untuk menjadi pengayom masyarakat. Mereka dipersenjatai guna memberikan keamanan, bukanya malah menakut-nakuti masyarakat,” tegasnya.

PWI Banyuasin mendesak pihak kepolisian segera mengusut kasus ini, apalagi pelaku merupakan oknum aparat hukum. Pihaknya yakin kepolisian tidak pandang bulu menyikapi persoalan ini.#osk/adk/rio/mew

x

Jangan Lewatkan

12 Teroris Berencana Serang Kantor Polisi di Sumsel

Palembang, BP–Sebanyak 12 terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 Antiteror pada Minggu (10/12) lalu masih menjalani pemeriksaan di Mako ...