Home / Sumsel / Hewan Kurban Disembelih di Rumah Pemotongan Hewan

Hewan Kurban Disembelih di Rumah Pemotongan Hewan

Oleh MAYA SUSANTI – Skotlandia

SAMSUNG CSC

Maya Susanti di depan Masjid Utama Glasgow.

SAMSUNG CSC

Jemaah wanita di lantai dua Masjid Utama Glasgow.

AISYAH, seorang mahasiswa City College of Glasgow asal Somalia  yang baru menetap sekitar dua bulan di Glasgow, menyatakan dirinya cukup kaget dengan adanya tiga gelombang shalat Ied di Glasgow. “Pertama saya tahu bahwa ada tiga gelombang shalat, saya cukup kaget karena biasanya shalat Ied hanya sekali. Tapi itu artinya saya bisa mengikuti shalat pukul 09:30, sehingga tidak perlu terburu-buru ke masjid. Rumah kami cukup jauh dari sini,” ujar Aisyah yang melaksanakan shalat Ied bersama keluarganya. Aisyah juga beranggapan, adanya gelombang shalat mungkin disebabkan Islam adalah salah satu agama minoritas di Glasgow.

Meski kesetaraan dan kebebasan dalam bribadah telah dijamin dalam The UK Government’s Equality Act yang disetujui per April 2010, Aisyah bercerita bahwa ia cukup merasa kesulitan dalam pergaulan lantaran menjadi minoritas. “Agak aneh rasanya melihat orang-orang nampak heran melihat saya menggunakan hijab dan melintas di depan mereka. Tapi perasaan itu sirna saat bertemu dengan saudari muslim di tengah jalan dan saling melempar senyum,” tutur Aisyah.

Aisyah, saya, dan jamaah yang melaksanakan shalat Ied di masjid ini mungkin merasakan hal yang sama, menjalani hari sebagai minoritas, kebalikan dari hal yang selama ini kami jalani sebagai mayoritas di negara masing-masing. Tapi kondisi ini tidak mengurangi makna Idul Adha kali ini. Saya berpamitan dengan Aisyah dan beranjak menuju halaman masjid, penasaran sebanyak apa hewan kurban yang akan disembelih hari ini.

Begitu tiba di halaman utama masjid, saya tidak melihat satu pun hewan kurban, baik sapi, kambing, maupun domba. Yang ada hanya orang-orang yang bergegas masuk masjid untuk menjalankan ibadah shalat Ied gelombang selanjutnya. Saya bertemu dengan Ramdhan, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Glasgow yang tampaknya akan mengikuti shalat gelombang selanjutnya. Penasaran, saya pun bertanya perihal hewan kurban. Ramdhan pun bercerita, “Di sini, semua hewan kurban diserahkan ke rumah pemotongan hewan yang letaknya relatif jauh dari pemukiman dan pusat kota. Pendistribusiannya pun sudah diatur sedemikian rupa, bahkan kabarnya juga disalurkan kepada saudara muslim di negara-negara Afrika.” Ramdhan juga menambahkan, suasana shalat Ied selalu ramai, tapi suasananya jelas berbeda dengan di Indonesia. Untuk khotbahnya pun, selain menggunakan bahasa Arab, juga dilakukan dalam bahasa Urdu untuk jamaah Pakistan dan India, serta bahasa Inggris untuk jamaah lainnya.

Penjelasan dari Ramdhan cukup informatif bagi saya yang baru tiba di Glasgow dua pekan lalu. Merayakan Idul Adha di wilayah Ratu Elizabeth II ini adalah pengalaman pertama bagi saya. Berada 11.471 km dengan 14 jam penerbangan dari Palembang tidak membuat makna perayaan Idul Adha berkurang sedikit pun– meskipun jelas tak ada opor ayam dan pempek. Saatnya kembali beraktivitas dan menikmati dinginnya musim gugur di Glasgow. Eid Mubarak! #

x

Jangan Lewatkan

Driver Taksi Online Demo Bandara SMB II Palembang, Akhirnya Disepakati Point Kesepakatan

Palembang, BP Jalan masuk menuju bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Jumat (19/1) sore macet total lantaran adanya aksi ...