Home / Headline / Kabut Asap Semakin Tebal, Hotspot di Muba Naik Lagi

Kabut Asap Semakin Tebal, Hotspot di Muba Naik Lagi

Sekayu, BP
kebakaran lahanJika sebelumnya Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mengklaim bahwa titik api atau hotspot yang ada di Muba sejak Rabu (16/9) mengalami penurunan, pada hari  Sabtu ini, titik hotspot di Muba kembali meningkat. Pantauan di lapangan, kondisi kabut asap sangat pekat, sejak pagi hingga pukul 16.00 jarak pandang pada pagi hari hanya 50 meter. Selain itu, bau asap menyengat di hidung disertai kondisi udara  panas  terasa kering. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muba Drs Syafarudin, titik hotspot yang terdeksi oleh satelit  dari semalam hingga siang ini sebanyak 96 titik. “Berdasarkan pantuan satelit, titik hotspot di Muba dari semalam hingga siang ini yaitu ada 96 titik,” tegasnya  Sabtu (19/9).  Dia mengungkapkan  kondisi titik hotspot tidak bisa dipastikan bahwa selalu pada posisi zero. Karena sifatnya fluktuatif, karena kondisi titik hotspot sewaktu-waktu bisa berubah. “Sifatnya fluktuatif, sehingga memag sulit untuk bertahan lama pada level zero,” kata Syafar. Menurutnya perubahan arah angin, dan pola-pola yang dipakai oleh masyarakat yang membuka lahan. Ikut memengaruhi kondisi di lapangan. Sehingga pantauan terhadap titik api selalu berubah setiap lima menit. “Kondisi tidak bisa dipastikan selalu normal, karena tim gabungan masih terus berusaha,” katanya.

Titik hotspot saat ini yaitu; Kecamatan Bayung Lencir 18 titik, Kecamatan Keluang tiga titik, Kecammatan Lais 13 titik, Kecamatan Sanga Desa sembilan titik, Kecamatan Lawang Wetan satu  titik, Kecamatan Tungkal Jaya tujuh titik. “Data yang kita peroleh pada jam 14.00 yang lalu. Kondisi titik hotspot, sedikit bertambah,” katanya.

Sebelumnya, Komandan Distrik Militer (Dandim) 0401 Muba, Letkol Inf Ignatius Wiwoho, permasalahan yang kini tengah dihadapi oleh anggotanya dan tim gabungan adalah mulai menipisnya persediaan air untuk memadamkan sumber api. Juga luasnya radius jangkauan pemadaman yang dilakukan oleh tim.”Pemadaman yang dilaksanakan sudah cukup maksimal, selama enam hari terakhir. Alhasil titik api yang di Kecamatan Bayung Lencir, mengalami penurunan. Tetapi saat ini, kami mengalami kendala yaitu mulai menipisnya cadangan air dilapangan dan jarak jangkuan yang luas juga jauh,” katanya. Menurut Ignatus bahwa, sumber-sumber air yang ada dilapangan untuk dipergunakan memadamkan api sudah mulai menipis. Sehingga pihaknya cukup kesulitan. “Sumber air dilapangan, diperoleh dari parit-parit yang ada disekitar perusahaan. Sehingga dirinya merasa perlunya bantuan dari pihak-pihak yang memiliki persediaan air,” katanya.  Dia mengungkapkan, Jarak radius sumber api yang paling jauh yaitu mencapai 30-50 km, sedangkan yang terdekat yaitu 5 km. Sedangkan kemampuan dan peralatan yang dimiliki oleh tim, hanya mampu menjangkau jarak terjauh sekitar 10-30 km saja. “Kemampuan kita hanya titik api yang ada pada radius hingga 30 km. Selebihnya kita belum bisa karena peralatan yang tidak mendukung untuk menjangkaunya,” katanya. Sembari menambahkan jika radius yang telah melebihi 30 km, maka dibantu oleh satu heli K15 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang memang selalu siap jika dibutuhkan untuk melakukan pengebomann air dari atas. “Satu helikopter miliki BNPB memag disiagakan pada  PT. Sinar Hitani Persada. Jika tim tidak mampu menjangkau keberadaan titik api maka helikopter langsung berangkat untuk memadamkan api dengan dari atas,” bebernya.#arf

x

Jangan Lewatkan

Ketika Ibu-Ibu Datangi Kantor Kejati Sumsel, Soroti Tender Proyek LPSE

Palembang, BP Puluhan orang yang tergabung dalam Masyarakat Miskin Kota (MMK) Sumatera Selatan (Sumsel) yang kebanyakan ibu-ibu yang berprofesi sebagai ...