Home / Headline / Pemprov Gelar Shalat Istisqa

Pemprov Gelar Shalat Istisqa

  • Hujan Turun di Muaraenim dan OKU
  • Penderita ISPA Belum Naik SignifikanPalembang, BP
    Shalat Istiqoh kantor Gubernur1Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar shalat minta turun hujan (istisqa) di halaman Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (15/9). Ratusan PNS dan pegawai yang berasal dari SKPD lingkungan pemprov bermunajat agar hujan dapat segera mengguyur di wilayah Sumsel turun di bumi sriwijaya ini.Shalat istisqa dipimpin langsung oleh Imam Besar Masjid Agung Palembang KH Nawawi Dencik dengan H Abdul Rahman Ramli sebagai pengkhutbah. Sekretaris Daerah Sumsel Mukti Sulaiman, yang turut menjadi makmum salat istisqa mengatakan, pihaknya menggelar shalat ini dengan harapan hujan cepat turun serta mengurangi kabut asap yang melanda.

    “Kita sudah banyak melakukan upaya untuk memadamkan titik api. Mulai dari waterbombing oleh empat heli bantuan dari BNPB, bekerjasama dengan pihak TNI, kepolisian, serta instansi terkait lainnya yang berusaha keras memadamkan api serta penanggulangan hukum para pembakar,” tuturnya.

    Seluruh upaya terus dilakukan untuk meminimalisir kabut asap sehingga udara di Palembang dan wilayah lain yang terkena dampak kabut asap dapat kembali segar. Kendala dalam memadamkan api karena sumber air yang sedikit dan jauh dari lokasi serta lokasi kebakaran yang sulit dijangkau

    Pemprov pun telah mengeluarkan instruksi atau surat edaran Gubernur untuk menyiagakan rumah sakit dan Puskesmas untuk dapat buka 24 jam.

    Kasi Penyakit Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Martin mengatakan, pihaknya telah meneruskan surat edaran tersebut kepada seluruh puskesmas dan rumah sakit di setiap kabupaten/kota untuk menjalankan instruksi tersebut.

    Pihaknya pun meminta untuk Puskesmas dan Rumah sakit ini siaga menolong masyarakat terutama yang mengalami keluhan ISPA akibat kabut asap.

    “Kita juga telah mengirimkan masker ke setiap kabupaten/ kota serta obat- obat pun kita siagakan,” ujarnya.

    Kasi Penyakit Penular Mulyono mengatakan, penemuan kasus ISPA pada bulan Agustus dan September 2015 lebih sedikit daripada tahun lalu. Per Agustus, ditemukan 12.477 kasus di seluruh Sumsel. Sementara per 15 September 2015, hanya 7.670.

    “September ini masih dipertengahan, belum selesai seluruhnya. Namun dibandingkan dengan Agustus 2014 dengan jumlah temuan 33.542 kasus dan September 2014 dengan 56.467, kondisi sekarang jauh lebih baik,” ujarnya.

    Kesiagaan Pemperov Sumsel dalam menanggulangi kabut asap tahun ini pun lebih baik daripada tahun lalu. Seperti surat edaran Kepala Dinkes Sumsel perihal antisipasi dampak buruk musim kemarau dan kabut asap terhadap kesehatan sudah diterbitkan sejak 8 Juli lalu.

    “Kita pun telah menyebarkan surat edaran kewaspadaan penyakit ISPA per 27 Agustus ke seluruh puskesmas dan rumah sakit se-Sumsel. Data penemuan diperbarui setiap hari oleh karena itu, kita akan mengetahui apabila ada lonjakan penderita dan bisa mengantisipasinya segera,” jelas Mulyono.

    Berdasarkan laporan pasukan TNI AD yang berada di garis depan untuk memadamkan api, Kasiops Korem 044/ Gapo Letkol Inf Wahyu Hadi Soenaryo mengatakan, Kabupaten Muaraenim diguyur hujan deras pada pukul 20.00 Senin, (14/9) sekitar 20 menit. Kecamatan Tanjung Enim dan Semendo pun mengalami hujan gerimis. Kecamatan Ulu Ogan Kabupaten OKU pun mengalami hujan.

    “Pasukan terdepan kami akan selalu melaporkan temuan-temuan di garis depan kepada tim satgas yang berada di lini belakang. Ini untuk meningkatkan koordinasi dan juga mempercepat pengambilan keputusan,” ujarnya.

    Sementara itu, Lembaga Sosial Masyarakat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel beserta beberapa organisasi mahasiswa dan aktivitis menggelar aksi demonstrasi ke kantor Gubernur Sumsel guna menuntut penyelesaian kasus bencana asap.

    Walhi mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera mengambil langkah-langkah dan tindakan startegis, supaya darurat bencana asap di Sumsel segera berhenti dan asap tak lagi menjadi musibah tahunan.

    Ketua Koordinator aksi Capunk mengatakan, bencana kabut asap setiap tahun terjadi karena perusahaan perkebunan diberikan izin menggarap lahan gambut. Pahadal keberadaan lahan gambut, kata Capunk, merupakan lahan yang genting, penting dan unik karena memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan ekologis.

    Humas Walhi Sumsel, Sobri menambahkan pemerintah juga harus berhenti untuk selalu mengkambinghitamkan masyarakat lokal atas kebakaran ini. Karana itu, dia ingin pemerintah melakukan review perizinan dan moratorium izin-izin baru terutama di kawasan lahan gambut.

    “Lahan gambut sudah seharusnya dibangun sistem sekat kanal, agar gambut tetap basah. Di tengah kondisi asap saat ini masyarakat juga membutuhkan informasi setiap saat dan sebenar-benarnya terkait Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU),” imbuhnya.

    Berdasarkan pantauan satelit Aqua/Terra Modis, sebaran hotspot per 14 September pukul 07.00 sebanyak 51 titik api. Sebanyak tujuh titik di Musi Banyuasin, dan 44 titik api Ogan Komering Ilir. #idz

x

Jangan Lewatkan

Dana Bantuan 11 Parpol Di Sumsel Tahun 2017 Capai Rp 2.030.811.552

Palembang, BP Hingga saat ini Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumsel belum menerima secara resmi petunjuk pelaksanaan (juklak) ...