Home / Sumsel / Dunia Bantu Sumsel Restorasi Lahan Gambut

Dunia Bantu Sumsel Restorasi Lahan Gambut

Palembang, BP
Terbakarnya lahan gambut di wilayah Sumatera Selatan yang semakin parah akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan memengaruhi iklim dunia. Para peneliti dunia mulai bergerak membantu Pemerintah Provinsi Sumsel menyelamatkan lahan gambut.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengatakan, enam institusi dan lembaga dari Inggris serta beberapa negara lainnya, termasuk Zoological Society of London (ZSL), akan mengembangkan ecoregion pertama di dunia, yakni di Sumsel. Salah satu kegiatan yang dilakukannya ialah restorasi dan pelestarian lahan gambut.

“Banyak hal yang akan dilakukan dunia untuk Sumsel. Kami minta itu (restorasi gambut-red) yang didahulukan. Kalau mereka mulai kerja bulan ini, barangkali kita dapat merasakan hasilnya mulai Desember ini hingga ke depannya,” ujarnya, Kamis (1/10).

Tim peneliti dari ZSL akan terjun langsung ke lapangan pada 12 Oktober mendatang untuk segera melakukan pemetaan lahan gambut.

Dikatakan Alex, tercetusnya pembentukan ecoregion ini berasal dari pertemuan dunia Forum High Level Round Table Implementasi Restorasi Lanskap, The Bonn Challenge 2.0 di Kota Bonn, Jerman pada 20-21 Maret lalu. Pada saat itu Gubernur Sumsel memaparkan konsep pelestarian lingkungan di hadapan para petinggi dunia, dan mereka menyepakati mendirikan ecoregion di Sumsel.

“Karena Bonn Challenge itulah Sumsel jadi terkenal. Keadaan kabut asap ini tidak kami sembunyikan, justru ditunjukkan kepada dunia kalau kita butuh bantuan,” ungkapnya.

Direktur Jenderal ZSL Ralph Armond mengatakan, pihaknya datang ke Sumsel untuk melakukan restorasi lahan gambut sekaligus menindaklanjuti pencanangan restorasi Bonn Challenge 2.0 pada Maret 2015 lalu.

Restorasi hutan kritis, Ralph menjelaskan, membutuhkan proses yang cukup panjang dan tidak bisa instan.

“Indonesia, khususnya Sumsel, masih memiliki kawasan yang keanekaragaman hayatinya lengkap. Ekosistem perairan, darat, maupun pegunungan dimiliki Sumsel. Kawasan ecoregion memang akan dibentuk di Sumsel dan dijadikan taman nasional yang harus dilestarikan,” tuturnya.

Pihaknya merupakan NGO pertama yang datang ke Sumsel. Nantinya akan ada NGO lainnya yang konsen di bidang lingkungan lainnya untuk pengembangan ekoregion ini. Seperti instansi IDH asal Belanda yang akan merestorasi ekosistem laut.

“Sumatera Selatan akan menjadi model ecoregion pada jaringan internasional dalam kegiatan restorasi lanskap. Ini adalah implementasi dari Deklarasi New York pada KTT Iklim 2014 (the 2014 Climate Summit) lalu juga. Ini merupakan rencana dunia, dengan Sumsel sebagai tempat pertama yang dijadikan model dan percontohan bagi ekoregion lainnya di dunia,” tuturnya.

Country Manager ZSL Indonesia Andjar Rafiastanto menambahkan, pihaknya akan membangun blok-blok kanal di lahan gambut secara bertahap. Tahap pertama di dua daerah, yakni Kabupaten Musibanyuasin dan Banyuasin.

“Membangun blok kanal agar gambut bisa tetap basah dan tidak terbakar lagi ini membutuhkan waktu yang cukup lama, makanya harus dilakukan mulai dari sekarang,” ujar Andjar.

Andjar pun menjelaskan, keanekaragaman hayati di daerah lahan gambut masih tinggi. Jumlah flora dan fauna di Sumsel pun termasuk yang paling lengkap. Pelestarian lingkungan merupakan satu-satunya cara untuk menjaga hal tersebut.

Hal pertama yang akan dilakukan pihaknya adalah melakukan pemetaan terhadap lahan gambut. Pihaknya pun akan menginventarisir, apakah lahan gambut di Sumsel benar-benar 1,4 juta hektar, atau lebih sedikit maupun lebih luas untuk melengkapi informasi dan data yang dibutuhkan untuk restorasi.

“Program restorasi gambut ini akan dilakukan selama lima tahun kedepan. Saat ini kami sudah mulai perencanaan dan persiapan tapi implementasi di lapangan masih perlu proses,” jelasnya.

Sementara itu, Staf Khusus Gubernur Bidang Perubahan Iklim Dr Najib Asmani mengatakan, langkah ini merupakan hasil dari inisiatif Gubernur Sumsel untuk membangun kemitraan pengelolaan ecoregion satu wilayah.

Nantinya, Pemprov Sumsel akan membentuk lembaga Badan Koordinasi Pengelolaan lanskap yang fungsinya mengelola ecoregion tersebut. Tiga kawasan yang akan dikembangkan dan dilestarikan yakni lahan gambut, kawasan perairan ikan, dan pegunungan.

“Untuk lahan gambut, yakni di Banyuasin, Muba, dan OKI. Perairan ikan di Banyuasin dan OKI, dan untuk kawasan pegununan seperti di Lahat dan Pagaralam,” urainya.

Sementara untuk pembangunan blok kanal, Najib menjelaskan, ada beberapa daerah yang akan dikanalisasi. Seperti di wilayah gambut Muba seluas 1.000 hektar yang sebelumnya miliki HTI, namun dilepaskan dan dijadikan konservasi gambut. #idz

x

Jangan Lewatkan

Lomba Roket Air Di SMANTA

Palembang, BP Pelaksanaan lomba roket air SMA Negeri 3 Unggulan Palembang (SMANTA) berjalan dengan lancar dan sukses, Sabtu (16/12). Ekstrakurikuler ...