Home / Palembang / Bantah Revitalisasi Pasar di Palembang Mandek

Bantah Revitalisasi Pasar di Palembang Mandek

Palembang, BP
Menuai protes warga, hingga kontroversi terhadap pembangunan revitalisasi Pasar 10 Ulu, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Palembang membantah proses revitalisasi pasar-pasar lain di Kota Palembang mandek di Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Ketika itu, Menteri Perdagangan yang masih dijabat Racmat Gobel meresmikan Pasar 10 Ulu dibuat meradang dengan ulah pedagang yang tidak puas dengan pembangunan. Bahkan sejumlah pedagang mengamuk saat peresmian pasar. Sejumlah pedagang bahkan disinyalir tidak puas karena tidak terdata dengan jelas oleh pihak pasar selaku pengelola.

“Tidak mandek, memang tahun ini masih dalam proses pengajuan untuk pasar-pasar lain yang sudah layak untuk direvitalisasi,” kata Kepala Disperindagkop Palembang, Syahrul Hefni ditanya perkembagnan realisasi revitalisasi pasar yang tak kunjung ada pertanda akan dibangun, baru-baru ini.

Menurut dia, Kemendag tidak kecewa dengan revitalisasi Pasar 10 Ulu, sehingga tidak ada yang perlu dipertimbangkan, sebab saat itu semua pedagang ingin masuk ke pasar yang baru. Pengelola pasar sendiri tidak bisa memasukan semua pedagang, sehingga menuai protes yang berlebihan.

“Revitalisasi ini sudah mendesak, karena lebih dari 50 pesen kondisi pasar tradisional di Kota Palembang sudah layak untuk direvitalisasi,” kata Syahrul.

Dari yang diutarakan Syahrul, beban yang ada di pundak Pemerintah Kota (Pemko) Palembang cukup sulit, sebab 2019 mendatang ditargetkan 20 pasar tradisional yang akan direvitalisasi. Namun, hingga saat ini baru satu pasar yang direvitalisasi.

Untuk merevitalisasi dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Palembang dana yang dimiliki tidak cukup. Bahkan, target retribusi pasar tidak dapat menembus target, sehingga tidak bisa digunakan untuk melakukan proses rehab pasar.

Upaya Build Operate and Transfer (BOT) Pasar 16 dan Pasar Kuto pun tidak berjalan mulus, bahkan menuai banyak permasalahan yang hingga kini terus berlanjut dan tidak kunjung selesai.

“Pasar-pasar tua ini memang sudah layak direvitalisasi, namun dananya harus dari pusat, karena APBD tidak cukup untuk membangun,” katanya.

Dijelaskan, revitalisasi yang diajukan menggunakan dana pusat setelah Pasar 10 Ulu adalah pasar Alang-Alang Lebar (AAL). Namun, masalahnya adalah keterlambatan penyerahan Detailed Engineering Designed (DED) untuk revitalisasi, sehinga rencana revitalisasi tersebut masih belum dapat direalisasikan.

Dia mengatakan, setiap tahun bisa merevitalisasi dua pasar tradisional yang ada di Palembang. Namun, tahun ini masih belum bisa dipastikan apakah revitalisasi lagi atau belum. Terkaitpermasalahan pelik tetang pasar, Syahrul mencontohkan rencana untuk merevitalisasi pasar 26 Ilir juga terkendala sempitnya lahan yang dimiliki Pemko Palembang dan lebih banyak bangunan ruko milik warga.

“Selama revitalisasi itu mau dipindahkan ke mana pedagang pasar 26 Ilir tersebut, kita juga akan kesulitan membebaskan lahan milik pribadi warga. Karena di sana justru lebih banyak pasar tumbuh, ketimbang pasar 26 yang sebenarnya,” terangnya.

Syahrul menyebutkan seluruh pasar di Palembang tetap membutuhkan revitalisasi segera. Beberapa pasar yang kondisinya sudah sangat tidak layak, di antaranya pasar Gandus, pasar Kebon Semai, serta pasar di Tangga Buntung. #ren

x

Jangan Lewatkan

Ratusan Koperasi Tinggal Papan Nama

Palembang, BP — Pertumbuhan koperasi di Kota Palembang terbilang cukup signifikan terutama yang dibentuk oleh masyarakat. Dari total 1082 hampir setengahnya ...