Home / Sumsel / Banyuasin / Dijanjikan Kerja di Malaysia, 4 Remaja Putri NTT Disekap di Palembang

Dijanjikan Kerja di Malaysia, 4 Remaja Putri NTT Disekap di Palembang

Palembang, BP
Niat empat remaja putri asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini untuk mengubah nasib bekerja di luar negeri, berakhir tragis.
Jauh dari harapan, Marlan Talaen (16), Maria Goreti (20), Yangger Yamira (16), dan Melda (18) bukannya mendapat upah yang besar, mereka malah disekap dan masuk perangkap  mafia penjualan manusia antar negara.
Tidak sedikit pengorbanan yang mereka lakukan guna meringankan beban orangtua. Seperti yang dialami Melda, harus berjalan kaki selama 3 jam lebih, menyusuri hutan, keluar dari perkampungannya, Desa Naekake A, Kecamatan Mutis, Kabupaten Timor Tengah Utara, yang berbatasan dengan Distrik Oekusi, Republik Demokrat Timor Leste.  “Kita di kampung hidupnya susah. Barang-barang mahal, air juga sulit didapat. Kita ingin mengubah hidup yang lebih baik,” jelasnya saat dibincangi, Senin (28/9).
Namun, tidak banyak pekerjaan yang bisa dipilihnya, karena keterbatasan ekonomi dan jenjang pendidikan yang rendah. “Kita hanya tamatan SD, bisalah kalau baca tulis,” ungkapnya.
Di saat ekonomi keluarga yang semakin sulit, datanglah Paulus dan Buda seolah menjadi penolong. Menawarkan kerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia. “Gajinya cukup besar, 800 ringgit atau sekitar Rp2.800 ribu,” terangnya.
Namun bukan hanya lantaran gaji tersebut dia berani berangkat. Tersangka Paulus dan Maria juga menjamin kalau prosesnya legal dan semua administrasi dia yang mengurus. “Mereka bilang resmi, kalau ternyata ilegal, tentu saja kita tidak akan mau,” tegasnya.
Untuk lebih meyakinkan, tersangka juga memberikan uang Rp1 juta kepada keluarga yang ditinggalkan, sebagai uang pangkal. “Tapi syaratnya harus menandatangani surat izin melepas kita pergi, yang dibuat oleh Paulus,” katanya.
Ternyata belum sempat bekerja dia malah disekap di jalan Panca Karya KM 5 Palembang, Sumatera Selatan, bergabung dengan tiga korban lain Maria, Marlan, dan Yanger.
Seperti yang dijanjikan, tersangka sempat dibuatkan KTP dan paspor palsu yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Palembang.
Kasus ini terbongkar setelah tiga korban, Maria, Yangger, dan Marlan berhasil melarikan diri dari sekapan. Ketika berada di Loket bus KM 11, hendak menuju ke Jambi, mereka melapor ke Pos Polisi Polres Banyuasin di KM 13 Jalan Lintas Timur Sumatera. “Kita masih tinggal di rumah Bu Ely, karena ada paspor yang belum lengkap,” katanya.
Dalam waktu singkat, pihak kepolisian berhasil membekuk dua tersangka, yakni Ely, penyedia rumah tempat korban disekap, dan Yasir Idrus yang menjemput korban di bandara dan mengurus paspor palsu.
Saat ini mereka masih tinggal di Mapolres Banyuasin dalam perlindungan Unit PPA. Sementara dua tersangka telah ditahan di tahanan Mapolres.
Kapolres Banyuasin AKBP Julian Muntaha mengatakan, kasus ini sudah dilimpahkan ke jaksa. Namun masih ada yang perlu dilengkapi. “Kekurangan yang diminta sudah dikirim ke jaksa, tinggal menunggu tindak lanjutnya,” jelas Kapolres.
Selain dua tersangka itu, pihak Kapla NTT juga menangkap dua tersangka Ab yang sering dipanggil Bunda dan CH. “Untuk tersangka Paulus masih dalam pengejaran,” katanya.
Terkait keterlibatan pihak Imigrasi, untuk saat ini masih sebatas saksi. “Tapi kasus ini masih terus kami kembangkan,” katanya. #mew
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Sesjen MPR: GBHN Memperbaiki Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

Jakarta, BP–Sekretaris Jenderal MPR RI Ma’ruf Cahyono menegaskan,  untuk memperbaiki sistem perencanaan pembangunan nasional  keberadaan haluan negara sangat penting. Sebab, ...